Mari kita lihat pendapat al Imam as Suyuthi mengenai hal ini dalam kitab beliau al amru bil ittiba’ wan nahyu ‘anil ibtida’

 

Di bawah bab “ Berduaan dengan wanita asing (bukan mahram) dan menemani mereka adalah termasuk perbuatan bid’ah yang memungkinkan untuk menghantarkan kepada kebinasaan” beliau menjelaskan :

 

Termasuk di antara jenis yang pertama (yaitu jenis bid’ah yang tercela yang sudah ma’ruf / dikenal luas baik oleh orang alim maupun orang awam) yaitu apa yang terjadi pada sekelompok orang-orang bodoh dari kalangan orang awam yang menentang syari’at Islam, yang mana mereka tidak meneladani para imam agama (yaitu para ulama). Yakni apa yang diperbuat oleh segolongan orang yang berafiliasi kepada kefakiran, yang pada hakikatnya mereka adalah fakir/ miskin imannya, yaitu orang-orang yang memiliki hubungan dengan para wanita yang bukan mahromnya serta berdua-duaan dengan mereka. Perbuatan tersebut adalah haram berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, orang yang menghalalkan (memperbolehkan) nya adalah kafir, pelakunya apabila disertai dengan sikap meremehkan maka dia telah bermaksiat, tersesat dan menyesatkan, keluar dari agama, dan memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin. Semoga Allah menjauhkannya (dari rahmatNya). Sesungguhnya memandang wanita ajnabiy (asing/ yang bukan mahram), berdua-duaan dengan mereka serta mendengarkan perkataan mereka, hukumnya haram atas setiap orang yang sudah baligh selain mereka yang masih mahramnya. Keharaman ini berdasarkan al Kitab (al Quran), as sunnah dan kesepakatan ummat. Dalam hal ini tidak ada ruang untuk menyelidiki dalil-dalilnya, akan tetapi cukup dengan menjelaskan dalilnya, bid’ahnya serta memperingatkan darinya. Hal tersebut tidaklah tersembunyi bagi setiap muslim.

 

— selesai perkataan imam as Suyuthi—

 

Catatan :

  1. Berdasarkan penjelasan di atas, pendapat yang memperbolehkan/ menghalalkan “pacaran” adalah pendapat yang batil bahkan termasuk pendapat kufur. Pacaran di sini adalah bentuk-bentuk pacaran yang sudah dikenal oleh masyarakat kita pada masa kini.
  2. Pelaku pacaran berarti telah bermaksiat kepada Allah, tersesat, bahkan dapat terjerumus kepada kekufuran apabila disertai dengan sikap meremehkan syari’at.
  3. Terjatuh kepada kekufuran di sini apabila hukum permasalahan tersebut sudah dikenal luas oleh orang-orang awam terlebih lagi oleh orang alimnya.

Semoga Allah Ta’ala yang maha Pengasih dan Pengampun mengampuni dosa-dosa kita, akibat kebodohan dan keteledoran kita terhadap syari’at Islam.

 

Wallohu a’lam

 

About these ads

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s