HAK ISTERI YANG HARUS DIPENUHI SUAMI (1)
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ketika jenjang pernikahan sudah dilewati, maka suami dan isteri haruslah
saling memahami kewajiban-kewajiban dan hak-haknya agar tercapai
keseimbangan dan keserasian dalam membina rumah tangga yang harmonis.

Di antara kewajiban-kewajiban dan hak-hak tersebut adalah seperti yang
tersurat dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Shahabat
Mu’awiyah bin Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi radhiyallaahu ‘anhu
bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya?”
Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan,
2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau ber-pakaian,
3. Janganlah engkau memukul wajahnya,
4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan
5. Janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan
berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).” [1]

[1]. ENGKAU MEMBERINYA MAKAN APABILA ENGKAU MAKAN
Memberi makan merupakan istilah lain dari memberi nafkah. Memberi nafkah ini
telah diwajibkan ketika sang suami akan melaksanakan ‘aqad nikah, yaitu
dalam bentuk mahar, seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an, surat al-Baqarah
ayat 233.

Allah berfirman

“Artinya : …Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan
cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.”
[Al-Baqarah : 233]

Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah
kepada isterinya selama masih dalam masa ‘iddahnya dan nafkah untuk mengurus
anak-anaknya. Barangsiapa yang hidupnya pas-pasan, dia wajib memberikan
nafkah menurut kemampuannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Artinya : …Dan orang yang terbatas rizkinya, hendaklah memberi nafkah
dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang
melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak
akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” [Ath-Thalaq : 7]

Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban seseorang untuk memberikan nafkah,
meskipun ia dalam keadaan serba kekurangan, tentunya hal ini disesuaikan
dengan kadar rizki yang telah Allah berikan kepada dirinya.

Berdasarkan ayat ini pula, memberikan nafkah kepada isteri hukumnya adalah
wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan
dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain serta tidak boleh
minta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada isteri dan
anaknya. Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami harus memiliki usaha dan
bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuannya.

Perbuatan meminta-minta menurut Islam adalah perbuatan yang sangat hina dan
tercela. Burung saja, yang diciptakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tidak
sesempurna manusia yang dilengkapi dengan kemampuan berpikir dan tenaga yang
jauh lebih besar, tidak pernah meminta-minta dalam mencari makan dan
memenuhi kebutuhannya. Dia terbang pada pagi hari dalam keadaan perutnya
kosong, dan kembali ke sarangnya pada sore hari dengan perut yang telah
kenyang. Demikianlah yang dilakukannya setiap hari, meski hanya berbekal
dengan sayap dan paruhnya.

Dalam mencari rizki, seseorang hendaknya berikhtiar (usaha) terlebih dahulu,
kemudian bertawakkal (menggantungkan harapan) hanya kepada Allah,
sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan
sungguh-sungguh, maka sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allah
sebagaimana Dia memberikan kepada burung. Pagi hari burung itu keluar dalam
keadaan kosong perutnya, kemudian pulang di sore hari dalam keadaan
kenyang.” [2]

Seorang suami juga harus memperhatikan rizki-rizki yang halal dan thayyibah,
untuk diberikan kepada isteri dan anaknya. Bukan dengan cara-cara yang
tercela dan dilarang oleh syari’at Islam yang mulia. Sesungguhnya Allah
‘Azza wa Jalla tidak akan menerima dari sesuatu yang haram. Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang
Dia perintahkan kepada para Rasul. Maka, Allah berfirman: ’Hai Rasul-Rasul,
makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.”
[Al-Mukminuun : 51]

Dan Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang
baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.” [Al-Baqarah : 172]

Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang
lama bepergian; rambutnya kusut; berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya
ke langit, ‘Yaa Rabb-ku, yaa Rabb-ku,’ padahal makanannya haram, minumannya
haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana
do’anya akan dikabulkan?” [3]

Nafkah yang diberikan sang suami kepada isterinya, lebih besar nilainya di
sisi Allah ‘Azza wa Jalla dibandingkan dengan harta yang diinfaqkan
(meskipun) di jalan Allah ‘Azza wa Jalla atau diinfaqkan kepada orang miskin
atau untuk memerdekakan seorang hamba.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau
infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan
untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka
yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada
keluargamu.” [4]

Setiap yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada isterinya akan diberikan
ganjaran oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : …Dan sesungguhnya, tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan
niat untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala dengannya
sampai apa yang engkau berikan ke mulut isterimu akan mendapat ganjaran.”
[5]

Seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya,
maka ia berdosa. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang
yang wajib ia beri makan (nafkah).” [6]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid
bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II
Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2142), Ibnu Majah (no.
1850), Ahmad (IV/447, V/3, 5), Ibnu Hibban (no. 1286, al-Mawaarid),
al-Baihaqi (VII/295, 305, 466-467), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah
(IX/159-160), dan an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 289) dan dalam
Tafsiir an-Nasa’i (no. 124). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan
disetujui oleh adz-Dzahabi.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2344), Ahmad (I/30),
Ibnu Majah (no. 4164), at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
Dishahihkan juga oleh al-Hakim (IV/318), dari ‘Umar bin al-Khaththab
radhiyallaahu ‘anhu.
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1015), at-Tirmidzi (no.
2989), Ahmad (II/328) dan ad-Darimi (II/300), dari Shahabat Abu Hurairah
radhiyallaahu ‘anhu.
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 995), dari Shahabat Abu
Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1295) dan Muslim (no.
1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu.
[6]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1692), dari Shahabat
‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh
al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (V/376, no. 1485).

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s