Oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah
Sumber : Majalah AlFurqon.

Ittiba’ (mengikuti) kebenaran adalah kewajiban setiap manusia sebagaimana
Alloh wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba’ kepada wahyu yang
diturunkan oleh Alloh kepada Rasul-Nya. Alloh jadikan wahyu tersebut sebagai
petunjuk bagi manusia di dalam kehidupannya.
Tidak ada yang membangkang kepada perintah Alloh tersebut kecuali
orang-orang yang taqlid kepada nenek moyangnya atau kebiasaan yang berlaku
di sekelilingnya atau hawa nafsunya yang mengajak untuk membangkang dari
perintah AlIoh. Mereka tolak datangnya kebenaran karena taqlid.

Tidak ada satu pun kesesatan kecuali disebabkan taqlid kepada kebatilan yang
diperindah oleh iblis sehingga tampak sebagai kebenaran. Inilah sebab
kesesatan setiap kaum para rasul yang menolak dakwah para rasul. IniIah
sebab kesesatan orang-orang Nashara yang taqlid kepada pendeta-pendeta dan
rahib-rahib mereka. Inilah sebab kesesatan setiap kelompok ahli bid’ah yang
taqlid kepada pemikiran-pemikiran sesat dan gembong-gembong mereka.

Para pengikut kesesatan ini menggunakan segala cara untuk mempertahankan
kesesatan mereka sekaligus mengajak orang-orang selain mereka kepada jalan
mereka. Mereka sebarkan syubhat bahwa orang yang ittiba’ kepada manhaj para
ulama adalah taqlid kepada ulama. Mereka campur adukkan antara taqlid dan
ittiba’.

Jika mereka diseru untuk meninggalkan taqlid kepada pemikiran para pemimpin
kesesatan mereka, mereka balik membantah, “Wahai para Salafiyyun kalian juga
taqlid kepada para ulama kalian!”

Inilah jalan setiap pemilik kesesatan dari masa ke masa, mereka gabungkan
antara kebatilan dengan kebenaran, mereka kaburkan garis pemisah antara
keduanya.
Dengan memhon Taufiq dari Alloh pada pembahasan kali ini kami ketengahkan
kepada pembaca beberapa perbedaan yang mendasar antara taqlid dan ittiba’
agar kita bisa memahaminya dengan benar, dan sekaligus—bi’idznillah—bisa
menepis syubhat para pemilik kebatilan dalam masalah ini.

Definisi Taqlid :

Taqlid secara bahasa adalah meletakkan (kalung) ke leher. Dipakai juga
dalam hal menyerahkan perkara kepada seseorang seakan-. akan perkara
tersebut diletakkan di lehernya seperti kalung (Lisanul Arab 3/367 dan
Mudzakkirah Ushul Fiqh hal.3 14).

Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada
hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad
(Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178).

Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain
tanpa mengetahui dalilnya. (Mudzakkirah Ushul Fiqh hal.3 14).

Celaan Terhadap Taqlid
Alloh Subhanahu wa ta’ala telah mencela taqlid dalam Kitab-Nya, Alloh
berfirman :
“ Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb
selain Allah. (QS.AtTaubah:3 1)

Ketika Adi bin Hatim mendengar Rasulullah membaca ayat Ini maka dia
mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami dulu tidak menjadikan mereka sebagai
rabb rabb.” Rasulullah bersabda, “Ya, Bukankah jika mereka halalkan kepada
kalian apa yang diharamkan atas kalian maka kalian juga menghalalkannya, dan
jika mereka haramkan apa yang dihalalkan atas kalian maka kalianjuga
mengharamkannya?” Adi berkata, “Ya.” Rasulullah bersabda, “ltulah
peribadatan kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’ nya 3095
dan BaihaqidalamSunanKubra 10/116 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam
Ghayatul Maram hal.20)

Alloh berfirman:

“ Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi
peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di
negeri itu berkata:
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan
sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Rasul itu) berkata:
‘Apakah (kamu akan mengikutinyajuga) sekalipun aku membawa untukmu (agama)
yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati
bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari
agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” (QS.Az-Zukhruf:23-24)

Al-Imam lbnu Abdil Barr berkata, “Karena mereka taqlid kepada bapak-bapak
mereka maka mereka tidak mau mengikuti petunjuk para Rasul.” (Jami’ Bayanil
Ilmi wa Ahlihi 2/977).

Alloh menyifati orang-orang yang taqlid dengan firman-Nya: Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah
orang-arang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.
(QS.Al-Anfal:22)
Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dan orang-orang yang
mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara
mereka terputus sama sekali. (QS.Al-Baqarah: 166)

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Para ulama berargumen dengan ayat-ayat mi
untuk membatalkan taqlid.” (jami’ Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/978).

Wajibnya Ittiba’
Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa
yang dia lakukan. (I’Iamul Muwaqqi’in 2/ 171).
Seorang muslim wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau
lakukan. Begitu banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan setiap muslim agar
selalu ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di antaranya
firman Alloh:

“ Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS.Ali lmran:32)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya
dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
(QS.Al-Hujurat: I).

Hal orang-arang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) , dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah Ia kepoda Allah (AlQur ‘an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(QS.AnNisa’:59).
,
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintal Alloh, ikutilah aku, niscaya
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. “Alloh Maha Pengampun lagi Maha
Penya yang. (QS.Ali lmran:31)

Rasulullah bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya seandainya Musa hidup maka tidak boleh
baginya kecuali mengikutiku. (Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dalam
Mushannafnya
6/Fl 3, lbnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 9/47, Ahmad dalam Musnadnya
3/387, dan lbnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani
berkata dalam
Irwa’ 6/34, “Hasan.”) .

Syaikh Al-Albani berkata,
“Jika Musa Kalimullah tidak boleh ittiba’ kecuali kepada Rasulullah
bagaimana dengan yang lainnya? Hadits ini merupakan dalil yang qath‘i atas
wajibnya mengesakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hal ittiba’,
dan ini merupakan konsekuensi syahadat
, karena itulah Alloh sebutkan dalam ayat di atas (QS.Ali lmran:31) bahwa
ittiba’ kepada Rasulullah bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan
Alloh kepadanya.” (Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal.5-6) .

Demikian juga Alloh memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ kepada sabilil
mukminin yaitu jalan para sahabat Rasulullah dan mengancam dengan hukuman
yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya:
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan Ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan Ia ke dalam
jahanam, dan jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.
(QS.An-Nisa’: 115).

Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “ittiba’ adalah jika engkau mengikuti
perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid
adalah jika
engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi
dan makna perkataannya.”

Pengertian lain dari ittiba’ adalah jika engkau mengikuti suatu perkataan
seseorang yang nampak bagimu keshahihannya sebagaimana dikatakan oleh AlImam
lbnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami’ Bayanil ilmi wa Ahlihi 2/787.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah mendebat seorang pun kecuali
aku katakan: Ya Alloh jalankan kebenaran pada hati dan lisannya, jika
kebenaran bersamaku maka dia ittiba’ kepadaku dan jika kebenaran bersamanya
maka aku ittiba’ padanya.” (Qawa’idul Ahkam fi Mashalihil Anam oleh Al-’Izz
bin Abdis Salam 2/I 36).

Taqlid Bukanlah Ittiba’

Al-Imam lbnu Abdil Barr berkata, “Taqlid menurut para ulama bukan ittiba’,
karena ittiba’ adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak
bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid adalah jika engkau mengikuti
perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dan makna
perkataannya.” (Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/787).

Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad berkata, “Taqlid maknanya dalam syari ‘at
adalah merujuk kepada suatu perkataan yang tidak ada argumennya, ini adalah
dilarang dalam syari’at, adapun ittiba maka adalah yang kokoh argumennya.”

Beliau juga berkata, “Setiap orang yang engkau ikuti perkataannya tanpa ada
dalil yang mewajibkanmu untuk mengikutinya maka engkau telah taqlid
kepadanya, dan taqlid dalam agama tidak shahih. Setiap orang yang dalil
mewajibkanmu untuk mengikuti perkataannya maka engkau ittiba’ kepadanya.

Ittiba’ dalam agama dibolehkan dan taqlid dilarang.” (Dinukil oleh Ibnu
Abdil Barr dalam kmtabnya Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 21993).

Para Imam Melarang Taqlid dan Mewajibkan Ittiba’ .

Diantara hal lain yang menunjukkan perbedaan yang mendasar antara taq lid
dan ittiba’ adalah larangan para imam kepada para pengikutnya dan taqlid dan
perintah mereka kepada para pengikutnya agar selalu ittiba’: Al-Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak halal atas seorangpun mengambil
perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya.” Dalam
riwayat lain
beliau berkata, “Orang yang tidak tahu dalilku, haram atasnya berfatwa
dengan perkataanku.” (Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru
Raiq 6/293 dan Sya’ rany dalamAl-Mizan 1/55).

Al-Imam Malik berkata :
“Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah
pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan
setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ 2/32).

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , ittiba’lah kepadanya, janganlah
kalian menoleh kepada perkataan siapapun.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim
dalam Hilyatul Auliya’ 9/107 dengan sanad yang shahih).

Beliau juga berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih
yang menyelisihinya, maka hadits Nabi , lebih utama untuk diikuti. Janganlah
kalian taqlid kepadaku. (Diriwayatkan olehAbu Hatim dalamAdab Syafi’i hal.93
dengan sanad yang shahih).

Al-Imam Ahmad berkata,
“Janganlah.engkau taqlid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa
yang datang dari Nabi dan para sahabatnya ambillah.” Beliau juga berkata,
“Ittiba’ adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi dan para
sahabatnya.” (Masa’iI Al-Imam
Ahmad oleh Abu Dawud hal.276- 277).

Ittiba’ Adalah Jalan Ahli Sunnah dan Taqlid Adalah Jalan Abhi Bid’ah.

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafy berkata, “Umat ini telah sepakat bahwa
tidak wajib taat kepada seorangpun dalam segala sesuatu kecuali kepada
Rasulullah makà barangsiapa yang ta’ashub (fanatik) kepada salah seorang
imam dan mengesampingkan yang lainnya seperti orang yang ta’ashub kepada
seorang sahabat dan mengesampingkan yang lainnya, seperti orang-orang
Rafidhah yang ta’ashub kepada Ali dan
mengesampingkan tiga khalifah yang lainnya. ini jalannya ahlul ahwa’.”
(Al-Ittiba’ cet. kedua hal.80) .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa yang ta’ ashub kepada
seseorang, dia kedudukannya seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub
kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang Khawarij. ini adalah
jalan ahli bid’ ah dan ahwa’ yang mereka keluar dan syari’at dengan
kesepakatan umat dan menurut Kitab dan Sunnah … yang wajib kepada semua
makhluk adalah ittiba’ kepada seorang yang ma’shum(yaitu Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam) yang tidak mengucap dan hawa nafsunya, yang
dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.” (Mukhtashar Fatawa
Mishniyyah hal.46-47).

Bantahan Para Ulama Kepada Pembela TaqIid

Al-Imam Al-Muzani berkata, “Dikatakan kepada orang yang berhukum dengan
taqlid, Apakah kamu punya hujjah pada apa yang kamu hukumi?’ Jika dia
mengatakan,
secara otomatis dia membatalkan taqlidnya, karena hujjah yang mewajibkan dia
menghukumi itu bukan taqlidnya.” Jika dia mengatakan, “Aku menghukumi tanpa
memakai hujjah.” Dikatakan kepadanya, “Kalau begitu mengapa engkau tumpahkan darah, engkau halalkan kemaluan, dan engkau musnahkan harta
padahal Alloh mengharamkan semua itu kecuali dengan hujjah, Alloh berfirman: Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. (QS.Yunus:68) .

Kalau dia mengatakan, “Aku tahu kalau aku menepati kebenaran walaupun aku
tidak mengetahui hujjah, karena aku telah taqlid kepada seorang ulama besar
yang dia tidak berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi dariku.”
Dikatakan kepadanya, “Jika dibolehkan taqlid kepada gurumu karena dia tidak
berkata kecuali dengan hujjah yang tersembunyi darimu, maka taqlid kepada
guru dan gurumu lebih utama karena dia tidak berkata kecuali dengan hujjah
yang tersembunyl dari gurumu sebagaimana gurumu tidak berkata kecuali dengan
hujjah yang tersembunyi darimu.” Kalau dia mengatakan, “Ya”, maka dia harus
meninggalkan taqlid kepada guru dari.gurunya dan yang di atasnya hingga
berhenti kepada para sahabat Rasulullah .
Kalau dia enggan melakukan itu berarti dia telah membatalkan ucapannya dan
dikatakan kepadanya, “Bagaimana dibolehkan taqlid kepada orang yang lebih
kecil dan lebih sedikit ilmunya dan tidak boleh taqlid kepada orang yang
lebih besar dan lebih banyak ilmunya? ini jelas menupakan kontradiksi.”

Kalau dia mengatakan, “Karena guruku meskipun dia lebih kecil— dia telah
menggabungkan ilmu orang-orang yang di atasnya kepada ilmunya, kanena itu
dia lebih paham apa yang dia ambil dan lebih tahu apa yang dia tinggalkan.”
Dikatakan kepadanya, “Demikian juga orang yang belajar dari gurumu maka dia
sungguh telah menggabungkan ilmu gurumu dan ilmu orang-orang yang di atasnya
kepada ilmunya, maka engkau harus taqlid kepada orang ini dan meninggalkan
taqlid kepada gurumu. Demikian juga engkau lebih berhak untuk taqlid kepada
dirimu sendiri daripada taqlid
kepada gurumu! Jika dia tetap pada perkataannya ini berarti dia menjadikan
orang yang lebih kecil dan orang yang berbicara dari para ulama yunior lebih
pantas ditaqlidi
daripada para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Demikian
juga menurut dia seorang sahabat harus taq lid kepada seorang tabi’in, dalam
keadaan seorang tabi’ in di bawäh sahabat menurut analogi perkataannya, maka
yang lebih tinggi selamanya lebih rendah, maka cukuplah ini merupakan
kejelekan dan kerusakan.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib AlBaghdady dalam
Al-Faqih wal Mutafaqqih 2/69-70 dan dinukil oleh lbnu Abdil Barr dalam Jami’
Bayanil Ilmi waAhlihi 2/992-993).

Al-Imam Ibnu Abdil Barr
berkata, “Dikatakan kepada orang yang taqlid: Mengapa engkau taqlid dan
menyelisihi salaf dalam masalah ini, karena salaf tidak melakukan taqlid?” Kalau dia mengatakan, “Aku taqlid karena aku tidak paham tafsir Kitabullah
dan aku belum menguasai hadits Rasulullah . Sedangkan yang aku taqlidi telah
mengetahui semuanya itu maka berarti aku taqlid kepada orang yang lebih
berilmu daripadaku.”

Dikatakan kepadanya, “Adapun para ulama, jika mereka sepakat pada sesuatu
dan tafsir Kitabullah atau periwayatan Sunnah Rasulullah , atau sepakat pada
sesuatu maka itu adalah al-haq yang tidak ada satu pun keraguan di dalamnya.
Akan tetapi mereka telah berselisih dalam hal yang kamu taqlidi, lalu apa
argumenmu di dalam taqild kepada sebagian mereka tidak kepadã yang lainnya,
padahal mereka semua berilmu. Bisa jadi orang yang tidak kamu pakai
perkataanya lebih berilmu daripada orang yang engkau taqlidi?” Jika dia mengatakan, “Aku taqlid kepadanya karena aku tahu dia di atas
kebenaran.” Dikatakan kepadanya, “Apakah kamu tahu hal itu dengan dalil dari
Al-Kitab, Sunnah, dan ijma’?”Jika dia mengatakan, “Ya”, maka dia telah
membatalkan taqlidnya dan dituntut untuk mendatangkan dalil dan
perkataannya.” (Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/994).

Hukum Taqlid

Taqlid terbagi menjadi tiga macam sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam lbnul
Qayyim dalam kitabnya i’lamul Muwaqqi’in 2/187:
(1) Taqlid yang diharamkan,
(2) Taqlid yang diwajibkan, dan
(3) Taqlid yang dibolehkan

Macam yang pertama yaitu taqlid yang diharamkan terbagi menjadi tiga jenis: a. Taqlid kepada perkataan nenek moyang sehingga berpaling dari apa yang
diturunkan Alloh.
b. Taqlid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil
perkataannya.
c. Taqlid kepada perkataan seseorang setelah tegak argumen dan dalil yang
menyelisihi perkataannya.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala‘telah mencela tiga macam taqlid ini di dalam
ayat-ayat yang banyak sekali dalam Kitab-Nya sebagaimana telah kita sebutkan
pada uraian di atas.

Macam yang kedua yaitu taqlid yang diwajibkan adalah yang dikatakan oleh
Al-Imam lbnul Qayyim, “SesungguhnyaAlloh telah memerintahkan agar bertanya
kepada Ahlu Dzikr, dan Adz-Dzikr adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Alloh
perintahkan agar para istri Nabi-Nya selalu mengingatnya sebagaimana dalam
finman-Nya :
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dan ayat-ayat Alloh dan hikmah
(Sunnah Nabimu). (QS.AlAhzab:34)

lnilah Adz-Dzikr yang Alloh penintahkan agar kita selalu ittiba’ kepadanya,
dan Alloh perintahkan orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya kepada
ahlinya. Inilah yang wajib atas setiap orang agar bertanya kepada ahli ilmu
tentang Adz-Dzikr yang Alloh turunkan kepada Rasul-Nya agar ahli ilmu ini
memberitahukan kepadanya. Kalau dia sudah diberitahu tentang Adz-Dzikr ini
maka tidak boleh baginya kecuali ittiba’ kepadanya.” (l’lamul Muwaqqi’in
2/241).

Macam yang ketiga yaitu taqlid yang dibolehkan adalah yang dikatakan oleh
Al-Imam lbnul Qayyim, “Adapun taqlidnya seorang yang sudah mengerahkan
usahanya untuk ittiba’ kepada apa yang diturunkan Alloh. Hanya saja sebagian
darinya tensembunyi bagi orang tersebut sehinggá dia taqlid kepada orang
yang lebih berilmu darinya, maka yang seperti ini adalah terpuji dan tidak
tencela, dia mendapat pahala dan tidak berdosa….” (I’lamul Muwaqqi’ in 2/
169).

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah berkata, “Adapun orang yang mampu ijtihad
apakah dibolehkan baginya taqlid? ini adalah hal yang diperselisihkan, dan
yang shahih adalah dibolehkan ketika dia dalam keadaan tidak mampu
berijtihad entah karena dalil-dalil (dan
pendapat yang berbeda) sama-sama kuat atau karena sempitnya waktu untuk
berijtihad atau karena tidak nampak dalil baginya.” (Majmu’ Fatawa
20/203-204).

Mengikuti Manhaj Para Ulama Bukan Berarti Talilid kepada Mereka .

Al-Imam lbnul Qayyim berkata, “Jika ada yang mengatakan: Kalian semua
mengakui bahwa para imam yang ditaqlidi dalam agama mereka berada di atas
petunjuk, karena itu
maka orang-orang yang taqlid kepada mereka pasti di atas petunjuk juga,
karena mereka mengikuti langkah para imam tersebut.

Dikatakan kepadanya,
“Mengikuti langkah para imam ini secara otomatis membatalkan sikap taqlid
kepada mereka, karena jalan para imam ini adalah ittiba’ kepada hujjah dan
melarang umat dan taqlid kepada mereka sebagaimana akan kami sebutkan hal
ini dan mereka lnsya Alloh
. Maka barangsiapa yang meninggalkan hujjah dan melanggar larangan para imam
ini (dan sikap taqlid) yang juga dilarang oleh Alloh dan Rasul-Nya, maka
jelas orang ini tidak berada di atas jalan para imam ini, bahkan termasuk
orang-orang yang menyelisihi mereka. Yang menempuh jalan para imam ini
adalah orang yang mengikuti hujjah, tunduk kepada dalil, dan tidak
menjadikan seorang pun yang dijadikan perkataannya sebagal timbangan
terhadap Kitab dan Sunnah kecuali Rasulullah .

Dari sini nampaklah kebatilan pemahaman orang yang menjadikan taqlid sebagai
ittiba’, mengaburkannya dan mencampuradukkan antara keduanya, bahkan taqlid
menyelisihi ittiba’. Alloh dan Rasul-Nya telah memilahkan antara keduanya
demikian juga para ulama. Karena sesungguhnya ittiba’ adalah menempuh jalan
orang yang diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan.” (I’lamul Muwaqqi’in
2/170-l71) .
(Pembabasan ini banyak mengambil faedah dan risalah Syaikhuna Al-Fadhil
Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly yang berjudul Al Iqna’ bi Maja’a ‘an A’immati
Da ‘wah minal Aqwal fil Ittiba’).

Kesimpulan

Taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya
atau mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya.

Taqlid terbagi menjadi tiga macam:

1. Taqlid yang diharamkan, yaitu taqlid kepada perkataan nenek moyang
sehingga berpaling dan apa yang diturunkan oleh Alloh, taqlid kepada orang
yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil perkataannya, dan taqlid
kepada perkataan seseorang setelah tegak argumen dan dalil yang menyelisihi
perkataannya. lnilah taqlid yang dicela Alloh dalam Kitab-Nya.

2.Taqlid yang diwajibkan, yaitu orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya
kepada ahlinya tentang Adz-Dzikr yaitu apa yang Alloh turunkan kepada
Rasul-Nya. Kalau dia sudah
diberitahu tentang Adz-Dzikr ini maka tidak boleh baginya kecuali ittiba’
kepadanya.

3.Taqlid yang dibolehkan, yaitu taqlidnya seorang yang sudah mengerahkan
usahanya untuk ittiba’ kepada apa yang diturunkan oleh Alloh dalam suatu
permasalahan. Hanya saja sebagian dari hujjahnya tersembunyi bagi orang
tersebut sehingga dia taqlid kepada orang yang lebih berilmu darinya dalam
permasalahan tersebut.

Ittiba’ adalah menempuh jalan orang yang (wajib) diikuti dan melakukan apa
yang dia lakukan atau jika engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang
nampak bagimu keshahihannya.

Taqlid bukanlah ittiba’,

karena ittiba’ adalah jika engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak
bagimu keshahihan perkataannya, dan taqlid adalah jika engkau mengikuti
perkataan seseorang dalam keadaan engkau tidak tahu segi dari makna
penkataannya.
Para imam melarang para pengikutnya dan taqlid dan memerintahkan mereka agar
selalu ittiba’.

Ittiba’ adalah jalan Ahlu Sunnah dan taqlid adalah jalan ahli bid’ah.

Mengikuti manhaj para ulama bukanlah taqlid kepada mereka, karena manhaj
para ulama ini adalah ittiba’ kepada hujjah dan melarang umat dan taqlid
kepada mereka, maka orang yang menempuh manhaj mereka juga ittiba’
sebagaimana mereka.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s