Sebuah kejadian nyata yang sangat menakjubkan, ketika ada dua orang yang selesai berwudhu ditanya tentang bacaan niat wudhu. Orang pertama “dinyatakan salah” menjawab, karena yang dia ingat adalah bacaan “nawaitu shauma ghodin…” yang dikenal sebagai bacaan niat berpuasa. Orang kedua “dinyatakan benar” setelah dia menjawab “nawaitul wudhu’a li rof’il hadatsil ashghori…”. Namun ketika dia ditanya arti bacaan tersebut, dia menjawab “saya tidak tahu artinya, yang penting kan niatnya…”.

Subhanalloh! Setelah mengetahui peristiwa yang menimpa dua orang tersebut, adakah di antara kita yang menyatakan bahwa wudhu kedua orang tersebut TIDAK SAH? Saya yakin setiap kita akan menyatakan : Wudhu kedua orang tersebut adalah SAH !
Kenapa?
Ya, karena secara pasti mereka melakukan perbuatan wudhu itu dengan sadar dan memang berniat melakukan perbuatan wudhu, bukan perbuatan yang lain. Ini menunjukkan bahwa tempat niat adalah di dalam hati, bukan pada ucapan. Inilah yang menjadi ukuran dan timbangan. Dua Kejadian tersebut sungguh telah membantah orang-orang yang menganjurkan bahkan (mungkin) mengharuskan melafadzkan niat dengan lisan. Karena seandainya anjuran tersebut adalah benar, niscaya kedua orang tersebut dianggap memiliki “kekurangan dalam rukun niat” bahkan (mungkin) menjadi “tidak sah” wudhunya. Sedangkan yang benar adalah sebaliknya.

Begitu pula orang-orang yang menyatakan bahwa ucapan niat itu adalah untuk membantu niat yang ada di dalam hati supaya menjadi sesuai dan benar. Maka kedua orang tersebut telah membantah mereka, karena apa yang dia ucapkan sama sekali tidak membantu, tidak pula mempengaruhi niat (yang ada di dalam hati) mereka.

Dan sebaik-baik bantahan adalah kenyataan, bahwasannya tidak pernah diketahui dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mengucapkan lafadz niat, sedangkan beliau setiap hari sepanjang hidupnya semenjak disyariatkannya wudhu sudah pasti melakukan wudhu. Begitu pula dalam amal-amal ibadah lainnya yang beliau kerjakan, seperti sholat, puasa, shodaqoh dan lain sebagainya. Tidak pernah sekalipun dinukil bahwa beliau mengucapkan niat ketika mengawali ibadah-ibadah tersebut. Maka bagaimanakah Anda bersikap dan mengambil teladan?

Wallohu a’lam

Iklan

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s