Pertanyaan :
Apa hukum bertasbih dengan menggunakan tasbeh? Jika tidak ada hukumnya, apa boleh bertasbih dengan menggunakan tasbeh karena alasan untuk menghitung bilangan tasbih?

Jawaban :
Lebih baik meninggalkannya. Sebagian ahli ilmu memakruhkannya dan yang lebih utama adalah bertasbih dengan menggunakan jari sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi. Diriwayatkan dari beliau bahwa beliau memerintahkan untuk menghitung bilangan tasbih dan tahlil dengan jari jari tangan. Beliau bersabda :
(artinya) “Sesungguhnya mereka akan ditanya dan mereka akan disuruh berbicara”
{Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Ash Shalah (1501), At Tirmidzi dalam ad Da’awat (3583), Ahmad (6/731)}
Al Fatawa Kitabud Da’wah hal 76, Syaikh Ibn Baz

Pertanyaan :
Disebutkan dalam hadits “Setiap bid’ah adalah sesat” yang artinya bahwa tidak ada bid’ah kecuali pasti itu sesat, dan tidak ada bid’ah hasanah karena setiap bid’ah itu sesat. Pertanyaannya : apakah tasbeh dianggap bid’ah? Dan apakah tasbeh termasuk bid’ah hasanah (baik) atau dhalalah (sesat)?

Jawaban :
Tasbeh bukan bid’ah agama, karena seseorang tidak bermaksud beribadah kepada Allah dengan tasbeh, akan tetapi bermaksud menghitung dengan tepat bilangan tasbih, tahlil, tahmid atau takbir yang diucapkannya. Jadi tasbeh ini hanya merupakan perantara, bukan tujuan.
Tapi yang lebih utama adalah bertasbih dengan menggunakan jari-jari tangannya karena alasan-alasan berikut :
Pertama, bahwa jari-jari itu kelak akan disuruh berbicara sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi.
Kedua, bahwa bilangan tasbih atau lainnya dengan menggunakan tasbeh bisa menyebabkan seseorang lengah. Kadang kita saksikan banyak orang yang menggunakan tasbeh mengucapkan tasbih tapi matanya melirik kesana kemari, karena mereka telah mengandalkan biji biji tasbeh itu untuk menghitung bilangan tasbih, tahlil, tahmid atau takbir yang dikehendakinya. Dan kita dapati sebagian mereka menghitungnya dengan biji biji tasbeh sementara hatinya lengah, mereka terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini akan berbeda jika mereka menghitungnya dengan jari tangan, karena biasanya akan lebih mengkonsentrasikan hati.
Ketiga : bahwa menggunakan tasbeh bisa mendatangkan riya’. Kita jumpai sebagian orang yang senang banyak bertasbih mengalungkan tasbeh-tasbeh panjang di leher mereka dengan jumlah biji-bijinya yang banyak, dengan begitu seolah-olah lisan mereka mengatakan, ‘lihatlah kepdaka kami, kami memuji Allah dengan bilangan biji-biji yang banyak ini’. Astaghfirullah, saya tidak bermaksud menuduh mereka demikian, tapi saya mengkhawatirkan demikian.
Ketiga hal ini harus dihindari oleh orang yang bertasbih mengguakan tasbeh, dan hendaknya ia bertasbih, mensucikan Allah dengan jari-jari tangannnya.
Kemudian dari itu, bahwa menghitung bilangan tasbih itu dengan menggunakan jari-jari tangan kanan, karena Nabi menghitung bilangan tasbih dengan tangan kanannya, dan tidak diragukan lagi bahwa yang kanan lebih baik daripada yang kiri. Karena itu, menggunakan tangan kanan lebih utama daripada menggunakan tangan kiri. Nabi pun pernah melarang seorang laki-laki makan atau minum dengan tangan kirinya, dan pernah pula beliau menyuruh seseorang makan dengan tangan kanannya, beliau bersabda:
(artinya) “Nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangna kananmu dan makanlah yang dekat kamu” {HR al Bukhari dalam al Ath’imah (5376), Muslim dalam al Asyribah (2022)}
Dalam sabda lainnya beliau menyebutkan,
(artinya) “Apabila salah seorang kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan menggunakan tangan kanannya, dan apabila ia minum maka hendaklah minum dengan menggunakan tangan kanannya. Karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan menggunakan tangan kirinya. {HR Muslim dalam al Asyribah (2020)}.
Karena itu, menggunakan tangan kanan untuk menghitung bilangan tasbih lebih utama daripada menggunakan tangan kiri. Hal ini sebagai pelaksanaan mengikuti as Sunnah dan lebih mendahulukan yang kanan. Nabi sangat senang mendahulukan yang kanan dalam mengenakan sandal, memulai langkah, dalam bersuci serta hal hal lainnya. Dengan demikian, bertasbih dengan menggunakan tasbeh tidak dianggap bid’ah dalam agama karena yang dimaksud bid’ah yang terlarang itu adalah bid’ah dalam perkara agama, sedangkan bertasbih dengan menggunakan tasbeh hanyalah merupakan perantara untuk menghitung bilangan dengan tepat. Jadi hanya merupakan perantara yang marjuh, namun demikian lebih utama menghitung bilangan tasbih dengan menggunakan jari tangan
Nur ‘Ala ad Darb, hal 68 Syaikh Ibnu Utsaimin

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

2 responses »

  1. butet mengatakan:

    saya hanya mengingatkan… janganlah menjelek jelekkan orang lain…. bisa jadi orang yang memakai tasbih di lehernya lebih baik dari pada kamu….. masalah hati tidak bisa manusia menilainya…

    • Abu Abdirrohman mengatakan:

      Terima kasih telah mengingatkan, semoga Allah membalas kebaikan Anda.
      Setahu saya di dalam artikel di atas tidak ada kalimat yang menjelek-jelekkan orang lain. Silakan dibaca dengan tenang hati.
      Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam.
      Sebaik-baik teladan adalah Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam.
      Allohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s