Diriwayatkan dari Abu Bakrah r.a, ia berkata, “Ada seorang yang sedang memuji orang laki-laki di dekat Nabi saw. Lantas beliau bersabda, ‘Celakalah kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu berkali-kali.’ Lalu beliau kembali bersabda, ‘APabila salah seorang kamu harus memuji juga dan menurutnya memang demikianlah adanya, maka hendaklah ia katakan, ‘Setahuku dia itu begini dan begitu, namun hanya Allah-lah yang mengetahui yang sebenarnya dan aku tidak mendahului Allah dan memuji seseorang’,” (HR Bukhari [2622] dan Muslim [3000]).

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. pernah mendengar seseroang memuji seorang laki-laki dan berlebihan dalam memujinya. Lalu beliau bersabda, ‘Kamu telah membinasakan -atau kamu sudah memenggal- punggung laki-laki itu’,” (HR Bukhari [2663] dan Muslim [3001]).

Diriwayatkan dari Miqdad r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji maka lemparkanlah tanah ke wajahnya,” (HR Muslim [3002]).

Berkata Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam syarah Riyadhush Shalihin:

Muallif (Imam Nawawi) rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya Riyadhush Shalihin dalam menjelaskan perihal pujian manusia, apakah diperbolehkan seseorang memuji orang lain atas sesuatu yang memang ada pada diri orang itu, ataukah tidak boleh?
Maka permasalahan ini tergantung pada beberapa keadaan :

1. Pertama, apabila di dalam pujian tersebut terkandung kebaikan dan adanya dorongan untuk memiliki sifat yang terpuji dan berakhlaq mulia, maka hal ini tidak mengapa dikarenakan adanya dorongan tersebut. Apabila Anda melihat seseorang yang mulia, pemberani, mengutamakan orang lain dan suka berbuat baik kepada orang lain, kemudian Anda menyebutkan kebaikan-kebaikan tersebut di depannya dalam rangka untuk memberikan dorongan dan dukungan sehingga orang tersebut akan senantiasa menjaga sifat-sifat itu tetap ada pada dirinya, maka hal ini adalah sebuah kebaikan, dan sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

وتعاونوا على البر والتقوى

(artinya) dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa…

2. Keadaan kedua, Anda memuji seseorang dalam rangka menjelaskan kedudukannya yang utama di antara manusia, menyebarkannya supaya manusia menghormatinya sebagaimana yang diperbuat oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam terhadap Abu Bakar dan ‘Umar -semoga Allah meridhai keduanya-.
Adapun mengenai Abu Bakar, suatu hari Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?” Abu Bakar berkata, “saya!” Beliau bertanya kembali, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini telah mengiringi jenazah?” Abu Bakar berkata, “Saya!” Beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini telah menengok orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar menjawab, “Saya!” Maka Nabi Shallalohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah perkara-perkara yang (aku sebutkan-pent) tadi terkumpul pada seseorang melainkan ia akan masuk surga”.
Demikian pula saat beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya (pada hari kiamat-pent). Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah (Shallallohu ‘alaihi wa sallam), sesungguhnya sebelah sarungku melorot kecuali apabila saya menjaganya.” Beliau shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Kamu bukanlah orang yang melakukannya karena sombong.”
Begitu pula beliau Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Umar “Sesungguhnya tidaklah kamu melalui sebuah jalan melainkan syaitan akan melalui jalan yang lain.” Yakni apabila kamu (‘Umar) melalui sebuah jalan maka syaitan akan menyingkir dan pergi melalui jalan yang lain.
Perkataan Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam di atas adalah untuk menjelaskan keutamaan Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallohu ‘anhuma. Maka yang demikian ini tidak mengapa.

3. Keadaan ketiga, seseorang memuji orang lain secara berlebihan sehingga mensifati dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaannya. Hal ini terlarang dan merupakan satu bentuk kedustaan dan penipuan. Misalnya seseorang memuji kepada seorang pemimpin atau pejabat atau yang semisal dengan mereka, di mana sebenarnya mereka tidak pantas mendapatkan pujian itu karena memang tidak memiliki sifat-sifat yang terpuji. Maka ini hukumnya haram dan juga terdapat bahaya bagi orang yang dipuji.

4. Keadaan keempat, pujian kepada seseorang yang sesuai dengan keadaannya, akan tetapi dikhawatirkan orang yang dipuji itu akan tertipu oleh dirinya sendiri, merasa dirinya memiliki keutamaan dan ketinggian dibanding orang lain. Hal ini hukumnya juga haram.

Muallif (Imam Nawawi rahimahullah) menyebutkan beberapa hadits berkaitan dengan permasalahan ini, bahwasannya ada seorang lelaki memuji orang lain di sisi Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Celaka kamu, engkau telah memotong leher saudaramu!” yakni seakan-akan engkau telah menyembelih saudaramu dikarenakan pujianmu kepadanya, karena itu akan membuatnya merasa tinggi dan lebih daripada orang lain. Dan sungguh Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan supaya menaburkan debu kepada orang yang terlalu banyak memuji, yaitu orang yang dikenal selalu memuji-muji orang-orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan di mana pun mereka hadir. Dan al maddah (orang yang terlalu banyak memuji) tidak sama dengan al madih (orang yang memuji). Al madih adalah orang yang memuji sesekali saja. Sedangkan al maddah (ini yang disebut oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Miqdad radhiyallohu ‘anhu-pent), tidaklah dia duduk di depan seorang pembesar atau pemimpin atau seorang hakim atau seorang ‘alim atau yang semisal mereka melainkan dia akan memujinya. Orang seperti inilah yang layak ditaburkan debu ke mukanya. Karena ada seseorang yang memuji ‘Utsman radhiyallohu ‘anhu maka Miqda berjongkok dan menaburkan ke mukanya. Kemudian ‘Utsman bertanya mengapa dia melakukan hal tersebut. Miqdad berkata, sesungguhnya Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melihat orang-orang yang suka memuji, maka taburkanlah debu ke muka mereka!”

Bagaimanapun, seyogyanya bagi setiap orang untuk tidak berbicara kecuali yang baik. Karena Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” Dan Alloh lah yang Maha memberikan petunjuk.

Selesai perkataan Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah

Sedikit tambahan penjelasan dari Ustadz Badrussalam, apabila kita hendak memuji seseorang, jangan puji di depannya, tetapi pujilah ketika dia tidak berada di tempat tersebut.

Iklan

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s