Judul Buku : Akhirnya Mereka Memilih Islam
Kesaksian Para Muallaf
Penulis : Khalid Abu Shalih
Judul Asli : Al Haribun minal jahim
Al haribat minal Jahim
Penerjemah : Nur Alim
Penerbit : Darul Haq, Jakarta, Cetakan I, Juni 2006

SAMBIL MENANGIS IA UCAPKAN SYAHADAT
Ia melakukan surat menyurat denganku (lewat internet) sejak beberapa minggu yang lalu. Ia menunjukkan keinginannya mengenal Islam…dan ia sedang mencari kebenaran. Jennifer…seorang wanita muda dari Kanada yang berumur delapan belas tahun. Tetapi ia tidak seperti anak-anak wanita Kanada yang lain. Bahkan kalau bisa kami katakan “Ia tidak seperti wanita Arab yang ada di masyarakat kami, masyarakat yang berbudaya barat ini. Ia mengetahui hidup ini pasti ada tujuan dan harapannya. Dan kebenaran itu adalah sesuatu yang harus dicari setiap orang”.
Kami berupaya memperkenalkan kepadanya beberapa sisi ajaran Islam. Selain itu, ada juga orang lain yang ikut membantunya, yaitu orang yang telah menunjukkan situs kami kepadanya.
Saya berbicara dengannya tentang Al Qur’anul Karim, kitab mukjizat yang menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Islam adalah agama kebenaran.
Al Qur’an tidak pernah ada yang dapat merubahnya sejak seribu empat ratus tahun yang lalu. Al Qur’an yang ada di Mesir sama dengan Al Qur’an yang ada di Amerika, Cina dan Jepang.
Saya mengajaknya berbicara tentang fakta-takta ilmiah yang telah dicapai dunia setelah melakukan berbagai percobaan yang luar biasa dengan menggunakan berbagai teknologi dan ilmu pengetahuan modern serta menggunakan berbagai perangkat percobaan ilmiah lain yang telah dipaket. Padahal fakta-fakta ilmiah ini sudah ada dalam kitab Allah sejak diutusnya Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam di padang pasir Mekkah.
Saya beritahukan kepadanya tentang tantangan Allah ta’ala yang ditujukan ke pada penduduk jazirah Arab agar mereka membuat perkataan yang serupa Al Qur’an, padahal mereka adalah orang-orang ahli dalam bahasa dan mahir dalam menyusun kalimat. Tetapi mereka tidak mampu. Hal ini saya lakukan untuk menunjukkkan keagungan kitab Al Qur’an ini kepadanya.
Hari-hari terus berlalu, lama-kelamaan ia pun bertanya tentang Islam dan ingin mengetahui ajaran-ajarannya. Sehingga, suatu hari ia bertanya tentang hari raya kaum muslimin. Saya menjawabnya dan menjelaskan kepadanya tata cara kaum muslimin merayakan hari raya mereka, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
Saya berhenti sejenak dari pembicaraanku, kemudian saya katakan kepadanya, “Apakah belum datang waktunya?”
Ia menjawab, “Ya sudah…” Saya sangat gembira dengan jawabannya, namun saya ingin menegaskannya, saya katakan kepadanya, “Maksudku, waktu Anda masuk Islam?”
Ia berkata “Ya, saya tahu…”
Saya berkata kepadanya, sedangkan hatiku pada saat itu sangat bahagia dan berbunga-bunga sebagai rasa syukurku kepada Allah, “Sekarang juga?”
Ia berkata, “Ya.”
“Bisakah Anda memberiku nomor telpon Anda?” pintaku kepadanya. Ia memberiku nomor telponnya, kemudian saya segera menghubunginya.
Saya katakan, “Saya telah menjelaskan kepada Anda bagaimana cara masuk Islam. Sekarang tinggal melaksanakannya. Saya jelaskan kepadanya makna dua kalimat syahadat dengan bahasa Inggris, lalu saya katakan kepadanya, “Tirukan ucapanku…Asyhadu alla… ilaha… illallah.”
Saya menuntunnya, sedikit demi sedikit suaranya mulai pecah…Kemudian saya meneruskan kalimat syahadat selanjutnya. Saya katakan kepadanya, “Wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah” Ia menirukannya dengan suara yang semakin pecah…sehingga ia menangis dengan suara yang tinggi.
Saya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, apakah Anda sedih?”
“Ini bukan air mata kesedihan,” katanya.
Saya bertanya kembali, “Kalau begitu, apa yang membuat Anda menangis? Demi Allah Anda sekarang berada pada kebaikan yang besar. Allah ta’ala telah benar-benar memilih Anda untuk memeluk Islam dari jutaan manusia yang meninggalkan Islam….dan dari orang-orang Islam yang tidak berpegang teguh dengan agama mereka. Jadi sebab apa Anda menangis?”
Ia berkata kepadaku, dan ia masih terus menangis, “Saya tidak tahu…”
Saya menjelaskan kepadanya bahwa Allah ta’ala telah memuliakannya dengan nikmat ini dan telah mengampuni segala kesalahannya sebelum Islam. Saya memintanya untuk berdoa kepada Allah semoga Ia mengampuni segala dosa-dosaku. Setelah itu saya meletakkan gagang telepon dengan menjanjikan kepadanya untuk mengajarinya shalat -Insya Allah- melalui internet sehingga ia mendapatkan email Islami di kotanya yang mengajarinya shalat.
Tak lama kemudian ia muncul lagi di internet untuk berbincang-bincang denganku. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa saat itu Anda menangis?” Ia menjawab, “Saya sendiri tidak tahu mengapa saya menangis. Pada saat itu perasaanku aneh, saya merasakan kebahagiaan di dalam hatiku, saya merasa aman dan merasa cinta dan saya merasa bahwa Islam itulah yang benar…”
Demi Allah saya sangat sedih, karena kebanyakan di antara kita tidak dikaruniai perasaan ini, bahkan bisa jadi ada yang telah mengetahui perasaan ini akan tetapi ia tidak mempercayainya, padahal perasaan tersebut benar. Allah ta’ala telah menjadikan Al Qur’an sebagai obat segala penyakit hati. Dan menjadikan Islam sebagai jalan keluar untuk setiap permasalahan manusia. Betapa indahnya perasaan yang benar ini, ketika terpancar dalam dada orang-orang yang baru masuk Islam.
Kami memohon kepada Allah agar mengampuninya dan memaafkannya serta menolongnya dalam menempuh Islam…dan jangan lupa akan doa baik kalian untuknya.

——————————————
Sumber : situs Idza’ah thariqatul Islam.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s