*Kisah ini disarikan dari majalah Al Fityan, No. 49 Robi’uts Tsani 1424H, hal. 38-39

Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan sholat kecuali sewaktu-waktu saja atau karena tidak enak dilihat orang lain. Penyebabnya tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan menemaninya dalam banyak kesempatan. Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: “Saya memiliki anak laki-laki berumur 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya. Suatu hari setelah adzan Maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan isyarat yang artinya, “Mengapa engkau tidak sholat wahai Abi?” Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Alloh yang di langit melihatmu. Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Alloh. Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha merangkulnya, tapi ia lari dariku. Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al Quran. Ia selalu menasihati saya, tapi belum juga membawa faidah. Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia sholat Maghrib di hadapan saya. Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al Quran, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat: “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.” (Maryam : 45) Kemudian ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya. Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setelah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, “Sholatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya azab!” Demi Alloh, saat itu saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari satu ruangan ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh. Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), “Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke masjid besar (Masjid Nabawi).” Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.” Tetapi, anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi. Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut. Dan Marwan selalu memandang saya. Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqomat untuk sholat Isya’. Saat itu Imam membaca firman Alloh, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An Nuur : 21) Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada di sampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat sholat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya. Selesai sholat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, “Sudahlah wahai Abi!” Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, “Kamu jangan cemas.” Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia. Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi. Marwan berkata tadi Abi pergi sholat ke Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik. Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya denganMarwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Alloh, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al Quran dan menunjukkannya kepada saya?” Dia bersumpah dengan nama Alloh sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Alloh atas hidayah ini.” Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang –alhamdulillah- saya selalu sholat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga benar-benar harmonis penuh dengan cinta dan kasih sayang. Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Alloh.” (Fariq Gasim Anuz, Agustus 2006, DA’I CILIK, PT. Darul Falah, Jakarta)

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s