Beriman kepada taqdir adalah wajib, dan kedudukannya dalam agama merupakan salah satu rukun iman yang enam.

Ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah, “apakah iman itu?” beliau menjawab :
“Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para RasulNya, Hari akhir dan kamu beriman kepada taqdirNya yang baik dan yang buruk…” (Hadist riwayat Muslim dan yang lainnya)

Taqdir mencakup beberapa perkara :
Pertama, beriman (yakin) bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun perinciannya, baik yang berkaitan dengan perbuatanNya maupun perbuatan hamba-hambaNya, dan pengetahuanNya mencakup segala sesuatu yang telah lampau dan yang akan datang.

Kedua, beriman bahwa Allah menulis taqdir tersebut di Lauh Mahfudz,
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah“ (Al Hajj: 70).

Ketiga, beriman bahwa semua yang ada tidak akan ada kecuali atas keinginan Allah, baik yang berkaitan dengan perbuatanNya atau yang berkaitan dengan perbuatan makhluq.
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya…”
(Al Qashash : 68)
Sedangkan yang berkaitan dengan perbuatan makhluq :
“Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu…” (An Nisa : 90).
Keempat, beriman bahwa alam semesta ini adalah makhluq yang diciptakan Allah baik zat, sifat maupun gerakan mereka.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”
(az Zumar :62)

CATATAN :
Beriman kepada taqdir tidak menafikan bahwa seorang hamba mempunyai keinginan dalam perbuatan yang bersifat ikhtiariyah (yang Allah memberikan kepada makhluq untuk menentukannya sendiri) dan kemampuan untuk mengerjakannya.
“maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia akan menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (An Naba’ : 39)

Akan tetapi keinginan dan kemampuan seorang hamba itu tetaplah dengan kehendak Allah:
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (at Takwir : 28-29).
Nabi memerintahkan sahabatnya untuk beramal (berbuat) dan melarang untuk pasrah (menggantungkan nasib) kepada taqdir.
Imam Bukhari meriwayatkan, dari Abu Thalib, bahwasannya Nabi bersabda :
“Tidak ada salah satu dari kalian kecuali telah ditentukan tempatnya di neraka atau di surga”
Mendengar itu maka seseorang berkata “Tidakkah sebaiknya kita pasrah saja, wahai Rasulalloh? “
Beliau menjawab: “tidak, beramallah karena semuanya akan dipermudah “
(dalam riwayat Muslim “Setiap orang itu dimudahkan (untuk menjalani taqdir) yang diciptakan untuknya”).
Kemudian beliau membacakan ayat:
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa “ (al Lail : 5).
Wallohu a’lam

*Dikutip dari buku : Sunnah & Bid’ah, Syaikh Sa’ad Yusuf Abu Azis, Pustaka al Kautsar.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s