Oleh
Syaikh Masyhur Hasan Salman

Pertanyaan.
Syaikh Masyhur Hasan Salman ditanya : Bagaimana cara menuntut Ilmu bagi yang terlambat, khususnya orang yang telah tua ?

Jawaban.
Barang siapa yang tidak belajar di waktu kecil kemudian sadar setelah tua, aku bertanya berapa sebenarnya umurnya empat puluh tahunkah? Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri sebagai contoh bagi manusia diutus ketika berumur empat puluh tahun. Al-Qadhi ‘Iyad mulai menuntut Ilmu setelah berumur lebih dari empat puluh tahun. Sholih Bin Kaisan salah seorang pendidik Imam az- Zuhri di sekolah, jika kita membaca sahihain kita akan menemukan puluhan hadis yang diriwayatkan Sholih Bin Kaisan dari imam az-Zuhri. Sementara dia sendiri yangmengajari Imam az-Zuhri. Dia mulai menuntut ilmu setelah berumur lebih tujuh puluh tahun .

Bagi para penuntut ilmu hendaklah memulai hal-hal yang umum terlebih dahulu, dalam syair dikatakan

Ilmu ibarat kulit dan isi, orang yang paling beruntung adalah orang yang
memulai isi kemudian kulit
“.

Hal-hal yang harus menjadi perhatian khusus para penuntut ilmu adalah mendalami berbagai macam spesiailisiasi secara penuh , ibarat seorang yang sedang berjalan dalam sebuah kebun yang tinggi-tinggi pohonnya dan ada yang rendah sambil mengambil seluruh ilmu, dia berjalan-jalan sambil mendengarkan berbagai macam seruan yang memberitahukannya agar singgah untuk mengambil bagian.

Alangkah butuhnya dakwah kita ini kepada orang-orang yang mendalami berbagai spsesialsiasi ilmu seperti ilmu qiraat, ilmu tafsir, bahasa Arab, Tauhid, Usul, fiqh, sirah dan sebagainya.

Seorang penuntut ilmu hendaklah berjalan sambil mengambil seluruh cabang ilmu ini secara umum terlebih dahulu baru kemudian mengambil spesialisasi ilmutertentu. Alangkah jeleknya jika seorang penuntut ilmu mengetahui ilmu hadis maupun mustalah secara detail lengkap dengan berbagai macam permasalahan hinggabagian terkecil dan jelimet sekalipun, namun buta mengenai ilmu fiqh dan tauhid.

Wallahu a’lam

[Seri Soal Jawab Dauroh Syar’iyah Surabaya 17-21 Maret 2002, Dengan Masyayaikh
Murid-murid Syaikh Muhammad Nashirudiin Al-Albani Hafidzahumullahu,
Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Ridwan , Lc.]

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s