Mencari rizki adalah sebuah kewajiban yang menjadi tanggung jawab seorang kepala keluarga. Alhamdulillah, Islam dengan kesempurnaan syari’atnya tidak lepas dalam membimbing manusia di segala aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya adalah bimbingan di dalam mencari rizki yang halal.

Di dunia bisnis, saling memberi hadiah adalah sesuatu yang sangat lumrah. Serasa ada yang kurang apabila ada hubungan bisnis tanpa pemberian hadiah. Pemberian hadiah ini bisa terjadi antar relasi, atasan dengan bawahan, antar sesama karyawan, dengan supplier/ pihak ketiga dan lain-lain. Pokok bahasan yang akan saya soroti kali ini adalah hadiah yang diterima oleh seorang pegawai, di luar gaji yang dia terima.

Adakalanya seorang pegawai menerima hadiah dari sesama karyawan atau dari pihak ketiga atas tugas dan tanggung jawab yang dia kerjakan. Hadiah ini kadang disebut juga dengan tips, bonus, fee atau uang terima kasih. Hadiah ini bisa berupa sekedar traktiran makan, uang cash atau bisa juga berupa barang. Nah, bagaimanakah syari’at Islam memandang hal ini?

HUKUM PEMBERIAN KEPADA PEGAWAI

Mari kita simak pelajaran berharga dari seseorang yang paling dicintai oleh setiap insan yang beriman berikut ini :

Dari Abu Hamid as Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengangkat salah seorang dari suku Azad sebagai petugas yang mengambil zakat Bani Sulaim. Orang memanggilnya dengan Ibnul Lutbiah. Ketika datang, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengaudit hasil zakat yang dikumpulkannya. Ia (orang tersebut, Red) berkata, “Ini harta kalian, dan ini hadiah (untukku)” Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya:

”Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah atau ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu?”

Lalu beliau berkhutbah, memanjatkan pujian kepada Allah azza wa jalla , Lalu beliau bersabda :

“Aku telah tugaskan seseorang dari kalian sebuah pekerjaan yang Allah azza wa Jalla telah pertanggungjawakan kepadaku, Lalu ia datang dan berkata :yang ini harta kalian, sedangkan yang ini hadiah untukku”. Jika dia benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, kalau benar hadiah itu mendatanginya. Demi Allah , tidak boleh salah seorang kalian mengambilnya tanpa hak, kecuali dia bertemu dengan Allah dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,” lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya, dan berkata: “Ya Allah, telah aku sampaikan,” (perawi berkata),”Aku Lihat langsung dengan kedua mataku, dan aku dengar dengan kedua telingaku.” [HR Bukhari, 6979 dan Muslim, 1832]

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL DARI HADIST :

1. Haramnya pendapatan yang diterima oleh seorang pegawai di luar gaji, atas pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

2. Ancaman yang berat bagi pegawai tersebut.

3. Hendaknya tidak menyebutkan nama pelaku kesalahan. Akan tetapi cukup dengan menyebutkan kesalahnnya saja. Ini termasuk dalam lingkup menutupi aib/ kejelekan saudaranya.

4. Termasuk di dalam kesempurnaan syari’at Islam, di mana wahyu yang suci telah menjelaskan semua hal yang membawa akibat baik atau buruk bagi manusia

wallohu a’lam

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s