Masih ingatkah Anda kisah seorang Sumanto? Namanya melejit setelah kebiasaan bobroknya terungkap. Sebuah kebiasaan yang sangat jijik untuk dilakukan, bahkan untuk sekedar dibayangkan. Apa kebiasannya itu? Dia gemar sekali menggali kuburan untuk diambil mayatnya lantas kemudian dimakan dagingnya !! Siapa menyangka ada orang seperti itu? dan siapa yang tidak mencela perbuatan seperti itu? (Alhamdulillah saat ini dia sudah mendapatkan ganjaran dari pihak berwajib. Semoga Dia mau bertaubat dengan sebenar-benar taubat sehingga Allah mengampuninya).

Namun sayangnya -dan ini adalah fakta-, masih banyak orang-orang seperti Sumanto ada di sekitar kita. Bahkan barangkali setiap diri kita terkadang juga melakukan perbuatan jijik seperti yang dilakukan oleh Sumanto. Kok bisa?
Iya, karena kita telah meng-ghibah saudara kita sendiri !!!
Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut ini :

“(artinya) Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain.Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al Hujurat 12)

Di dalam ayat tersebut Allah Azza wa Jalla benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik.

As Sa’di di dalam tafsirnya menyatakan, “Allah Azza wa Jalla menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari ghibah. Allah Azza wa Jalla telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang dighibahi tadi) yang telah menjadi bangkai yang (hal ini) sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia sepuncak-puncaknya kebencian. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”.

Perlindungan Islam terhadap Kehormatan Seorang Muslim.

Dari Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda (artinya): Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya. (HR. Muslim)

Apa itu Ghibah?

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang ada pada saudara kita yang tidak disukai oleh saudara kita tersebut.

Dari Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya : Bagaimanakah jika itu memang benar ada padanya? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.(Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain)

Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan ghoib (tidak hadir
dihadapan engkau), oleh karena itu saudaramu (yang ghoib tersebut) disamakan dengan mayat, karena si ghoib tidak
mampu untuk membela dirinya. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si ghoib juga tidak mengetahui ghibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya (Bahjatun Nadzirin 3/6)

Contoh-contoh Gibah

Dari ‘Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”. Sebagian rowi berkata :”’Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata : ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” (yaitu merubah rasanya atau baunya karena saking busuk dan kotornya perkataan itu –pent, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin 3/25, dan hadits ini shohih, riwayat Abu Dawud no 4875, At- Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)

Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata :”Dia lelaki yang hitam”. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”, sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi
laki-laki itu (Kitab As-Somt no 213,753, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwwaini: “Rijalnya tsiqoh”)

Bagaimana bila ada saudara kita yang melakukan ghibah?

Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar :”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang mengghibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai mengghibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada bahaya yang jelas (pasti-red). Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu. Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib bagi dia untuk melakukannya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat”

Ghibah yang Diperbolehkan

Dan hal-hal yang dibolehkan ghibah itu ada enam (sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Adzkar), sebagaimana tergabung dalam suatu syair :
Celaan bukanlah ghibah pada enam kelompok
Pengadu (orang yang mengadukan perkara), orang yang mengenalkan, dan orang yang memperingatkan
Dan terhadap orang yang menampakkan kefasikan, dan peminta fatwa
Dan orang yang mencari bantuan untuk mengilangkan kemungkaran

Penutup

Semoga tulisan di atas dapat menjadi bahan renungan dan instropeksi setiap pribadi kita.
.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda (artinya):

Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang: (yaitu) mulut dan kemaluan.(Riwayat Thirmidzi 2004, Ahmad (2/291,292), dan lain-lain. Berkata Syaikh Salim Al-Hilali : “Isnadnya hasan”)

Berkata Imam Syafi’i :

Jagalah lisanmu wahai manusia
Janganlah lisanmu sampai menyengat engkau, sesungguhnya dia seperti ular
Betapa banyak penghuni kubur yang terbunuh oleh lisannya
Padahal dulu orang-orang yang pemberani takut bertemu dengannya

Wallohu a’lam

*Sebagian besar dikutip  dari tulisan ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda berjudul “Bencana Ghibah”

Iklan

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s