Menyenangi dunia beserta berbagai bentuk keindahan dan kemewahannya adalah sesuatu yang sudah tertanam ke dalam jiwa manusia. Allah Ta’ala berfirman :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” {Ali ‘Imron :14}.

Jika demikian, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap dunia ini?
Allah ‘Azza wa Jalla mengisahkan tentang dua golongan manusia di dalam menyikapi dan berbuat terhadap kesenangan dunia.

Golongan pertama adalah sebagaimana yang Allah Tabaroka wa Ta’ala kisahkan berikut ini.

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya[1]. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada qarun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar” {al Qashash :79}.

[1] menurut mufassir: qarun ke luar dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya (terjemah Depag RI).

Demikianlah, pada suatu hari qarun keluar di tengah-tengah masyarakatnya dengan penampilan terbaiknya. Dia tunjukkan segala kekayaan, kemewahan dan kemakmuran dirinya. Maka terpikatlah mata-mata yang melihatnya, dan terbujuklah hati-hati para pecinta dunia. Siapakah mereka para pecinta dunia? Merekalah yang keinginan-keinginannya terikat dengan dunia serta menjadikan dunia sebagai tujuan pengharapannya. Betapa besar keinginan mereka untuk mendapatkan keindahan dan kemewahan dunia sebagaimana yang sudah dimiliki oleh qarun. Terlontar dari mulut-mulut mereka ucapan yang menggambarkan apa yang ada di dalam hati-hati mereka. Mereka mengira bahwasannya qarun (dan orang-orang yang semisal dengannya) adalah orang yang beruntung, bahagia dan sukses.

Kemudian Allah melanjutkan firmanNya :

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar” {al Qashash : 80}.

Inilah manusia golongan yang kedua, orang-orang yang telah Allah anugerahi ilmu, yang mengetahui hakikat keindahan dan manisnya dunia. Dilandasi oleh rasa sayang mereka terhadap saudara-saudaranya yang tertipu oleh harta kekayaan qarun, mengalirlah untaian nasihat dari mulut mereka. Sehingga tersadarlah orang-orang yang masih menginginkan kebaikan buat diri mereka. Bahwasannya kesuksesan yang hakiki adalah pahala dan keridhoan Allah Rabbul ‘alamin, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta sabar di dalam melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Berkata Ibnu Nashir as Sa’diy rahimahullah :

(yang dimaksud) Balasan pahala dari Allah adalah balasan yang disegerakan, berupa rasa nikmat dalam beribadah dan mencintai Allah, kembali dan menghadap kepadaNya, serta balasan yang ditunda yaitu surga beserta segala kenikmatan di dalamnya berupa apa-apa yang diinginkan oleh setiap jiwa dan indah dalam pandangan mata. Semua itu adalah lebih baik dari apa yang diinginkan dan diangankan oleh para pencinta dunia. Semua itu hanya disediakan untuk orang-orang yang sabar.

Siapakah orang yang sabar? Yaitu orang-orang yang menahan diri mereka di dalam menjalankan amal ketaatan, dari menjauhi maksiat, bersabar atas musibah yang menimpanya, dan dari keinginan terhadap syahwat dunia yang dapat menyibukkan diri mereka dari Rabb mereka dan berpaling dari tujuan penciptaan mereka (yaitu untuk beribadah kepada Allah). Merekalah orang-orang yang mewarisi pahala dari Allah.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

Firman Allah “pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh” yakni balasan dari Allah untuk hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih di negeri akhirat adalah lebih baik dari apa yang kalian lihat. Sebagaimana di dalam sebuah hadist shahih yang diriwayatkan oleh imam Muslim (shahih Muslim 2824):

Allah Ta’ala berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hambaKu yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam hati seorangpun. (Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata) bacalah jika kalian mau :

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (as Sajdah :17).

Setelah mengetahui dua golongan ini, maka kepada golongan manakah Anda hendak bergabung?

Wallohu a’lam.

Referensi :
Al Quran + terjemah Depag RI
Tafsir as Sa’diy
Tafsir Ibnu Katsir

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s