Seorang ustadz muda berkisah kepada adik-adik santrinya, tentang kondisi kaum musyrikin jahiliyah saat diutusnya Rasul yang mulia Muhammad ShallAllohu ‘alaihi wa salla, yaitu tentang 360 berhala yang dipajang disekeliling Ka’bah yang senantiasa mereka sembah. Sang ustadz juga mengisahkan tentang bagaimana Umar bin Khattab radhiyAllohu ‘anhu tertawa ketika mengingat masa lalunya, yang mana dia pernah membuat sebuah berhala dari bahan roti. Ketika suatu saat dia merasa lapar, dimakanlah berhala yang dia buat sendiri itu.

Begitulah di antara kondisi masyarakat jahiliyah waktu itu. Mungkin banyak di antara kita yang pernah mendengar kisah-kisah tersebut ketika kita mengaji di waktu kecil. Gambaran seperti apakah yang ada di benak kita waktu mendengar kisah tersebut? Apakah kita (dahulu) membayangkan tentang sekelompok kaum primitif yang sama sekali tidak mengenal Tuhan kecuali berhala-berhala yang mereka sembah? Apakah kita membayangkan bahwa sebegitu bodohnya mereka sehingga mereka menyangka bahwa berhala-berhala itulah yang menciptakan dunia dan seisinya, yang menciptakan gunung dan lautan, yang menciptakan manusia, binatang dan tumbuhan, yang menurunkan hujan dan membagi rizki, yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya? Hmm…paling tidak itulah yang pernah terlintas di pikiran saya waktu kecil.

Namun kemudian baru saya ketahui, ternyata sangkaan saya keliru. Kaum musyrikin jahiliyah adalah orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan berkaitan dengan makna kalimat tauhid mereka lebih memahaminya ketimbang banyak dari kaum muslimin saat ini.

Mari kita simak firman Allah Ta’ala berikut ini :

(Artinya) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” {Az Zukhruf : 9}

Pada ayat di atas Allah menceritakan keyakinan mereka bahwa pencipta langit dan bumi adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

(Artinya) Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )? {Az Zukhruf : 87}

Pada ayat di atas Allah menceritakan keyakinan mereka bahwa pencipta diri mereka adalah Allah Ta’ala.

(Artinya) Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah.” Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. {Az Zumar : 38}

Pada ayat di atas Allah menceritakan keyakinan mereka bahwa Allah Ta’ala adalah pencipta alam semesta, Allah yang mampu memberikan rahmat dan menolak bahaya.

Apabila demikian keadaan mereka, lantas apa yang membuat mereka berpaling dan menentang ajaran Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam?

Kalimat Tauhid! Ya, kalimat Laa Ilaaha IllAlloh itulah yang menjadi sebab permusuhan dan peperangan antara Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam dengan kaumnya, musyrikin jahiliyah. Mereka mengetahui makna kalimat tersebut, siapa yang mengucapkan dan meyakininya, maka memberikan konsekuensi untuk meninggalkan apa-apa yang mereka sembah sebelumnya. Tidak ada lagi ajaran bapak moyang melainkan Al Quran, petunjuk Rasul dan apa-apa yang sejalan dengan keduanya. Tidak ada lagi “perantara” yang mereka jadikan sarana untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.

(Artinya)  Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. {Az Zumar : 3}

Setelah kita memahami beberapa hakikat keadaan kaum musyrik jahiliyah terdahulu, mari kita sejenak melayangkan pandangan ke sekeliling kita. Kepada diri kita, keluarga kita, tetangga kita, masyarakat kita, teman dan rekan sejawat, kepada saudara-saudara kita kaum muslimin. Bandingkanlah keadaan mereka dengan keadaan kaum musyrikin di zaman Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam. Niscaya akan kita dapati banyak di antara mereka yang serupa dengan orang-orang musyrik musuh Rasulullah  shallallohu ‘alaihi wa sallam dahulu.

Ada di antara mereka yang datang ke kubur-kubur wali yang mereka keramatkan, kemudian mereka meminta kesuksesan dunia, peruntungan, penglaris, gampang jodoh, dll dari urusan dunia kepada penghuni kubur yang sama sekali tidak mampu memenuhi sedikitpun permintaan mereka. Atau mereka meminta kepada Allah namun dengan perantara orang-orang yang sudah meninggal tersebut. Perhatikan kesamaannya dengan perbuatan kaum musyrik jahiliyah ! “Betapa miripnya malam ini dengan malam kemarin”.

Ada pula di antara mereka yang mendatangi tukang ramal dan ahli nujum. Mereka begitu percaya dengan bualan busuk yang keluar dari orang-orang yang celaka itu. Seolah merekalah yang memegang kunci masa depan. Seolah takdir ada di tangan mereka. Ada pula yang ramai-ramai berbondong-bondong mendatangi seorang anak kecil yang menemukan sebuah batu dan mengaku-aku dapat memberikan keberkahan dan kesembuhan.

Ada di antara mereka yang mengatasnamakan adat dan kebudayaan, melarung sesaji kepada jin-jin penghuni lautan, gunung, lembah, dan tempat-tempat yang dikeramatkan. Mereka berharap keberkahan dan tolak bala dari ritual tersebut maupun dari sesaji yang dibagikan. Renungkanlah, bagaimana mereka sholat menghadap Tuhannya, namun di lain waktu mereka berharap dan tunduk kepada bangsa jin!.

Sebagian contoh di atas adalah keyakinan dan amalan yang muncul akibat ketidaktahuan tentang hakikat makna kalimat Laa Ilaaha Illa Alloh. Bahkan keyakinan dan amalan-amalan tersebut adalah sebagian pintu dari pintu-pintu yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan kekufuran.

Terakhir, hendaknya kita selalu waspada dengan segala macam bentuk kemusyrikan maupun sarana menuju kemusyrikan. Syirik adalah dosa dan bahaya terbesar. Menjadi kewajiban masing-masing kita untuk melindungi diri dan keluarga kita darinya.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari melakukan perbuatan syirik yang aku ketahui, dan aku mohon ampunanMu dari syirik yang tidak aku ketahui”

Wallohu a’lam.

Iklan

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s