Oleh : Syaikh Shalih bin Fauzan

Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan “tawakkal” ? Apa sebenarnya hakikat tawakkal itu? Apakah tawakkal kepada Allah hanya pada hal-hal yang berat, ataukah pada segala sesuatu? Bagaimana bantahan Anda terhadap orang yang memahami tawakkal dengan ‘tawaakul’ (saling bergantung/ mempercayai) dan tidak melakukan sebab?

Jawab : Secara bahasa (etimologis), tawakkul bermakna penyandaran/ ketergantungan dan pemberian kuasa.  Tawakkal kepada Allah bermakna bersandar/ bergantung kepada Allah dan menguasakan sesuatu kepada Nya.

Hukum tawakkal adalah wajib, dan harus ikhlas ditujukan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :

(artinya) Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman [al Maidah : 23]

(artinya) jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri (muslim) [Yunus : 84]

Pada kedua ayat di atas Allah telah menjadikan tawakkal sebagai syarat keimanan dan keislaman, yang mana hal tersebut menunjukkan pentingnya tawakkal. Tawakkal mengumpulkan berbagai macam ibadah, termasuk kedudukan tauhid yang paling tinggi, paling agung dan paling besar, dikarenakan dari tawakkal akan muncul amal yang shalih.

Tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala direalisasikan pada setiap hal, bukan hanya pada sebagian keadaan. Tawakkal kepada Allah Ta’ala tidak berarti mengabaikan sebab, karena Allah telah memerintahkan tawakkal dan juga memerintahkan untuk mengambil sebab. Allah Ta’ala berfirman :

(artinya) Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi [al Anfal : 60]

(artinya) bersiap siagalah kamu [an Nisa’ : 71]

Akan tetapi tidak boleh bergantung kepada sebab di dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkan. Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertawakkal, akan tetapi beliau membawa senjata, memakai baju besi dan topi/ helm penutup kepala (ketika berperang – terj).

Di saat orang-orang berangkat haji tanpa membawa perbekalan sehingga menjadi beban bagi orang lain, sedangkan mereka menyangka diri mereka adalah orang-orang yang bertawakkal, maka Allah menurunkan ayat :

(artinya) Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa [al Baqarah : 197]

Oleh karenanya dikatakan : bersandar kepada sebab adalah kesyirikan, meninggalkan sebab adalah celaan kepada syariat,  jangan jadikan tawakkal kalian sebagai sebuah kelemahan, dan jangan jadikan kelemahan kalian sebagai tawakkal, akan tetapi sesungguhnya surga itu tidak dapat diperoleh kecuali dengan sebab, yaitu amal shalih.

Wallohu a’lam.

Sumber : al Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan, juz 1 No. 15

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s