Contoh pertama :

Suatu ketika, seseorang yang sudah tipis rasa malunya melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan di muka umum. Dengan tanpa sungkan seorang wanita berjalan di antara orang banyak dengan memakai busana yang ketat dan seksi memamerkan lekuk tubuhnya, seolah hendak memanggil setiap lelaki yang dijumpainya supaya menggodanya. Seorang pria yang sudah tak tahan memperhatikan wanita tersebut akhirnya melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Marahlah si wanita. Melihat kejadian itu, seorangpemuda muslim yang begitu bersemangat di dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar – berbekal ilmu yang diketahuinya- mencoba menasihati kedua orang tadi. Kepada si wanita, dia mengingatkan atas fitnah yang ditimbulkan oleh penampilan seronoknya, supaya dia memakai baju yang sopan dan menutup auratnya sesuai dengan syariat. Dia ingatkan akan akibat buruk yang akan menimpanya apabila dia tetap meneruskan kebiasaan jeleknya itu. Si wanita pun menjawab dengan ketus, “apa urusanmu denganku? urus saja dirimu sendiri!”

Kemudian kepada pria penggoda pelaku pelecehan seksual, dia pun menyampaikan nasihatnya supaya dia menjaga pandangannya dan menahan hawa nafsunya dari bertindak melampaui batasan ajaran agama. Bukannya berterima kasih atas nasihat yang diberikan, dia malah membalas, “ga usah sok suci gitu, munafik ! kamu aja juga ikut menikmatinya kan?”

Contoh kedua :

Suatu ketika di sebuah masjid usai shalat berjamaah, dua orang duduk bersebelahan dalam satu shaf. Mereka sedang membaca wirid setelah shalat fardhu. Selesai berdzikir, salah seorang di antaranya mengakhiri wiridnya dengan bersujud sebentar kemudian berdiri untuk beranjak pergi. Orang di sebelahnya heran dan bertanya tentang sujudnya itu. Dia menjawab, “itu adalah kebiasaanku mengakhiri wirid shalat fardhu, untuk berdoa kepada Allah, karena doa ketiak sujud adalah mustajab”. Si penanya bertanya kembali, “Apakah Anda memiliki contoh dari Nabi atau sahabat beliau atau dari para salaf mengenai hal itu, ataukah itu atas inisiatif Anda sendiri?” Dia menjawab, “atas inisiatiku sendiri.” Maka berbekal ilmu yang diketahuinya terlontar nasihat, “Wahai saudaraku, setiap ibadah haruslah ada contoh dan tuntunannya. Seandainya perbuatan itu baik, niscaya Nabi dan para sahabat beliau akan mendahului kita dalam mengamalkannya. Saudaraku, itulah bid’ah yang dicela oleh Nabi kita dengan ancaman neraka. Janganlah kita menambah apa yang tidak dikerjakan oleh salaf kita.” Mendengarnya, dia menimpali, “Sudahlah, tidak usah merasa benar sendiri. Apakah kapling surga itu Anda yang menentukan? Sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit neraka. Urus saja diri Anda sendiri, bagaimana dengan ibadah Anda?”

Contoh ketiga :

Seorang bapak sedang tertimpa musibah. Anak semata wayangnya sudah berbulan-bulan  sakit dan tak kunjung sembuh. Sudah di bawah ke rumah sakit dan dokter spesialis, namun belum ada tanda-tanda kesembuhan. Akhirnya si bapak pun mendatangi “orang pintar” setelah mendapatkan referensi dari kerabatnya. Sesuai petunjuk si “orang pintar”, si bapak harus melakukan ritual ruwatan untuk anaknya, yang di antara syaratnya adalah menyediakan seekor ayam jantan hitam yang setelah disembelih kepalanya harus dibungkus kain kafan putih dan di larung di sungai dekat rumahnya. Demi melihat hal itu, seorang tetangga -berbekal ilmu yang diketahuinya- mencoba untuk mengingatkan akan kesalahan yang dilakukannya, bahwa perbuatan tersebut dapat menjerumuskan kepada keyakinan syirik, dan bahwa penyembelihan hanyalah untuk Allah saja.  Si bapak menjawab, “Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi sebaiknya Anda tidak usah ikut campur urusan saya. Saya hanya berikhtiar. Memangnya Anda bisa mengobati penyakit anak saya ini?”

Contoh lain :

Tanggal 1 sura (1 muharram), seorang bapak sedang melakukan ritual ruwatan untuk keluarganya. Ini adalah kebiasaan turun-temurun dalam keluarga tersebut dalam rangka tolak bala dan musibah. Seorang tetangga -berbekal ilmu yang diketahuinya- mencoba mengingatkan kekeliruan keluarga tersebut, bahwa cara menolak bala adalah dengan bertakwa kepada Allah dan beramal shalih. Dia juga mengingatkan supaya keluarga tersebut bertawakkal hanya kepada Allah. Si bapak menjawab, “Ini adalah adat turun-temurun dari nenek moyang kami. Kita harus menghargai dan menghormati ajaran mereka. Jangan disangkut-pautkan dengan agama dan kesyirikan!”

……

Anda pembaca, ada yang tau bedanya dari keempat contoh di atas?

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s