khwany fillah,
Berikut adalah nukilan fawaid dari kitab An-Nubadz karya Syaikh Hamd bin Ibrahim –hafizhahullah ta’ala-.
Pada halaman 89 beliau menyebutkan bahwa Ibnu ‘Abdil Bar –rahimahullah- berkata:
“Seorang ‘alim itu tidak akan terlepas dari kekeliruan. Barangsiapa sedikit kekeliruannya dan banyak benarnya maka dia itulah seorang ‘alim. Barangsiapa banyak kekeliruannya dan sedikit benarnya maka dia itulah seorang jahil (bodoh)”.
Pada halaman 217 beliau menyebutkan bahwa Al-Ajurry –rahimahullah- berkata:
“Jika dia berfatwa dalam suatu masalah lalu dia menyadari bahwa fatwanya keliru maka dia tidak enggan untuk rujuk dari kekeliruan itu. Dan jika dia berkata dengan suatu ucapan kemudian dibantah oleh orang yang lebih berilmu darinya atau setara dengannya atau dibawah derajat keilmuannya, lalu dia menyadari bahwa perkaranya seperti perkataan orang yang membantahnya maka dia rujuk dari ucapannya dan memuji orang yang menegurnya dan bersyukur kepadanya”.
Pada halaman 218 beliau menyebutkan bahwa Abul ‘Abbas Al-Mubarrid –rahimahullah- berkata:
Sesungguhnya orang yang keliru kemudian dia rujuk dari kekeliruannya maka tidak terhitung sebagai orang yang salah, karena dia telah keluar dari kesalahannya dengan rujuknya itu. Hanya saja kesalahan yang nyata adalah yang bersikukuh dalam kesalahannya dan dia tidak rujuk dari kesalahannya, maka yang seperti ini dianggap sebagai pendusta yang terlaknat”.
Dan berikut ini adalah nukilan dari penjelasan Syaikh Muhammad Al-Imam –hafizhahullah- dalam dars Kitab Shaum dalam Shahih Al-Bukhary yang disampaikan tanggal 06 Agustus 2009, beliau berkata:
“Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad dari Qatadah dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa dia berkata: “Abu Hurairah telah rujuk dari fatwanya bahwa orang yang junub ketika fajar tidak ada puasa baginya. Atsar ini shahih dan ini menunjukkan akan adabnya Abu Hurairah, bahwa dia adalah orang yang berilmu . Karena setiap orang yang berilmu dia akan bertaqwa, merasa diawasi oleh Allah ta’ala dan akan beradab. Maka Abu Hurairah rujuk dari kekeliruannya, menjelaskan hal itu dan rujuk kepada kebenaran. Maka ini adalah bentuk baiknya seorang alim dan ketaqwaannya.”
Demikian nukilan ini semoga menjadi pelajaran bagi kita wallahu a’lam bi shawab.

Dikirim via email oleh  ‘Umar Al-Indunisy (Ma’bar / Yaman)

http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1730

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s