(Disarikan dari Makarimu al Akhlaq, oleh Syaikh Muhammad al Utsaimin rahimahullah)

Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقاً

”Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”

[Abu Dawud : 4682, Tirmidziy : 1162, Ahmad : 2/472, lihat Sahihul Jami’ : 1230, 1232].

Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

”Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

[Ahmad : 2/381, Hakim : 2/613 beliau mensahihkannya sesuai syarat Muslim dan disepakati oleh Dzahabiy, Bukhariy dalam Adab al Mufrad : 273, Baihaqiy : 10/192, Ibnu Abi Dunya dalam Makarim al Akhlaq : 13, al Haitsamiy berkata dalam Majma’ az Zawaid : 9/15, ”diriwayatkan oleh Ahmad, rijalnya sahih”. Disahihkan pula oleh Albaniy dalam Silsilah as Sahihah : 45]

Akhlak, antara pembawaan dan yang diusahakan

Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asyaj Abdul Qais:

إن فيك لخلقين يحبهما الله: الحلم والأناة” قال يا رسول الله, أهما خلقان تخلقت بهما, أم جبلني الله عليهما, قال: “بل جبلك الله عليهما”. فقال: “الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

”Sungguh di dalam dirimu ada dua akhlak yang dicintai oleh Allah, yaitu santun dan sabar.” Dia bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah keduanya akhlak yang aku usahakan ataukah memang Allah telah menjadikan keduanya (sebagai pembawaan) pada diriku?”. Rasulullah bersabda, ”Allah yang telah menciptakan keduanya ada pada dirimu.” Maka dia berkata, ”Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan bagiku dua akhlak yang dicintai olehNya dan oleh RasulNya.”

[Abu Dawud : 5225, Ahmad : 4/206, Muslim (pada lafadz bagian awalnya) : 25 dan 26, Tirmidziy :  2011]

Kekeliruan Anggapan Sebagian Orang

Banyak orang yang beranggapan bahwa akhlak mulia hanya berhubungan dengan pergaulan antara sesama manusia dan makhluk hidup lainnya. Ini adalah pemahaman yang kurang, karena sebagaimana akhlak yang mulia dituntut dalam pergaulan antar sesama, akhlak mulia juga dituntut dalam bermuammalah kepada Allah Sang Pencipta.

Bagaimana Berakhlak mulia dalam Bermuammalah kepada Allah Ta’ala?

  1. Membenarkan berita yang datangnya dari Allah Ta’ala.
  2. Menerapkan dan melaksanakan hukum-hukumNya.
  3. Menerima takdirNya dengan sabar dan ridha.

Bagaimana Definisi Akhlak Mulia Kepada Sesama?

Sebagian ulama mendefinisikan “akhlak mulia” kepada sesama dengan : “tidak menyakiti, murah hati dan wajah yang berseri-seri”.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن” قالوا: من يا رسول الله؟ قال: “من لا يأمن جاره بوائقه

”Demi Allah, tidaklah beriman; demi Allah tidaklah beriman; demi Allah tidaklah beriman”. Para sahabat bertanya, ”Siapakah wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda, ”orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.”

[Bukhari : 6061]

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تحقرن من المعروف شيئاً ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

”Janganlah engkau menganggap remeh kebaikan sedikitpun, meski (dengan) engkau jumpai saudaramu dengan wajah berseri.”

[Muslim : 144, Tirmidzi : 1833]

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خيركم لأهله, وأنا خيركم لأهلي

”Orang yang paling baik adalah yang yang baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

[Tirmidziy : 3895, Ibnu Hibban : 1312, Ibnu Majah : 1977]

Beberapa Cara Untuk Meraih Akhlak Mulia :

  1. Memperhatikan perbuatan-perbuatan yang dipuji di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah untuk segera diamalkan.
  2. Bersahabat dengan orang yang berakhlak mulia.
  3. Merenungi akibat yang ditimbulkan dari jeleknya akhlak.
  4. Senantiasa menghadirkan indahnya akhlak Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam.

Beberapa Contoh Akhlak Mulia :

  1. Menyambung silaturahmi terhadap kerabat yang memutuskannya
  2. Memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadanya
  3. Berbuat baik kepada kedua orang tua
  4. Berbuat baik terhadap tetangga
  5. Berbuat baik kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh
  6. Bersikap lembut terhadap pembantu
  7. Tidak angkuh, sombong, jahat dan merendahkan kedudukan orang lain

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ليس الواصل بالمكافئ إنما الواصل من إذا قطعت رحمها وصلها

”Bukanlah dianggap menyambung (silaturahmi) kepada orang yang bersilaturahmi kepadanya, akan tetapi orang yang menyambung (silaturahmi) adalah orang yang bersilaturahmi kepada orang yang memutuskannya”

[Bukhari : 5991]

Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

[Fushshilat : 34]

Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa…”

[An Nisa’ : 36]

قال رجل يا رسول الله من أحق الناس بحسن مصاحبتي؟ قال: “أمك” قال: ثم من؟ قال: “أمك” قال ثم من؟ قال: “أمك” قال ثم من؟ قال: “أبوك

”Seseorang bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab, ”ibumu.” Dia bertanya lagi, ”kemudian siapa?” Beliau berkata, ”ibumu.” Dia bertanya lagi, ”kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”ibumu” Dia bertanya lagi, ”kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”ayahmu.”

[Bukhari : 5971]

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخورًا

“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

[An Nisa’ : 36]

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر, فليكرم جاره

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tetangganya.”

[Bukhari : 6019]

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا وقال بأصبعيه السبابة والوسطى

”Di surga nanti, Aku dan penanggung anak yatim adalah seperti ini –beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya-.”

[Bukhari : 6005]

Kesempurnaan Akhlak Nabi Shallallohu ’alaihi wa sallam

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

[Al Qalam : 4]

عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ

أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

{ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ }

”Dari Sa’d bin Hisyam bin ’Amir berkata, ”saya datang kepada ’Aisyah radhiyallohu ’anha dan bertanya kepadanya, ’Ceritakan kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam.’ Beliau berkata, ’Akhlak beliau adalah Al Quran. Tidakkah engkau membaca firman Allah ’Azza wa Jalla ’ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

[Ahmad : 23460]

Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam juga berakhlak mulia terhadap anak-anak kecil, bersikap lembut dan bercanda dengan mereka. Pernah beliau berkata kepada salah seorang anak,

يا أبا عمير, ما فعل النغَيْر؟

”Wahai Abu ’Umair, apa yang terjadi dengan burung kecil itu?” [Bukhari : 6203]

Di mana pada saat itu anak kecil yang bernama Abu ’Umair sedang membawa seekor burung kecil yang terluka sehingga terlihat kesedihan di raut mukanya.

Suatu ketika seorang arab dusun /badui datang kemudian kencing di dalam masjid. Orang-orang pun membentak dan menghardiknya dengan keras. Akan tetapi Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam melarang mereka. Begitu selesai kencing, Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil seember air dan menuangnya di tempat kencingnya itu. Beliau memanggil si arab dusun dan bersabda kepadanya,

إن هذه المساجد لا يصلح فيها شيء من الأذى والقذر إنما هي للصلاة وقراءة القرآن

”Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk dikotori. Masjid hanyalah tempat untuk shalat dan membaca Al Quran.”

[Bukhari : 219]

Suatu ketika seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam dan berkata, ”Wahai Rasulullah, celaka aku!” Beliau berkata, ”Apa yang membuatmu celaka?” Dia berkata, ”Aku telah menggauli istrika di siang bulan Ramadhan.” Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Apa engkau punya sesuatu untuk memerdekakan seorang budak?” Dia berkata, ”tidak.” Beliau bertanya, ”Apa engkau sanggup untuk berpuasa dua bulan penuh?” Dia berkata, ”Tidak.” Beliau bertanya, ”Apa engkau punya sesuatu untuk memberi makan 60 orang miskin?” Dia berkata, ”tidak.” Kemudian dia pun duduk. Setelah itu Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam datang dengan membawa sekeranjang kurma dan memberikannya kepada orang tersebut. Beliau berkata, ”Bersedekahlah dengan ini!” Orang itu berkata, ”Kepada yang lebih fakir dari kami? Tidak ada yang lebih membutuhkan dari kami.” Maka Nabi shallallohu ’alaihi wa sallam pun tertawa sehingga terlihat gigi taring beliau. Beliau berkata, ”Pergilah dan beri makan keluargamu dengan itu!”.

[Bukhari : 1936]

Allohu a’lam

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s