Kemaren mampir di sebuah website yang adminnya memposting “cuplikan Ihya ‘Ulumuddin karya Al Ghazaliy“. Selesai membaca postingan, saya lanjutkan membaca beberapa dari sekian banyak komentar yang masuk. Ada di antaranya yang berlebihan menyanjung Imam al Ghazaliy sampai-sampai ada yang berkata “sungguh jika ada nabi terakhir dalam islam ia adalah imam al ghozali…”. Ada pula yang ANEH, mengait-ngaitkan postingan ini dengan mencela “salafi wahabi” bahkan ada yang berkata, “bnu taiiiiimia bersama anteknya…” sebagai pencela sang imam. Tentu saja komen-komen seperti itu tidaklah keluar melainkan karena ketidaktahuan dan syubhat yang ada di hati-hati mereka.

Pertama yang harus diketahui dan disadari oleh setiap muslim, bahwa tidak ada yang ma’shum (terjaga dari melakukan dosa) kecuali para Nabi dan Rasul -semoga shalawat dan salam atas mereka semua-. Dengan begitu manusia selain mereka terkadang benar dan terkadang keliru, bahkan berbuat dosa. Tidak ada satu pun yang terluput darinya, baik kalangan awamnya maupun orang alimnya.

Al Imam al Ghazaliy, tidak dipungkiri beliau adalah salah satu ulama Islam yang cerdas dan mumpuni dalam keilmuannya. Pun begitu bukan berarti beliau tidak memiliki kekurangan dan kesalahan. Bahkan ulama-ulama yang lebih alim dari beliau pun terkadang keliru dan salah. Kewajiban setiap muslim adalah mengambil pendapat para ulama yang mencocoki Al Quran dan As Sunnah yang sahih sesuai kemampuannya memahami perkataan para ulama besesrta dalil-dalil yang dikemukakan.

Terkhusus kitab “Ihya ‘Ulumuddin” karya Imam Al Ghazaliy rahimahullah, berikut beberapa komentar para ulama sesudahnya (diambil dari buku yang disusun oleh Syaikh Ali bin Hasan) yang mana sebagiannya saya kutip dari beberapa ulama madzhab Syafi’iyah, karena madzhab inilah yang banyak diakui dianut oleh kaum muslimin di Indonesia :

1. Abu Bakar Ibnu Al’Arabi (543 H)

Adz Dzahabi berkata dalam As Siyar juz 19 hal 337: Di dalam Al Ihya terdapat (pembahasan) tentang tawakal yang tertulis (sebagai berikut),

“Dan setiap apa yang ditetapkan Allah atas hamba-hamba-Nya berupa rizki, ajal, iman dan kufur, semua itu merupakan keadilan yangmurni dari Allah, tidak ada yang lebih baik dan lebih sempurna dari hal itu. Seandainya ada (yang lebih baik dan lebih sempurna dari hal itu) dan Allah menyembunyikannya, padahal Dia mampu (untuk melakukannya) tetapi Dia tidak melakukannya, maka sungguh hal itu adalah sebuah kebakhilan dan kezhaliman (penganiayaan).”

Abu Bakar Ibnul ‘Arabi berkata dalam (kitab) Syarhul Asmail Husna:

Syaikh kami Abu Hamid telah mengatakan perkataan yang besar sehingga para ulama mengkritiknya, ia (Al Ghazali) berkata, “Tidak ada yang lebih indah dalam qudrah (kemampuan) Allah daripada (terciptanya) alam ini dalam hal kekokohan dan keindahannya. Andaikan dalam qudrah-Nya ada yang lebih indah atau lebih kokoh dari alam ini namun Dia tidak melakukannya, maka hal tersebut menghilangkan sifat kemurahan yang Ia miliki, dan itu adalah mustahil.”

Kemudian ia (Ibnul ‘Arabi) berkata:

Tanggapan dari pernyataan tersebut adalah bahwa ia (Al Ghazali) telah jauh dari keyakinan terhadap qudrah yang dipahami secara umum dan ia membantah penentuan taqdir dan hal-hal yang berhubungan dengannya yang telah selesai pembahasannya, hanya saja takdir tersebut telah selesai pembahasannya pada tema seputar alam ini saja, bukan dalam selainnya.

Pernyataan Al Ghazali di atas adalah pendapat para ahli filsafat yang dimaksudkan untuk membolak-balikan fakta, sebagaimana pemikiran mereka yang mengatakan bahwa kesempurnaan adalah sebuah hasil dari proses kehidupan dan keberadaan adalah hasil dari proses mendengar dan melihat, sehingga hati manusia menjadi sulit untuk menemukan kebenaran.

Umat telah bersepakat untuk menyelisihi keyakinan di atas (dan mereka menyatakan), “Sesungguhnnya apa-apa yang telah ditaqdirkan itu tidaklah memiliki akhir, bagi setiap yang ditakdirkan memiliki keberadaan (wujud) dan tidaklah setiap hasil itu memiliki keberadaan (wujud), karena al qudrah itu selalu tepat.”

Kemudian ia (Ibnul ‘Arabi) melanjutkan: Pendapat seperti ini (pendapat Al Ghazali) tidak pernah dibenarkan oleh Allah dan harus dihilangkan….

2. Al-Qadli ‘Iyad (544 H)

Ia Berkata:

Syaikh Abu Haamid (Al Ghazali) memiliki karangan-karangan yang berlebihan dalam membahas tarekat sufinya dan memuat berita-berita yang keji yang tiada bandingnya dalam rangka membela mazhabnya. Sehingga ia menjadi seorang penyeru kepada jalan tersebut. Beliau telah menyusun karangan yang terkenal sehingga ia harus (menerima celaan) karena beberapa perkara yang ada pada tulisannya itu, sehingga buruklah sangkaan umat terhadapnya.

Allah lebih mengetahui tentang rahasia-Nya. Perintah penguasa berlaku bagi kami di Maroko dan para fuqaha (ahli fiqih) telah ber-fatwa agar membakar kitab tersebut dan menjauhinya, maka (perintah) itupun ditaati (Siyar A’lamin Nubala XIX/327)

3. An Nawawi (676 H)

An Nawawi pernah ditanya tentang shalat raghaib yang sering dilakukan orang di malam Jum’at pertama di bulan Rajab, apakah ia merupakan sunnah, keutamaan ataukah bid’ah? Maka beliau menjawab: la adalah bid’ah yang buruk lagi diingkari dengan pengingkaran yang sangat keras. Kemudian ia berkata: Janganlah kamu tertipu dengan banyaknnya orang yang melakukan amalan tersebut di banyak negeri dan tidak pula karena ia disebutkan dalam (kitab) Quutul Qulub atau Ihya Ulumuddin dan semisalnya maka sesungguhnya shalat itu adalah bid’ah yang batil.

4. Adz Dzahabi (748 H)

Beliau berkata dalam As Siyar An Nubala’ jilid 19 hal 339:

– Di dalam (kitab) Al Ihya banyak terdapat hadits yang batil. Selain itu juga terdapat kebaikan yang banyak seandainya tidak dimasukkan di dalamnya adab-adab, perjalanan-perjalanan dan kezuhudan yang berasal dari cara-cara ahli hikmah dan orang-orang sufi yang menyimpang.

Kita memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat. Tahukah engkau ilmu yang bermanfaat itu? Ilmu yang bermanfaat adalah apa-apa yang ada di Al Qur’an dan ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam secara lisan atau perbuatan.

Sampai ia berkata:

Hati-hatilah kamu terhadap pendapat para pengikut filsafat, kewajiban-kewajiban (kebiasaan) ahli latihan jiwa (riyadlah), laparnya para rahib dan perkataan-perkataan dari orang yang kurang akal yang suka berkhalwat (menyepi). Setiap kebenaran adalah yang sesuai dengan ajaran Islam yang lurus dan mudah, Ya Allah tolonglah, Ya Allah tunjukkanlah kami kepada jalan-Mu yang lurus.

Beliau rahimahullah berkata juga dalam (kitab) Mizanul I’tidal jilid 1 hal 431 dalam biografi Al Harits Al Muhasibi setelah menukil dari Abu Zur’ah tentang larangannya membaca Kitab-kitab Al Harits, ia berkata:

Bagaimanakah seandainya beliau melihat tulisan-tulisan Abu Hamid Al Ghazali At Thusi dalam Al Ihya yang di dalamnya banyak terdapat hadits-hadits palsu.

5. Tajuddin As-Subki (771 H)

Beliau berkata dalam (kitab) Thabaqat Asy Syafi’iyyah jilid 4 hal 145 dalam biografi Al Ghazali:

Di pasal ini aku kumpulkan semua hadits yang ada di kitab Al Ihya yang belum aku dapatkan sanadnya.

Beliau (As Subki) berkata:

Jumlah hadits-hadits itu sekitar 943 hadits (yang tidak ada asalnya). Sedangkan hadits yang punya sanad tetapi dlaif atau maudlu’ barangkali berlipat ganda dari jumlah ini!

As Subki juga berkata saat ia membantah terhadap penolakan At Thurthusi dan Al Maazari (1) atas Al Ihya:

Adapun apa-apa yang dicela dalam Al Ihya tentang pendlaifan sebagian hadits-haditsnya, adalah benar karena telah diketahui bahwasanya Al Ghazali tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang hadits. Dan umumnya berita-berita dan atsar-atsar yang ada di dalamnya merupakan (nukilan) dari berbagai macam kitab orang sufi dan para fugaha (ahli fiqih) sebelumnya. Dan orang ini (Al Ghazali) belum pernah menjelaskan sanad untuk satu hadits pun.

(1)  (Imam Al Alusi berkata dalam Gaayatul Amaani (II/268), kemudian Ibnu As Subki menjawab sebagian apa-apa yang ditentang oleh Al Maazari Ath Thurthusyi dengan jawaban yang diwarnai dengan sifat fanatik terhadap madzhabnya sebagaimana  kebiasaanya,   bersamaan dengan itu ia tidaklah mungkin dapat mengingkari kejahilan Al Ghazali tentang hadits.

6. Ibnu Katsir (774 H)

Beliau berkata dalam kitab AlBidayah wan Nihayah jilid 12 hal. 174 tentang Al Ghazali:

Dalam masa tersebut ia menulis kitab yang berjudul Ihya Ulumuddin yang merupakan kitab yang mengherankan dan mencakup banyak ilmu dari ilmu-ilmu syari’at. Kitab ini telah tercampur dengan sesuatu yang halus yang berasal dari (ajaran) tasawuf dan amalan-amalan hati. Akan tetapi di dalamnya terdapat hadits-hadits yang aneh, mungkar dan maudlu'(palsu), sebagaimana terdapat di dalam kitab-kitab cabang yang dapat diambil darinya hukum halal dan haram. Akan tetapi kitab Ihya ini berguna untuk melunakkan hati, memberi kabar gembira dan mengancam (akan azab).

Abul Faraj Ibnul Jauzi begitu juga dengan Ibnu Ash Shalah telah berulangkali mencela Al Ghazali, bahkan Al Maazari ingin membakar kitab Ihya Ulumuddin tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya yang tinggal di belahan bumi bagian barat.

Mereka berkata, “(Kitab Ihya) ini adalah kitab penghidup ilmu-ilmu agamanya (Al Ghazali). Sedangkan kami, menghidupkan ilmu-ilmu agama kami dengan kitabullah (Al Quran) dan Sunnah Rasul-Nya.” Sebagaimana yang telah saya tulis pada biografinya dalam kitab At Thabaqat.

Sungguh Ibnu Syakr telah meneliti di beberapa tempat dalam Ihya Ulumuddin sekaligus menjelaskan penyimpangannya dalam sebuah kitab yang bermanfaat. Al Ghazali sendiri pernah berkata, “Perbendaharaanku dalam ilmu hadits sangat sedikit.”

Demikianlah beberapa komentar para Ulama Islam (yang juga diakui ke’ulamaannya oleh sebagian besar kaum muslimin di Indonesia) mengenai kitab Ihya ‘Ulumuddin.

Khusus mengenai komentar tentang Ibnu Taimiyyah rahimahullah, maka :

Ketahuilah, bahwa beliau adalah guru dari Imam Ibnu Katsir dan adz Dzahabi rahimahumalloh !!! Mereka berdua banyak memuji dan menyanjung Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitab mereka.  Beranikah mereka mencela dan merendahkan murid Ibnu Taimiyyah semisal Ibnu Katsir?

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s