ADAB NIAT

(petikan dari kitab “Minhaju al Muslim” oleh Abu Bakar al Jazairy dengan tasharruf)


Saudaraku yang mulia:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ini adalah surat dari saudaramu yang hendak menasihatimu, sangat mengingkan kebaikan untukmu, berharap engkau bahagia di dunia ini dan di akhirat kelak, yang mencintai kebaikan bagimu di mana pun engkau berada.
Saudaraku,
Seorang muslim beriman akan pentingnya niat, dan relevansinya terhadap setiap amalan agama dan keduniaan, karena semua amal bergantung padanya. Niat yang menentukan kuat atau lemahnya amalan, begitu pula sah atau tidaknya amalan. Keimanan seorang muslim akan wajibnya niat bagi setiap amalan dan wajibnya perbaikan niat itu bersandar –pertama kali- kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

وما أمروا إلاّ ليعبدوا الله مخلصين له الدين

 

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”[1]

 

Juga firmanNya :

 

قل إني أمرت أن أعبد الله مخلصاً له الدين

 

 

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”[2]

 

 

Kedua, bersandarkan sabda manusia pilihan, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam :

 

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

 

“Amalan-amalan itu bergantung niatnya, dan bagi setiap orang apa yang diniatkannya”[3]

 

Juga sabda beliau :

 

إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ، وإنما ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan kekayaan kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan amalan kalian”[4]

 

Melihat pada hati maksudnya adalah melihat pada niatnya, karena niatlah yang membangkitkan dan memotivasi sebuah amalan. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من هم بحسنة ولم يعملها كتبت له حسنة

“Barang siapa berkeinginan melakukan sebuah kebajikan namun belum dilaksanakannya maka ditulis untuknya satu kebajikan”[5]

 

Maka sekedar keinginan yang baik sudah merupakan sebuah amal shalih yang berhak mendapatkan ganjaran. Demikian itu karena keutamaan niat yang baik. Dan di dalam sabda Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam :

الناس أربعة : رجل آتاه الله عز وجل علماً ومالاً فهو يعمل بعلمه في ماله ، فيقول رجل لو آتاني الله تعالى مثل ما آتاه الله لعملت كما عمل ، فهما في الأجر سواء ، ورجل آتاه الله مالاً ولم يؤته علماً فهو يخبط في ماله ، فيقول رجل لو آتاني الله مثل ما آتاه عملت كما يعمل ، فهما في الوزر سواء

 

“Manusia terbagi menjadi empat : Orang yang dianugerahi ilmu dan harta oleh Allah lantas dengan ilmunya tersebut ia mempergunakan hartanya, maka ada seseorang berkata, ‘seandainya Allah Ta’ala memberikan kepadaku sebagaimana yang diberikan kepada orang itu niscaya aku akan beramal sebagaimana dia beramal’, maka kedua orang tersebut memiliki pahala yang sama. Dan seseorang yang dianugerahi harta oleh Allah, namun tidak berilmu sehingga dia menyia-nyiakan hartanya, maka ada seseorang berkata, ‘seandainya Allah Ta’ala memberikan kepadaku sebagaimana yang diberikan kepada orang itu niscaya aku akan beramal sebagaimana dia beramal’, maka kedua orang tersebut mendapatkan dosa yang sama.[6]

 

Dengan niat baik maka akan mendapatkan pahala amalan shalih. Begitu pula niat yang jelek akan mendatangkan dosa amalan yang jelek. Itu semua disebabkan karena niat saja.

 

Pada perang Tabuk, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

إن بالمدينة أقواماً ما قطعنا وادياً ولا وطئنا موطئاً يغيظ الكفار ، ولا أنفقنا نفقة ، ولا أصابتنا مخمصة إلاّ شركونا في ذلك وهم بالمدينة

 

“Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok orang, tidaklah kita melintasi lembah atau mendaki untuk membuat marah orang-orang kafir, atau menginfakkan harta kita atau kelaparan menimpa kita melainkan sekelompok orang itu juga mendapatkan yang sama dengan kita padahal mereka berada di di Madinah.”

Beliau pun ditanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

 

حبسهم العذر ، فشركوا بحسن النية

 

“Mereka tertahan oleh udzur, maka mereka menyamai kita dengan baiknya niat mereka.”[7]

 

Dengan begitu niat yang baik itulah yang menjadikan orang yang tidak ikut berperang mendapatkan pahala seperti orang yang berangkat berperang, dan menjadikan orang yang tidak berjuang mendapatkan pahala para pejuang.

 

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار

 

“Jika dua orang Muslim bertemu dengan masing-masing pedangnya maka pembunuh dan yang terbunuh –keduanya- di neraka.”

Beliau pun ditanya, “Wahai Rasululllah, itu –tepat buat- si pembunuh. Bagaimana dengan yang terbunuh?”

Beliau menjawab,

 

لأنه أراد قتل صاحبه

 

“Karena dia pun –sebenarnya- berkeinginan untuk membunuh saudaranya itu.”[8]

 

Kesamaan niat yang rusak dan keinginan yang buruk antara pembunuh dan terbunuh membuat keduanya terancam masuk neraka. Seandainya si terbunuh tidak memiliki niat yang jelek tentulah dia termasuk ahli surga.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

من تزوج بصداق لا ينوي أداءه فهو زان ، ومن أدان ديناً وهو لا ينوي قضاءه فهو سارق

 

“Barangsiapa yang menikah dengan suatu mahar tanpa berkeinginan untuk menunaikannya maka dia seorang pezina, dan siapa yang berhutang tanpa berniat untuk melunasinya maka dia seorang pencuri.”[9] (9).

 

Demikianlah, niat yang jelek dapat mengubah sesuatu yang mubah menjadi haram, yang boleh menjadi terlarang dan yang tidak berdosa menjadi berdosa.

 

Itu semua semakin menguatkan apa yang diyakini oleh seorang muslim berkenaan dengan betapa seriusnya masalah niat, keagungannya dan urgensinya. Karenanya dia akan mendasari seluruh amalannya di atas niat yang shalih, sebagaimana dia mencurahkan segenap kemampuannya untuk menghindari beramal tanpa niat atau niat yang rusak, karena niat adalah ruh dan penopang amal, benarnya amalan berawal dari benarnya niat dan rusaknya amal berawal dari rusaknya niat. Orang yang beramal tanpa memiliki niat dialah orang yang beramal untuk pamer, memberatkan diri dan termasuk sesuatu yang dibenci.

 

Seorang muslim, selain meyakini bahwa niat adalah rukun dan syarat sebuah amalan, dia juga berpandangan bahwa niat bukanlah sekedar melafadzkan dengan lisannya -seperti ucapan, “ya Allah, saya berniat begini dan begitu.”- dan tidak pula cukup dengan ucapan jiwa saja. Akan tetapi niat adalah bangkitnya hati yang mendorong untuk melakukan sebuah amalan sesuai dengan tujuan yang baik untuk meraih suatu manfaat, atau menolak keadaan bahaya, sebagaimana niat adalah keinginan yang mengarah kepada melakukan amalan untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala atau untuk menjalankan perintah-perintahNya.

 

Meskipun seorang muslim meyakini bahwasannya niat yang baik dapat mengubah amalan yang mubah menjadi amal ketaatan yang mendapatkan pahala, dan bahwa amal ketaatan tanpa disertai niat yang baik dapat berubah menjadi maksiat yang terancam dengan azab, namun dia tidak beranggapan bahwasannya maksiat dapat berubah menjadi ketaatan dengan adanya niat yang baik.

Seseorang yang menggunjing dengan alasan untuk menyenangkan hati orang lain maka dia tetap terhitung bermaksiat dan berdosa. Anggapan niat baiknya tidaklah memberinya manfaat. Seseorang yang membangun masjid dengan harta yang haram tidaklah diberikan pahala. Orang yang menghadiri acara-acara dansa dan lawakan, atau membeli kartu-kartu judi dengan tujuan sebagai acara amal, dia tetaplah seorang yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala, berdosa dan tidak mendapatkan pahala.

Begitu pula membangun kubah-kubah di atas kuburan orang-orang shalih, atau menyembelih hewan untuk mereka, atau bernadzar untuk mereka disertai dengan niat karena kecintaan terhadap orang-orang shalih maka itu semua terhitung dosa dan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala, meskipun niatnya baik sebagaimana anggapannya. Niat yang baik tidak serta-merta menjadikan sebuah amalan menjadi bentuk ketaatan kecuali pada sesuatu yang hukum asalnya adalah mubah. Adapun perkara yang hukum asalnya haram maka tidak bisa berubah statusnya menjadi amal ketaatan, bagaimanapun keadaannya.

_____________________________________


[1] Q.S Al Bayyinah : 5

[2] Q.S Az Zumar : 11

[3] Muttafaq ‘alaih

[4] Muttafaq ‘alaih

[5] H.R Muslim

[6] H.R. Ibnu Majah dengan sanad ‘jayyid’.

[7] H.R. Abu Dawud dan Bukhari secara ringkas.

[8] Muttafaq ‘alaih

[9] H.R. Ahmad dan Ibnu Majah secara ringkas

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s