Dari Abu Waqid al Laitsiy berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, kami pun melewati sebuah pohon. Saya berkata, ‘wahai Nabiyullah, jadikan buat kami dzatu anwath sebagaimana orang-orang kafir juga punya dzatu anwath’. Orang-orang kafir biasa menggantungkan senjata mereka di pohon tersebut dan berdiam diri (i’tikaf)  di sekitarnya. Maka Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allohu Akbar! (perkataan kalian) ini seperti perkataan bani Israil kepada Nabi Musa “Jadikan bagi kami tuhan sebagaimana mereka punya tuhan”.[1] [Demi Yang jiwaku berada di tanganNya][2] sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” [H.R. Ahmad No. 20895]

 

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari hadist di atas :

  1. Bolehnya melakukan pergi jauh/ safar
  2. Hendaknya mencari pendamping/ teman seperjalanan yang shalih
  3. Termasuk ibadah jahiliyah yaitu i’tikaf/ berdiam diri dengan mengagungkan pohon dan sejenisnya dalam rangka tabarruk/ ngalap berkah.
  4. Hendaknya seorang muslim senantiasa takut terjerumus kepada perbuatan syirik.
  5. Hendaknya seorang muslim bersemangat untuk menuntut ilmu sehingga mampu menjauhkan dirinya dari perbuatan syirik
  6. Hadist di atas merupakan salah satu tanda kenabian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam, di mana umat Islam akan mengikuti perangai jahiliyah.
  7. Larangan menyerupai/ tasyabbuh dengan orang kafir pada hal-hal yang menjadi kekhususan mereka.
  8. Bolehnya mengucapkan “Allahu Akbar” ketika mendapati sesuatu yang mengherankan.
  9. Bolehnya bersumpah dalam perkara yang penting.
  10. Orang yang baru masuk Islam tidak terhalangi untuk amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap mereka, apalagi dalam masalah kesyirikan.
  11. Boleh marah/ keras ketika mengajarkan.
  12. Orang yang baru berpindah dari kebatilan terkadang masih tersisa bekas-bekas kebatilannya.

 

Catatan:

1. Ngalap berkah memiliki tiga (3) jenis :

a. Dicari dengan sesuatu yang syar’i (sesuai syari’at Islam).

Misal : mencari berkah dengan Al Quran atau dengan air zam zam.

 

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran [Surat Shad : 29]

 

Dari Jabir bin Abdillah berkata, saya mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Air zam zam sebagaimana tujuan meminumnya” (Ibnu Majah : 3053, Maktabah Syamilah)

 

Hukumnya : boleh

b. Dicari dengan sesuatu yang dibolehkan dan tidak keluar dari rel agama.

Misal : belajar supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat, berdoa supaya dikabulkan, berdagang untuk mendapatkan keuntungan.

Hukumnya : boleh

c. Dicari dengan sesuatu yang melanggar aturan agama.

Misal : ngalap berkah kepada kuburan dengan mengusap-usap batu nisan, mengubur ari-ari bayi dengan cara-cara tertentu supaya mendapatkan tujuan tertentu.

Hukumnya : tidak boleh

 

 

 

2. Tasyabbuh memiliki tiga (3) kriteria :

a. Segala sesuatu yang merupakan kekhususan bagi orang-orang kafir baik dalam masalah agama maupun masalah adat kebiasaan maka hukumnya dilarang secara mutlak. Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka [Abu Dawud : 3512,  Maktabah Syamilah].

Misal : memakai salib, tukar cincin pada acara pertunangan (yang pada asalnya memiliki keyakinan supaya rumah tangganya langgeng), minum bersama denganc cara ”tos”, standing party (pesta dengan acara makan sambil berdiri).

b. Segala sesuatu yang merupakan perayaan orang-orang kafir, maka hukumnya dilarang secara mutlak.

Misal : ulang tahun, valentine, tahun baru.

c. Segala sesuatu yang pada asalnya berasal dari orang-orang kafir lalu kaum muslimin mengikutinya sehingga hilang kekhususannya, maka hukumnya boleh.

Misal : makan di atas meja, makan dengan menggunakan sendok/ sumpit, memakai baju koko (yang asalnya adalah model dari cina), memakai baju kemeja, mencukur rambut kepala sampai plontos.

 

Mencukur rambut kepala sampai plontos memiliki tiga (3) keadaan :

  1. Bagi orang yang haji setelah tahallul, hukumnya dianjurkan.
  2. Dalam rangka ibadah dengan tanpa dalil, hukumnya tidak boleh.
  3. Ada tujuannya, maka hukumnya sesuai dengan tujuan. Misal untuk pengobatan maka hukumnya boleh.

 

3. Bagaimana hukum sesuatu yang asalnya milik orang kafir yang berhubungan dengan kemajuan teknologi, seperti handphone, motor, internet, facebook?

  1. Orang yang mengambil seluruhnya tanpa mempedulikan benar-salahnya, baik-buruknya, maka hukumnya tidak boleh.
  2. Orang yang menolak seluruhnya mentah-mentah, maka keliru.
  3. Orang yang hanya mengambil yang bermanfaat dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat pula, maka inilah yang benar.

 

——————————–

Disalin dari materi kajian oleh : Ustadz Syahrul Fatawa di Masjid Baitul Ma’muur Perum. Telaga Sakinah – Cikarang Barat, 16 Rajab 1432 H/ 18 Juni 2011; dengan sedikit tambahan referensi.


[1] Ini adalah potongan dari Surat Al A’raf ayat 138.

[2] Lafadz ini milik at Tirmidzy No. 2106, beliau berkata “hadist hasan sahih” [Maktabah Syamilah].

 

Iklan

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s