Sumber : Tafsir ath Thabariy beserta ta’liqnya, Maktabah Syamilah

 

Pendapat para ulama berkenaan dengan firman Allah Ta’ala:

 

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi [Al Baqarah : 255]

Abu Ja’far berkata :

Ulama ahlu ta’wil (ahli tafsir) berbeda pendapat mengenai makna “kursi” yang meliputi langit dan bumi yang Allah sebutkan di dalam ayat ini. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa “kursi” tersebut maksudnya adalah “ilmu” Allah Ta’ala. Di antara mereka adalah :

  1. Abu Kuraib dan Salim bin Junadah menceritakan kepada kami, keduanya berkata bahwa Ibnu Idris telah menceritakan kepada kami dari Mutharrif dari Ja’far bin Abi al Mughirah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata tentang “wasi’a kursiyyuhu [kursiNya meliputi]” : “kursiNya yaitu ilmuNya”.
  2. Ya’qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Hasyim telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Mutharrif telah mengabarkan kepada kami dari Ja’far bin Abi al Mughirah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas (tafsir) yang semisalnya dan ia menambahkan : “Tidakkah engkau memperhatikan firman Allah “Wa laa ya-uduhu hifdzuhuma [Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya]”.

 

Di antara para ulama ada pula yang berpendapat bahwa “kursi” maksudnya adalah “tempat dua telapak kaki”. Di antaranya :

  1. ‘Ali bin Muslim at Thusiy[1] menceritakan kepada saya, dia berkata : ‘Abdus Shamad bin ‘Abdul Warits menceritakan kepada kami, dia berkata : Muhammad bin Jahadah menceritakan padaku dari Salamah bin Kahil dari ‘Imarah bin ‘Umair[2] dari Abu Musa, dia berkata : Kursi yaitu tempat dua telapak kaki, dan baginya suara kasar seperti suara pelana.
  2. Musa bin Harun menceritakan kepadaku, dia berkata : ‘Amr menceritakan kepada kami, dia berkata : Asbath menceritakan kepada kami dari as Suddiy mengenai “wasi’a kursiyyuhu as samaawati wal ardha [Kursi Allah meliputi langit dan bumi] : Sesungguhnya langit dan bumi berada di dalam ‘kursi’ dan ‘kursi’ berada di antara ‘Arsy, dan dia adalah tempat bagi kedua telapak kaki, dan dia memiliki suara yang kasar seperti suara pelana.
  3. Al Mutsanna menceritakan kepada kami, dia berkata : Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata : Abu Zuhair menceritakan kepada kami, dari Juwaibir dari Dhahhak tentang firman Allah “Kursi Allah meliputi langit dan bumi” dia berkata “kursiNya adalah yang terletak di bawah ‘Arsy tempat kaki para malaikat berada di atasnya.
  4. Ahmad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata : Abu Ahmad az Zubairiy menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari ‘Ammar ad Duhaniy dari Muslim al Bathin, dia berkata : Kursi yaitu tempat dua kaki.[3]
  5. Menceritakan kepadaku dari ‘Ammar, dia berkata : Ibnu Abi Ja’far menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari ar Rabi’ : “Kursi Allah meliputi langit dan bumi”, dia berkata, ketika turun ayat “Kursi Allah meliputi langit dan bumi” para sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullah, ‘kursi’ ini meliputi langit dan bumi, maka bagaimana dengan ‘Arsy? Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat (artinya) “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” [Az Zumar : 67].
  6. Yunus menceritakan kepadaku, dia berkata : Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, dia berkata : Ibnu Zaid berkata tentang firman Allah Ta’ala (artinya)“ Kursi Allah meliputi langit dan bumi” maka ayahku bercerita kepadaku, dia berkata : Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah tujuh langit dibandingkan dengan ‘kursi’ melainkan seperti tujuh dirham yang diletakkan pada sebuah perisai”. Dia berkata : Abu Dzar berkata : saya mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ‘kursi’ dibandingkan dengan ‘Arsy melainkan seperti cincin besi yang dilempar ke tengah lapangan terbuka”.[4]

 

Para ulama lainnya berpendapat bahwa ‘kursi’ adalah sama dengan ‘arsy.

 

Al Mutsanna menceritakan kepadaku, dia berkata : Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata : Abu Zuhair menceritakan kepada kami, dari Juwaibir dari Dhahhak, dia berkata bahwa al Hasan berkata : kursi adalah ‘arsy.

 

Abu Ja’far berkata : Masing-masing pendapat di atas memiliki alasan dan dalilnya. Akan tetapi yang utama adalah menafsirkan ayat dengan atsar yang datangnya dari Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana :

  1. Abdullah bin Abu Ziyad al Qathwaniy menceritakannya kepadaku, dia berkata : ‘Ubaidullah bin Musa telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Israil telah mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Khalifah, dia berkata : seorang wanita datang kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. Wanita itu berkata, “Bedoalah kepada Allah agar memasukkan saya ke dalam surga!” Maha Besar Allah Ta’ala. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya kursiNya meliputi langit dan bumi. Dan sungguh Dia duduk di atasnya  sehingga tidak tersisa seukuran empat jari –beliau berkata sambil mengumpulkan jemarinya- dan ia memiliki suara seperti suara kasar pelana yang baru ketika diduduki akibat beban yang berat.[5]
  2. Abdullah bin Abi Ziyad menceritakan kepada kami, dia berkata : Yahya bin Abi Bakr menceritakan kepada kami, dari Israil dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Khalifah dari Umar dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam : semisal hadist sebelumnya.
  3. Ahmad bin Ishaq menceritakan kepada kami, dia berkata : Abu Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata : Israil menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq  dari Abdullah bin Khalifah, dia berkata : seorang wanita datang…kemudian dia menceritakan hadist yang semisal dengan di atas.[6]

 

(Abu Ja’far melanjutkan) : Adapun yang menunjukkan hal yang benar adalah dzahir Al Quran sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Abu al Mughirah dari Sa’id bin Jubair dari beliau bahwa beliau berkata “Kursi adalah IlmuNya”.[7] Demikian dengan  penunjukan firman Allah Ta’ala yang beliau sebutkan “(artinya) Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” bahwasannya memang seperti itu keadaannya. Maka Allah mengabarkan bahwa Allah tidak merasa berat memelihara apa saja yang Dia ketahui dan IlmuNya meliputi apa saja yang ada di langit dan di bumi, dan sebagaimana Allah Ta’ala mengabarkan tentang para malaikat yang mereka berkata di dalam doa mereka “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” [Ghafir : 7].

 

-Allohu a’lam-


[1] ‘Aliy bin Muslim bin Sa’id at Thusiy, tinggal di Baghdad, meriwayatkan darinya : Bukhariy, Abu Dawud, Nasa’i; seorang yang tsiqah, wafat pada tahun 253 H. Biografinya di dalam ‘at Tahdzib’.

[2] ‘Imarah bin Umair at Taimiy, menjumpai Abdullah bin Umar, meriwayatkan dari : Aswad bin Yazid an Nakha’i, Harits bin Suwaid at Taimiy, Ibrahim bin Abu Musa al Asy’ariy dan tidak menjumpai Abu Musa. Hadistnya munqathi’, dikeluarkan oleh Suyuthiy di dalam ‘Ad Durrul Mantsur 1/327 dan menisbatkannya kepada Ibnul Mundzir, Abu Syaikh dan Baihaqiy dalam ‘Al Asma’ was Shifat’.

[3] Ibnu Katsir mengeluarkan di dalam tafsirnya (2/13) dari jalan Sufyan dari ‘Ammar ad Duhaniy dari Muslim al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas; beliau menisbatkannya kepada Waki’.

Al Hakim juga meriwayatkan yang semisalnya di dalam ‘Al Mustadrok’ (2/282), mauquf sampai kepada Ibnu ‘Abbas, beliau berkata “Sahih sesuai syarat dua Syaikh (Bukhari & Muslim) namun tidak dikeluarkan oleh keduanya. Adz Dzahabiy menyepakatinya. Ibnu Katsir berkata, “Ibnu Mardawaih meriwayatkannya dari jalan al Hakim bin Dzahir al Fazariy al Kufiy, hadisnya matruk (ditinggalkan), dari as Suddiy dari bapaknya dari Abu Hurairah secara marfu’. Namun hadistnya juga tidak shahih. Lihat Majma’ az Zawaid (6/323) dan al Fath (8/149).

[4] Atsar Abu Dzar dikeluarkan oleh as Suyuthi di dalam ‘ad Dur al Mantsur’ (1/328) dan beliau nisbatkan kepada Abu Syaikh di dalam ‘al ‘Udzmah’, Ibnu Mardawaih dan Baihaqiy di dalam ‘Asma’ wa Shifat’. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (2/13) dan beliau sebutkan lafadz Ibnu Mardawaih termasuk sanadnya, dari jalan Muhammad bin ‘Abdu at Tamimiy dari Qasim bin Muhammad ats Tsaqafiy dari Abu Idris al Khaulaniy dari Abu Dzar.

[5] Abdullah bin Abu Ziyad al Qathwaniy adalah Abdullah bin al Hakam bin Abi Ziyadah.

Ubaidullah bin Musa bin Abil Mukhtar, namanya adalah Badzam al ‘Abasiy dan maula mereka. Al Bukhari meriwayatkan darinya. Beliau dan selainnya meriwayatkan darinya dengan perantaraan Ahmad bin Abu Sarij Ar Raziy, Ahmad bin Ishaq al Bukhari, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Abdullah bin al Hakam al Qathwaniy dan lainnya. Beliau seorang yang tsiqah, shaduq, hasanu al hadist. Beliau ‘alim mengenai Al Quran, dan menetapi sahabat-sahabat Israil. Biografinya ada di dalam at Tahdzib.

Abdullah bin Khalifah al Hamdaniy al Kufiy, meriwayatkan dari Umar dan Jabir. Meriwayatkan dari beliau : Abu Ishaq as Sabi’iy. Ibnu Hibban menyebutkannya di dalam ats Tsiqat. Biografinya ada di dalam at Tahdzib. Begitulah at Thabariy meriwayatkan atsar ini secara mauquf, dan Ibnu Katsir mengeluarkannya di dalam tafsir beliau (2/13) dari jalan Israil dari Abi Ishaq dari Abdullah bin Khalifah dari Umar radhiyallohu ‘anhu.

Ibnu Katsir berkata : al Hafidz al Bazzar meriwayatkannya di dalam Musnad beliau yang masyhur, begitu pula ‘Abd bin Hamid dan Ibnu Jarir di dalam masing-masing tafsirnya, Thabaroniy dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kedua kitab sunnahnya, al Hafidz adh Dhiya’ dalam kitabnya al Mukhtar dari hadist Abu Ishaq as Sabi’iy dari Abdullah bin Khalifah, namun hal itu tidak masyhur. Dan dalam sima’inya dari Umar ada kegoncangan. Kemudian di antara mereka ada yang meriwayatkan darinya dari Umar secara mauquf.

Saya katakan : sebagaimana yang diriwayatkan oleh ath Tabariy di sini – di antara mereka ada yang meriwayatkan dari ‘Umar secara mursal/ terputus, dan di antara mereka ada pula yang menambahkan di dalam matannya suatu tambahan yang asing – maka saya katakan : tambahan itu adalah tambahan ath Thabariy pada hadist ini – dan di antara mereka ada pula yang membuangnya. Dan yang paling asing adalah hadist Jubair bin Muth’im mengenai sifat ‘Arsy, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab as Sunnah dalam Sunan-nya (no. 4726). Wa Allohu a’lam.

“Berkata dengan tangan beliau” maksudnya adalah “berisyarat dengannya”.

[6] Dua atsar di atas : Yahya bin Abu Bukair, namanya adalah Nasr al Asadiy, Abu Zakariya asal Kirmaniy, tinggal di Baghdad. Meriwayatkan dari Ibnu ‘Utsman, Ibrahim bin Thahman, Israil dan Zaidah. Meriwayatkan darinya : pemilik kitab hadist yang enam, Ya’qub bin Ibrahim ad Dauraqiy, Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Abi Khalf dan selainnya. Ibnu Hibban menyebutkannya di dalam ats Tsiqat. Meninggal tahun 208 H atau 209 H. Biografinya ada di dalam at Tahdzib. Pada cetakan tertulis “Yahya bin Abi Bakr” dan itu keliru.

[7] Ucapan Abu Ja’far sungguh mengherankan. Bagaimana perkataan beliau kontradiktif dalam masalah ini. Beliau memulai dengan ucapan “Sesungguhanya yang lebih utama mengenai tafsir ayat ini adalah apa yang sesuai dengan atsar dari Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam, yaitu hadist tentang sifat “kursi”.  Kemudian beliau kembali dengan mengatakan : “Adapun apa yang menunjukkan hal yang benar adalah dzahir Al Quran sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas bahwa kursi maksudnya adalah ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala”.  Yang ini begini, yang itu begitu. Tidaklah mungkin ada tafsir yang paling utama tentang makna “kursi” adalah sebagaimana hadist yang pertama, kemudian juga bermakna “ilmu” sebagaimana yang beliau sangka bahwa dzahir Al Quran yang menunjukkan benarnya hal itu. Bagaimana bisa terkumpul pada satu tafsir, dua makna yang berbeda, baik sifat maupun elemennya. Apabila khabar Ja’far bin Abi al Mughirah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas memiliki sanad yang sahih, maka sesungguhnya khabar yang satunya yang diriwayatkan oleh Muslim al Bathn dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas juga memiliki sanad yang sahih sesuai persyaratan dua syaikh (Bukhari dan Muslim), sebagaimana dikatakan oleh al Hakim. Juga dalam Majma’ az Zawaid (6/323) yang diriwayatkan oleh ath Thabaroniy, para perawinya adalah rijal shahih sebagaimana sudah kami jelaskan.

Bagaimanapun pendapat tentangnya, maka salah satu (dari dua pendapat itu) tidak lebih rajih dari yang lainnya kecuali dengan tarjih yang wajib diterima.

Abu al Manshur al Azhariy telah berkata tentang “kursi” : “Yang sahih dari Ibnu ‘Abbas adalah apa yang diriwayatkan oleh ‘Ammar ad Duhaniy dari Muslim al Bathin dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas di mana beliau berkata “kursi adalah tempat dua telapak kaki, adapaun ‘Arsy maka tidak dapat diketahui ukurannya”. Inilah riwayat yang telah disepakati kesahihannya oleh para ulama. Siapa yang meriwayatkan dari beliau bahwa makna “kursi” adalah “ilmu”, maka hal itu salah”.

Inilah pendapat ahlul haq insya Allah.

Sesungguhnya ath Thabari hendak berdalil bahwasannya “kursi” adalah “ilmu” dengan firman Allah Ta’la “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu”. Akan tetapi beliau tidak menjadikan makna “kursi” sebagai “rahmat” padahal keduanya (yaitu ilmu dan rahmat –pent) berada di dalam satu ayat? Beliau juga tidak menjadikan makna “rahmat” sebagaiman firman Allah Ta’ala di dalam surat al A’raf : 156 “(artinya) Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”? Mengeluarkan makna ‘kursi” dalam ayat ini sebagaimana yang dilakukkan oleh ath Thabariy adalah sesuatu yang lemah sekali

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s