Pemateri : Ustadz Abu Isa

Tempat : Masjid Batul Ma’muur, Telaga Sakinah – Cikarang Barat

Tanggal : 9 Juli 2011

 

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام علي رسول الله و علي أله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين

Sabar adalah separuh agama, karena agama Islam mencakup dua hal : sabar dan syukur.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur” [Q.S Luqman : 31].

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

”Urusan orang mukmin sungguh menakjubkan. Semua urusannya adalah baik, dan itu hanya terjadi pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka ia pun bersyukur maka itu baik baginya. Apabial dia tertimpa keburukan kejelekan maka ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” [H.R Muslim : 5318].

 

Sabar secara bahasa bermakna الحبس  (al habsu) = menahan

Secara istilah : menahan jiwa dari marah, menahan lisan dari berkeluh kesah dan menahan anggota badan dari melampiaskan dengan perbuatan haram (seperti memukul pipi, merobek kerah baju ketika meratapi orang yang meninggal dunia).

 

Macam-macam sabar :

  1. Sabar dalam menjalankan ketaatan. Minimalnya adalah dengan melaksanakan seluruh kewajiban. Allah Ta’ala berfirman :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” [Q.S Thaha : 132].

  1. Sabar untuk meninggalkan perbuatan maksiat.

Sebagai teladan, renungkan kisah nabi Yusuf ’alaihis salam saat menolak ajakan majikan wanitanya untuk berzina :

” Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” [Q.S Yusuf : 23].

Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam bersabda :

لا تدع شيئا اتقاء لله الا أبدلك الله خيرا منه

”Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan menggantikan bagimu sesuatu yang lebih baik darinya”

  1. Sabar ketika mendapatkan musibah

 

Rukun sabar ketika mendapatkan musibah :

  1. Hati tidak marah/ murka atas musibah tersebut.
  2. Lidah tidak berkeluh kesah, termasuk mengadu kepada makhluk. Adapun mengadukan kepda Allah tidaklah mengapa. Sebagaimana kisah Nabi Ya’qub yang kehilangan kedua putra beliau, Yusuf dan saudaranya.

“Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” [Q.S Yusuf : 86].

  1. Tidak melampiaskan ketidaksabarannya dengan perbuatan haram.

Apabila salah satu dari ketiga rukun di atas tidak terpenuhi berarti orang tersebut belum melaksanakan kewajibannya untuk bersabar.

 

Empat tingkatan manusia dalam mengelola hati mereka ketika mendapatkan musibah :

  1. Tidak bisa mengendalikan hatinya dan membiarkan hatinya marah atas musibah tersebut. Hal ini menunjukkan orang tersebut berbuat su’udzon (berburuk sangka) kepada Allah, sehingga dia pun mendapatkan dosa.
  2. Mampu menahan hatinya sehingga tidak marah, meskipun tetap tidak ridho. Hal ini menunjukkan bahwa dia sudah melaksanakan kewajibannya untuk bersabar.
  3. Ridho dengan musibah, sehingga dia mendapatkan pahala sabar dan pahala ridho.
  4. Bersyukur atas musibah yang menimpanya, dan inilah tingkatan sabar tertinggi.

 

Untuk menggapai tingkatan sabar tertinggi : harus dengan latihan dan kesungguhan.

Jenis musibah :

  1. Musibah agama
  2. Musibah dunia

 

Musibah agama : seseorang terkena kejelekan terkait dengan agamanya, seperti : bid’ah, nifaq, kufur, syirik.

Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam bersabda di dalam doa beliau :

وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

”dan janganlah Engkau jadikan musibah pada agama kami” [Sunan Tirmidziy : 3424].

 

Solusi/ kafarat atas musibah diniyah/ agama adalah dengan istighfar dan taubat. Sedangkan sumber dari musibah agama adalah karena jahil (bodoh) terhadap syari’at.

 

Musibah duniawi :

  1. Musibah samawiyah : terjadi tidak melalui perantaraan makhluk. Contoh : sakit, gempa bumi, tsunami, banjir dan lain-lain.
  2. Musibah yang terjadi dengan perantaraan makhluk. Contoh : pemukulan, penodaan kehormatan, pencurian, penipuan dan lain-lain.

 

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa pada kasus musibah samawiyah, seorang hamba relatif lebih bisa bersabar. Maka diperlukan pengetahuan tentang bekal atau senjata bagi seorang hamba untuk menghadapi musibah yang ditimpakan oleh makhluk. Di antaranya :

  1. Ingat akan takdir Allah; bahwasannya semua yang terjadi di dunia ini tidak terlepas dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Menyadari bahwa musibah tersebut menimpa akibat dosa-dosa kita sendiri.

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

” dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” [An Nisa’ : 79].

Dan bencana itu pun hanya akibat dari sebagian kecil dosa kita, karena sebagian besarnya diampuni oleh Allah Ta’ala.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”

  1. Mengingat besarnya pahala bersabar.

Cukuplah firman Allah Ta’ala ini sebagai balasan bagi orang yang bersabar :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” [Al Baqarah : 153}

  1. Mengingat keteladanan Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam, di mana beliau tidak pernah sekalipun marah untuk membela kepentingan pribadinya. Maka seorang hamba hendaklah mengingat dan merenungkan : mana yang lebih tinggi antara harga dirinya dibanding dengan harga diri Rasulullah shallallohu ’alaihi wa sallam?
  2. Mengingat bahaya pembalasan atas musibah tersebut, karena dikhawatirkan akan berlebihan sehingga posisinya berbalik dari orang yang terdzalimi menjadi orang yang mendzalimi. Sedangkan syarat qishash adalah maksimal setimpal.
  3. Mengingat bahwa memaafkan akan menghasilkan ketenangan jiwa dan diselamatkan dari kesibukan yang tidak bermanfaat. Bahkan dengan sebab pemaafan bisa jadi orang yang mendzalimi akan merasa rendah diri dan menaruh hormat kepadanya, atau akhirnya malah menjadi kawan dekatnya.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” [Fushshilat : 34].

  1. Membangun khusnudzon kepada Allah Ta’ala.

 

Pertanyaan :

Apakah benar ungkapan ”sabar itu ada batasnya?”

Jawab : benar, batasnya yaitu kematian. Karena kewajiban sabar itu senantiasa melekat selama salah satu dari hati, lisan atau anggota badannya masih berfungsi.

 

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s