Pertanyaan :

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya tentang hukum mencela atau mencaci maki ad-Dahr (masa).

Jawaban :

Mencela ad-Dahr ada tiga kategori :

Pertama, bila yang dimaksud adalah sebagai berita belaka bukan maksud mencela, maka ini hukumnya boleh. Seperti perkataan seseorang, ”Cuaca panas hari ini membuat kita letih”, atau disebabkan cuaca yang dingin dan semisalnya, karena semua perbuatan tergantung kepada niatnya sementara lafazh tersebut boleh diungkapkan bila hanya sekedar berita.

Kedua, seseorang mencela ad-Dahr karena bernaggapan bahwa ia adalah pelaku sesuatu, seperti bila yang dimaksudkannya dengan celaannya itu, bahwa ad-Dahr (masa) itulah yang dapat mengubah kondisi menjaidi baik atau jelek. Maka ini adalah perbuatan syirik akbar (syirik paling besar), sebab orang tersebut telah berkeyakinan ada khaliq lain yang sejajar dengan Allah. Artinya, dia telah menisbatkan/ menyandarkan kejadian-kejadian kepada selain Allah

Ketiga, seseorang mencela ad-Dahr dengan keyakinannya bahwa pelaku sesuatu itu adalah Allah akan tetapi dia mencelanya karena ia adalah wadah bagi semua hal-hal yang tidak disukai. Maka ini haram hukumnya karena menafikan wajibnya bersabar. Jadi perbuatan ini bukan kekufuran karena orang tersebut tidak mencela Allah secara langsung. Andaikata dia mencela Allah secara langsung, maka pastilah dia telah kafir hukumnya.

 

Kumpulan Fatwa dan Risalah Syaikh Ibnu ’Utsaimin, Juz 1 hal. 197-198

Dikutip dari : Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, Penerbit Daarul Haq

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s