Teks Hadist:

 

وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

(متفق على صحته)

 

Artinya :

Dan -diriwayatkan- dari amirul mukminin Abu Hafsh ‘Umar bin Khaththab radhiyallaohu ‘anhu –semoga Allah meridhainya- berkata: saya mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidaklah amal itu melainkan dengan niat, dan tidaklah bagi setiap orang melainkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya. Dan siapa yang hijrah untuk keperluan duniawi yang hendak ia raih atau untuk wanita yang hendak ia nikahi maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia tuju.”

[Hadist disepakati keshahihannya, riwayat Bukhari dan Muslim].

 

Pelajaran dan Faidah :

  1. Amirul mukminin yaitu pemimpin kaum mukminin, ‘Umar bin Khaththab radhiyallohu ‘anhu, yang diangkat dengan penunjukan dari Abu Bakr radhiyallohu ‘anhu.
  2. Ucapan ‘Umar “saya mendengar Rasulullah bersabada…” menunjukkan bahwa ‘Umar mendengar langsung hadist tersebut tanpa perantara.
  3. ‘Umar bin Khaththab bersendirian di dalam periwayatan hadist di atas. Artinya tidak ada seorangpun shahabat Nabi yang meriwayatkan hadist di atas selain ‘Umar. Namun begitu para ‘ulama telah sepakat menerimanya dengan penerimaan yang sempurna, sampai-sampai Imam Bukhari rahimahullah mengawali Kitab Shahihnya dengan hadist niat ini.
  4. Niat adalah : menyengaja sesuatu bersamaan dengan pekerjaan yang dilakukan.
  5. Para ‘ulama bersepakat bahwa tempatnya niat dalam semua ibadah adalah di dalam hati, bukan di lisan. Tidak ada satupun riwayat dari Rasulullah yang menyebutkan diucapkannya niat, tidak pula dari para sahabat beliau.
  6. Niat yang baik tidak bisa menjadikan sebuah kemungkaran menjadi amal shalih.
  7. Niat ikhlas karena Allah Ta’ala adalah syarat diterimanya amalan.
  8. Para ‘ulama berselisih pendapat tentang kedudukan dua buah kalimat : Tidaklah amal itu melainkan dengan niat dan kalimat : tidaklah bagi setiap orang melainkan apa yang dia niatkan. Sebagiannya berpendapat bahwa makna kedua kalimat tersebut adalah sama, yaitu kalimat kedua sebagai ta’kid –penguat- bagi kalimat yang pertama.
  9. Sebagian lainnya berpendapat bahwa kedua kalimat tersebut memiliki makna yang berbeda –dan inilah yang benar, Allohu a’lam-. Kalimat pertama menunjukkan sebab, dan kalimat kedua menunjukkan kesimpulannya.
  10. Maksud kalimat pertama menunjukkan sebab yaitu, bahwa setiap amalan yang dikerjakan oleh seorang yang berakal pasti –otomatis- disertai dengan niat. Atau dapat dikatakan, tidak mungkin ada seorang yang berakal, tidak sedang di bawah paksaan dan secara sadar melakukan suatu pekerjaan tanpa disertai dengan niat. Sampai-sampai sebagian ‘ulama berkata : Sekiranya Allah membebani seseorang untuk beramal tanpa disertai niat niscaya hal tersebut tidak mampu dilaksanakan.
  11. Niat akan membuat perbedaan. Niat akan membedakan antara kebiasaan dengan ibadah, dan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya.
  12. Contoh bahwa niat bisa membedakan antara kebiasaan dengan ibadah : Seseorang yang makan sekedar karena lapar, maka hal itu adalah kebiasaan. Seorang lainnya makan karena untuk menguatkan dirinya melaksanakan amal ketaatan, juga sebagai pengamalan perintah Allah Ta’ala “makan dan minumlah kalian…” [al-A’raf : 31], maka hal itu adalah termasuk ibadah.
  13. Contoh bahwa niat bisa membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya : seseorang melakukan shalat dua raka’at dengan niat shalat sunnah, seorang lainnya sama-sama melakukan shalat dua raka’at tapi dengan niat shalat wajib.
  14. Sesuai hadist di atas, kita bisa melihat dua orang melakukan amalan yang sama persis, akan tetapi perbedaan antara keduanya –pada hakikatnya- layaknya langit dan bumi! Hal ini dapat terjadi karena orang yang pertama, dengan amalannya, dia berniat untuk mendapatkan sesuatu yang mulia dari Allah ‘Azza wa Jalla. Sedang orang kedua, dengan amalannya, dia berniat untuk mendapatkan sesuatu yang murah dan hina dari sesama makhluk.
  15. Kalimat : “tidaklah bagi setiap orang melainkan apa yang dia niatkan” menunjukkan makna bahwa siapa saja yang beramal dengan niat karena Allah dan untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat maka dia akan mendapatkannya. Namun siapa saja yang beramal dengan niat meraih dunia semata, maka bisa jadi dia akan mendapatkannya dan bisa jadi pula akan terluput darinya. Allah Ta’ala berfirman : (artinya) “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki.” [al-Israa’ : 18]. Pada ayat tersebut Allah Ta’ala tidak menyatakan “Kami segerakan baginya apa yang dia inginkan”. Lain halnya bagi orang-orang yang mengharapkan pahala akhirat, Allah Ta’ala berfirman : (artinya) “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” [al-Israa’ : 19].
  16. Hadist di atas merupakan timbangan bagi amal perbuatan seseorang ditinjau dari sisi batiniyah. Adapun dari sisi lahiriyah, timbangannya adalah hadist yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, Rasulullah bersabda : (artinya) “Barangsiapa melakukan sebuah amalan tidak atas dasar perintah kami maka amalan tersebut tertolak.” [Bukhari dan Muslim].
  17. Hijrah secara bahasa berarti : meninggalkan. Hijrah secara syar’i artinya : meninggalkan larangan-larangan Allah.
  18. Hijrah kepada Allah maksudnya adalah : untuk mendapatkan ganjaran dariNya dan untuk menolong agamaNya.
  19. Hijrah kepada Rasulullah maksudnya adalah : untuk meraih kebahagiaan dengan bersahabat dengan beliau, mengamalkan sunnahnya dan membelanya.
  20. Hijrah kepada Allah dapat dilakukan kapan saja, sedangkan hijrah kepada Rasulullah, yaitu kepada pribadi beliau maka hanya bisa dilakukan semasa hidup beliau. Sesudah beliau wafat maka hijrah dengan melaksanakan sunnah dan syari’at Islam.
  21. “Hijrah” juga bermakna : pindahnya seseorang dari negeri kafir menuju ke negeri Islam. Contohnya : ada seseorang yang tinggal di Amerika –negeri kafir- kemudian dia masuk Islam. Akan tetapi di sana –misalnya- dia dilarang untuk menampakkan syi’ar-syi’ar agama Islam. Lantas dia pergi ke negeri Islam –misal ke negeri kita Indonesia- sehingga dia bisa dengan leluasa mengamalkan ajaran Islam.
  22. Orang yang pergi untuk tinggal menetap di negeri-negeri Islam, keadaan mereka berlainan sesuai dengan niatnya. Ada di antara mereka yang hijrah karena Allah dan RasulNya –seperti contoh di atas sebelumnya-, maka mereka itulah yang akan mendapatkan kebaikan yang hakiki. Ada pula di antara mereka yang hijrah karena urusan bisnis dan perdagangan, atau karena ada wanita yang dia cintai yang kemudian dia nikahi.
  23. Pada hadist di atas, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam menyatakan : “Dan siapa yang hijrah untuk keperluan duniawi yang hendak ia raih atau untuk wanita yang hendak ia nikahi maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia tuju.” Beliau tidak menyatakannya dengan kalimat “maka hijrahnya adalah kepada keperluan duniawi yang hendak ia raih atau kepada wanita yang hendak ia nikahi .” Mengapa? Sebagian berpendapat karena akan menyebabkan panjangnya kalimat. Akan tetapi sebagian ‘ulama berpendapat –dan ini yang lebih tepat, Allohu a’lam- adalah untuk merendahkan, meremehkan dan menghindari penyebutan urusan duniawi tersebut; karena niat seperti itu adalah niat yang rusak dan hina.
  24. Hijrah terbagi menjadi tiga : Hijrah tempat, Hijrah amal, dan Hijrah orang yang beramal.
  25. Hijrah al-Makan –hijrah tempat- maksudnya adalah : pindahnya seseorang dari sebuah tempat yang di dalamnya banyak terjadi kemaksiata dan kefasikan –bisa juga sebuah negeri kafir- menuju ke sebuah tempat yang tidak terdapat hal-hal tersebut.
  26. Hijrah al-Makan hukumnya wajib bagi orang yang tinggal di negeri kafir dan tidak mampu/ terhalang untuk menunjukkan identitas ke-Islamannya, termasuk syi’ar-syi’arnya.
  27. Hijrah al-Makan hukumnya sunnah bagi orang yang tinggal di negeri kafir dan mampu/ tidak terhalang untuk menunjukkan identitas ke-Islamannya, termasuk syi’ar-syi’arnya.
  28. Seorang muslim yang tinggal di negeri kaum muslimin pada asalnya tidak boleh safar/ melancong ke negeri kafir karena akan membahayakan agama dan akhlaknya. Pada hal itu juga terdapat penyia-nyiaan terhadap harta serta menambah kekuatan ekonomi negeri kafir. Padahal kita diperintahkan untuk membuat jengkel orang-orang kafir dengan segala kemampuan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” [at-Taubah : 123]. Begitu pula firmanNya (artinya) : “dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [at-Taubah : 120].
  29. Diperbolehkan bepergian ke negeri kafir dengan tiga syarat : {1.} Memiliki ilmu agama yang mencukupinya untuk menangkal syubhat orang-orang kafir. {2.} Memiliki agama yang baik yang menjaga syahwatnya sehingga tidak terpengaruh oleh kebebasan gaya hidup orang-orang kafir. {3.} Karena adanya hajat/ keperluan yang mendesak, seperti untuk berobat, untuk menuntut ilmu yang tidak terdapat di negerinya dan negeri kaum muslimin lainnya, untuk urusan bisnis atau untuk berdakwah. Adapun sekedar pergi berwisata, maka hukumnya haram.
  30. Hijrah al-‘Amal –hijrah amal- maksudnya adalah : hijrahnya seseorang dari perbuatan maksiat menuju amal ketaatan. Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Muhajir –orang yang hijrah- adalah orang yang meninggalkan larangan-larangan Allah.” [Bukhari 1/15].
  31. Hijrah al-‘Amil –hijrah orang yang beramal- maksudnya adalah seseorang dihajr –ditinggalkan/dikucilkan- karena maksiat yang dia kerjakan. Hajr ini harus sesuai dengan kondisi orang yang dihajr sehingga membawa manfaat buat dirinya.

 

Allohu a’lam, wa shallallohu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillahi rabbi al-‘alamin.

 

Maraji’ :

  1. Syarah Riyadhush Shalihih, Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Mausu’at Syuruh al-Hadist cet. Pertama, www.islamspirit.com
  2. Bahjatu an-Nadzirin Syarah Riyadhus Shalihin, Salim bin ‘Ied al-Hilaliy, Dar Ibnu al-Jauziy.
  3. At-Talkhish al-Mu’ayyan fi Syarhi al-Arba’in, Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, i’dad : Sulthan Tsaraya.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s