Syaik Ibnu Baz ditanya :

Apakah bertepuk tangan dalam suatu acara atau pesta diperbolehkan, ataukah itu termasuk perbuatan makruh?

Beliau menjawab :

Bertepuk tangan dalam sutau pesta merupakan perbuatan jahiliyyah, setidaknya perbuatan itu adalah perbuatan yang makruh. Tetapi secara jelas dalil-dalil yang terdapat dalam al-Quran menunjukkan bahwa hal itu adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam; karena kaum muslimin dilarang mengikuti ataupun menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Allah Ta’ala telah berfirman tentang sifat orang-orang kafir penduduk Makkah :

 

“Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan.” [al-Anfal : 35].

 

Para ulama berkata, “al-muka” mengandung pengertian bersiul, sedangkan “at-tashdiyah” mengandung pengertian bertepuk tangan. Adapun perbuatan yang disunnahkan bagi kaum muslimin adalah jika mereka melihat atau mendengar sesuatu yang membuat mereka takjub, hendaklah mereka mengucapkan subhanallah atau Allahu Akbar sebagaimana yang disebutkan dalam hadist-hadist shahih dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. Bertepuk tangan hanya disyariatkan khusus bagi kaum wanita ketika mendapatkan seorang imam melakukan suatu kesalahan di dalam shalat saat mereka melaksanakan shalat berjama’ah bersama kaum pria, maka kaum wanita disyariatkan untuk mengingatkan kesalahan imam dengan cara menepuk tangan. Sedangkan kaum pria memperingatkannya dengan cara bertasbih (mengucap kata subhanallah) sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam [al-Bukhari 1204, Muslim 422].

Maka jelaslah bahwa bertepuk tangan bagi kaum pria merupakan penyerupaan terhadap perbuatan orang-orang kafir dan perbuatan wanita. Sehingga bertepuk tangan dalam suatu pesta –baik kaum pria maupun wanita- adalah dilarang menurut syariat. Semoga Allah memberi petunjuk.[1]

 

Sedangkan Syaik al-Ustaimin ketika ditanyakan kepada beliau pertanyaan senada, beliau menjawab :

Bertepuk tangan dan bersiul adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh golongan selain muslimin. Maka dari itu sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk tidak mengikuti perbuatan mereka. Bila ia kagum akan sesuatu maka hendaklah bertakbir atau bertasbih dengan menyebut nama Allah. Takbir itu tidak pula dilakukan bersama-sama sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang (maksudnya adalah dengan suara koor –Allahu a’lam), melainku cukup dengan bertakbir atau bertasbih di dalam diri. Adapun tasbih ataupun takbir yang diucapkan secara bersama-sama, saya belum pernah mendapatkan sumber yang menyebutkan tentang hal itu.[2]

 

Dikutip dari : Fatwa-Fatwa Terkini, Jilid 3, Penerbit Darul Haq.

Alhamdulillah, wallohu a’lam.

 

 


[1] Fatawa Mu’ashirah, hal. 67, Syaik Ibn Baz

[2] As’ilah Muhimmah, hal. 28, Syaikh Muhammad bin Utsaimin.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s