Bismillah, wa al-hamdulillah, wa ash-shalatu wa as-salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Alihi wa Shahbihi wa man waalah. Amma ba’du

 

Pendahuluan

 

Hal-hal yang berkaitan dengan jin termasuk hal-hal yang ghaib yang pada asalnya di luar jangkauan manusia. Oleh karenanya semua informasi yang berkaitan dengan jin tidak mungkin di dapat melainkan dengan perantaraan wahyu. Hanya saja wahyu itu ada dua macam, yaitu wahyu yang datang dari Allah Ta’ala dan disampaikan melalui perantaraan Nabi, dan wahyu yang datangnya dari setan yang disampaikan oleh para wali setan.

Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka mewahyukan (membisikkan) kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). [QS. al-An’am : 112]

 

Beberapa Permasalahan

1. Apakah sebenarnya pengertian jin? Apakah dia sama dengan setan?

Jawab :

Jin berasal dari kata “janna-yajunnu-jannan“ yang artinya menutupi. Oleh karenanya disebut dengan “jin” karena sifatnya yang tertutup dan tersembunyi dari pandangan manusia. Begitu pula kata “janin” disebut demikian karena sifatnya yang tertutup di dalam rahim ibunya. [Lisan al- ‘Arab]

Syaithan –setan- berasal dari kata “syathana” yang bisa bermakna ”jauh” [Lisan al- ‘Arab, ash-Shihhah fi al-Lughah]. Dinamakan dengan setan karena jauhnya dia dari rahmat Allah.

 

2. Siapakah iblis itu?

Jawab :

Iblis berasal dari kalangan jin, bahkan dialah penghulunya.

Allah Ta’ala berfirman (artinya) :

“Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” [al-Kahfi : 50]

 

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air (dalam riwayat lain di atas lautan). Kemudian dia mengutus pasukannya. Kedudukan mereka yang paling dekat dengan iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satu pasukannya datang dan berkata, “aku telah melakukan ini dan itu”. Iblis pun berkata, “kamu belum melakukan apa-apa”. Datang yang lainnya dan berkata, “tidaklah aku tinggalkan mereka sehingga aku berhasil memisahkan seorang suami dengan istrinya”. Maka iblis mendekatkan dia pada dirinya dan berkata, “kamulah yang terbaik”.” [Shahih Muslim 13/426].

 

3. Cita-cita iblis

Iblis memiliki cita-cita untuk menyesatkan Adam dan anak keturunannya sehingga bisa menjadi teman bersamanya di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman (artinya) :

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” [79]. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, [80]. sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” [81]. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, [82]. kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”[83] [Shaad : 79-83].

 

4. Apakah setan hanya tertentu dari bangsa jin?

Jawab :

Tidak, bahkan ada di antara mereka dari golongan manusia. Dalilnya sebagaimana ayat di dalam Pendahuluan sebelumnya. Allah Ta’ala juga berfirman (artinya) :

“dari (golongan) jin dan manusia” [an-Naas : 6].

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya, “yaitu was-was itu terkadang datangnya dari jin dan terkadang datang dari manusia. Was-was dari setan sudah jelas, karena setan itu bisa berjalan seiring dengan peredaran darah manusia. Sedangkan was-was yang datangnya dari manusia maka betapa banyak orang yang mendatangi orang lain dengan melontarkan hal-hal yang buruk dan menghiasinya ke dalam hati orang-orang. Maka perkataan itu pun merasuki pikiran dan mempengaruhinya”.

 

5. Apakah setan dari bangsa jin bisa terlihat oleh manusia?

Jawab :

Ya, bisa terlihat sebagaimana kisah Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, beliau menceritakan :

“Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam menugaskan kepadaku untuk menjaga harta zakat Ramadhan. Kemudian datanglah seseorang untuk mengambil makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata, “demi Allah, aku akan menghadapkanmu kepada Rasulullah”. Dia berkata, “Sungguh aku adalah orang yang membutuhkan, aku punya keluarga dan aku sangat membutuhkannya”. Aku pun melepaskannya. Pagi harinya Rasulullah bertanya, “wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu kemarin?” Aku menjawab, “wahai Rasulullah, dia mengadukan kebutuhannya dan keluarganya. Aku pun kasihan dan melepaskannya.” Rasulullah berkata, “Sungguh dia telah berdusta, dia akan kembali lagi.” Aku pun tahu bahwa dia akan kembali karena Rasulullah memberitahukannya. Aku pun mengintainya dan datanglah dia mengambil makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata, “sungguh aku akan menghadapkanmu kepada Rasulullah.” Dia berkata, “tinggalkan aku, sungguh aku orang yang membutuhkan, aku memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak akan kembali lagi”. Aku jadi kasihan dan melepaskannya. Pagi harinya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “wahai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan oleh tawananmu?” Saya berkata, “wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya yang mendesak dan tanggungan keluarganya. Aku kasihan kepadanya dan melepaskannya.” Belia bersabda, “sesungguhnya dia telah membohongimu dan dia akan kembali.” Aku pun mengintainya untuk yang ketiga kalinya sampai datanglah dia untuk mengambil makanan. Aku menangkapnya dan berkata, “aku akan membawamu kepada Rasulullah. Ini adalah akhir dari tiga kali perbuatanmu. Kamu bilang tidak akan kembali tapi kamu kembali lagi.” Dia berkata, “lepaskan aku! Akan aku ajarkan padamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberi manfaat kepadamu.” Aku bertanya, “apa itu?” Dia berkata, “kalau kamu hendak berbaring untuk tidur maka bacalah ayat kursi : “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal… sampai akhir ayat”. Niscaya Allah senantiasa menjagamu dan setan pun tidak bisa mendekatimu sampai waktu pagi.” Aku pun melepaskannya. Pagi harinya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “apa yang telah dilakukan oleh tawananmu kemarin?” Aku jawab, “wahai Rasulullah, dia mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberi manfaat kepadaku sehingga aku pun melepaskannya.” Beliau bertanya, “apa itu?” Aku katakan, “dia berkata padaku, apabila engkau hendak berbaring tidur maka bacalah ayat kursi dari awal sampai akhir ayat. Dan dia katakan, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan pun tidak mampu mendekatimu sampai pagi. Dan mereka –para shahabat nabi- adalah orang-orang yang paling bersemangat kepada kebaikan[1].” Maka Nabi berkata, “sesungguhnya dia telah jujur kepadamu meskipun dia adalah pendusta. Wahai Abu Hurairah, tahukah engkau siapa yang engkau ajak bicara selama tiga malam ?” aku berkata, “tidak tahu”. Belia bersabda, “dia adalah setan” [Shahih Bukhari 8/102].

 

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadist di atas :

1. Bahwa setan bisa menyerupakan diri sebagai manusia dan terlihat oleh mereka.[2]

2. Disunnahkan membaca ayat kursi sebelum tidur

3. Pembacaan ayat kursi dapat menjaga dari gangguan setan

4. Setan/ jin juga bisa membaca ayat kursi dan ayat-ayat lainnya dari al-Quran.[3]

 

6. Setan bisa masuk (merasuki) tubuh manusia

Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[4]…” [al-Baqarah : 275].

 

Bahkan setan masuk ke dalam aliran darah di dalam tubuh sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam (artinya) :

“Sesungguhnya setan berjalan di dalam peredaran darah manusia” [potongan hadist, Bukhari 7/178; Muslim 11/150]

 

7. Seperti manusia, jin juga terdiri dari berbagai macam golongan.

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara Kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” [QS. Al Jin: 11].

 

8. Jin juga tidak tahu perkara ghaib

Allah Ta’ala berfirman (artinya) :

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” [Saba’ : 14]

 

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat berkenaan dengan kisah pada ayat di atas, di mana di akhir riwayat disebutkan, “maka pada saat itu orang-orang menjadi yakin bahwa jin telah membohongi mereka. Seandainya para jin itu mengetahu perkara yang ghaib tentunya mereka akan mengetahui matinya nabi Sulaiman dan tentunya mereka tidak terus-menerus disiksa dengan cara bekerja kepada Sulaiman selama satu tahun lamanya”

 

9. Setiap orang memiliki qarin –teman- dari bangsa jin.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Aisyah (artinya) :

“Apakah setanmu benar-benar telah mendatangimu? ‘Aisyah berkata : wahai Rasulullah, apakah ada setan bersamaku? Beliau menjawab : benar. Saya (‘Aisyah) berkata : dan juga setiap orang? Beliau menjawab : benar. Saya bertanya : dan juga bersamamu wahai Rasulullah? Beliau menjawab : benar, akan tetapi Rabb-ku telah menolongku atasnya sehingga dia tunduk.” [Muslim 13/429]

 

10. Cara-cara menjauhkan diri dari gangguan setan

a. Membaca ayat kursi, sebagaimana sudah dijelaskan pada poin ke-5.

b. Membaca Surah al-Baqarah

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) :

“Jangan jadikan rumah kalian seperti pekuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah al-Baqarah” [Muslim 4/182].[5]

 

c. Membaca al-Ikhlas dan mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas) untuk membentengi diri dari sihir

Rosululloh mengatakan kepada Abdulloh bin Khubaib: “Bacalah Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, di waktu pagi dan sore, sebanyak 3 kali! Itu cukup bagimu untuk mencegah semua marabahaya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, di-shohih-kan oleh Albani) [faidah dari http://addariny.wordpress.com/2009/08/07/dzikir-pagi-dan-sore-penangkal-miskin-dan-sihir/].

 

d.Adzan

“Jika ghilan membuat lalai maka bersegeralah adzan” [Musnad Imam Ahmad (14277)].

Ghilan yaitu setan yang membisikkan takhayyul kepada para musafir dalam perjalanannya sehingga seolah-olah ada sesuatu yang ditakutinya atau seperti musuhnya atau yang semisalnya. Bila orang itu bertakbir maka setan itu pun lari. [Tafsir Ibnu ‘Utsaimin]

 

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) :

“Apabila dikumandangkan adzan untuk shalat maka setan akan lari sambil terkentut-kentut sampai adzan tidak terdengar olehnya. Bila adzan sudah selesai dia pun kembali lagi, sampai apabila dikumandangkan iqamat dia pun lari lagi. Selesai iqamat dia pun kembali lagi melintas di antara seseorang dengan dirinya. Setan itu berkata, ingatlah hal yang ini dan yang itu, yaitu (mengingatkan) apa-apa yang sebelumnya tidak diingat olehnya, terus terjadi keadaan itu sehingga orang tersebut tidak tahu sudah berapa raka’at shalat yang dia kerjakan”.[Shahih Bukhari 2/471]

 

Penutup

1. Jauhkan diri dari keyakinan-keyakinan yang tidak ada dasarnya sama sekali dari al-Quran dan as-Sunnah yang shahih.

2. Jauhkan diri dari gangguan setan/ jin dengan cara-cara yang dituntunkan syari’at, bukan dengan mengada-ada.

3. Jangan sekali-kali mendatangi dan minta bantuan kepada dukun, bagaimanapun penampilan mereka –hari ini mereka dijuluki dengan paranormal, ustadz, kiai, orang pintar dll-. Kalau tidak yakin dengan benarnya bacaan al-Quran kita, tidak mengapa meminta tolong kepada orang yang bisa membacakannya. Allohu a’lam.

4. Para ulama menyatakan kafirnya orang yang mengaku-aku mengetahu perkara yang ghaib –seperti mengaku mengetahu barang yang hilang, bisa melihat jin kapanpun dia mau dll-. Sekali lagi, janganlah terkecoh dengan penampilan mereka.[6]

5. Seharusnya kita lebih khawatir kepada gangguan setan yang berupa bujukan-bujukan untuk berbuat syirik, kufur dan maksiat. Hal-hal yang haram yang kita lakukan sesungguhnya adalah musibah yang lebih besar dan berat ketimbang “keisengan” jin yang dilakukan kepada kita.

6. Mintalah pertolongan kepada Allah, karena Dia lah yang Maha Berkuasa atas seluruh makhlukNya.

 

Demikian sekilas tentang jin, kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan datangnya dari diri pribadi dan dari bisikan setan. Jangan sungkan untuk memberikan koreksi dan nasihat, karena saya jauh lebih membutuhkannya.

 

Wa shallallohu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shahbihi ajma’in. Wa al-hamdu lillah alladziy bini’matihi tatimmu ash-shalihaat.

 

————————————————————————————-

Maraji’ –Referensi- :

—————————————————————————————

Al-Quran dan terjemahan Depag, software Al-Quran Digital versi 0.2.

Shahih Muslim, Muslim ibnu al-Hajjaj, Maktabah Syamilah

Shahih Bukhari, Imam Bukhari, Maktabah Syamilah

Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad Ibnu Shalih al-‘Utsaimin, Maktabah ibnoothaimeen.

Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah.

Fathu al-Bariy Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Hajar, Maktabah Syamilah

Lisan al-‘Arab, Ibnu al-Mandzur, Maktabah Syamilah

Ash-Shihhah fi al-Lughah, al-Jauhariy, Maktabah Syamilah.

 


[1] Sepertinya kalimat ini adalah sisipan dari perawi –orang yang meriwayatkan hadist- sebagaimana komentar Ibnu Hajar rahimahullah di dalam Fathu al-Bariy

[2] Kejadian ini pernah saya alami langsung di mana saya berbicara dengan seorang yang “mirip” kawan saya di  rumahnya. Namun dia tidak mengakuinya. Sampai saaat ini saya masih ragu apakah itu jin ataukah kawan saya yang berbohong.

[3] Saudara istri saya pernah kerasukan jin dan ketka dibacakan ayat kursi si jin malah ikut-ikutan membacanya, cerita ini saya dapat dari istri.

[4] Yaitu pada hari kiamat.

[5] Saya pernah punya pengalaman pribadi, yaitu ketika suatu saat anak saya yang pertama tiba-tiba saja tidak mau tidur di kasur. Setiap kali dipaksa malah menangis keras. Kalau sudah kecapekan dan tertidur, malamnya selalu bangun dan menangis. Kejadian ini berlangsung beberapa malam. Tadinya saya pikir ini karena anak saya sedang rewel saja, tidak ada kaitannya dengan gangguan jin. Namun karena kasihan, saya coba mengamalkan sunnah Rasulullah ini. Saya bacakan surat al-Baqarah. Meskipun satu surat itu tidak selesai dalam semalam, namun alhamdulillah semenjak malam pertama dibacakan al-Baqarah, anak saya tidak lagi rewel bila mau tidur. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmatNya yang amat banyak.

[6] Penghukuman kafir di sini sifatnya mutlak, bukan mu’ayyan –tertentu kepada individu-. Sedangkan  untuk menghukumi individu tertentu maka harus dipenuhi terlebih dahulu syarat-syaratnya serta dihilangkan penghalang-penghalangnya.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s