Definisi gosip

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan sebagai berikut :

Gosip : obrolan tt orang-orang lain; cerita negatif tt seseorang; pergunjingan: keretakan rumah tangga itu berasal dr ~ yg sampai ke telinga istrinya dan dipercayainya begitu saja tanpa diteliti lebih dulu;[1]

Di dalam syari’at Islam dikenal terminologi “ghibah”, yang didefinisikan oleh Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam dengan :

Engkau membicarakan saudaramu dengan hal yang dia benci[2]

Allah Ta’ala menyebutkan perkara ghibah ini di dalam surat al-Hujurat ayat 12 :

(artinya) “dan janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

Ibnu Katsir berkata : Di dalam ayat tersebut terdapat larangan perbuatan ghibah. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya di dalam beberapa hadist.

Kemudian Ibnu Katsir membawakan beberapa riwayat, di antaranya hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, yaitu hadist tentang definisi ghibah sebagaimana sudah dikutip di atas. Lihat pula catatan kakinya.

Ibnu Katsir juga membawakan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, dia berkata :

Saya berkata kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam, “Cukuplah bagi Anda bahwa Shafiyyah itu begini dan begitu.” Para perawi selain Musaddad menjelaskan, maksud ‘Aisyah bahwa Shafiyyah itu pendek orangnya. Maka Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kalimat yang seandainya –kalimat tersebut- dicampur ke dalam air laut niscaya akan tercampur[3].” ‘Aisyah berkata, “Aku menceritakan seseorang kepada Nabi shalllallohu ‘alaihi wa sallam –yaitu dengan menirukannya- maka Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak suka menirukan seseorang[4], meskipun aku diberi harta sekian banyak.”[5]

Muhammad bin ‘Abdurrohman al-Mubarakfuriy menukil perkataan Imam an-Nawawi ketika menjelaskan hadist di atas :

Ketahuilah, bahwasannya ghibah termasuk seburuk-buruk perbuatan dan paling banyak tersebar di kalangan manusia sampai-sampai tidak selamat darinya kecuali sedikit dari mereka. Membicarakan “sesuatu yang dibenci oleh saudaramu” itu umum mencakup badannya, agamanya, urusan duniawinya, jiwanya, akhlaknya, hartanya, anaknya, pasangan hidupnya, pembantunya, pakaiannya, cara jalannya, gerak anggota tubuhnya, raut mukanya, urusan talaknya dan yang semisalnya. Sama saja apakah membicarakannya dalam bentuk perkataan, tulisan maupun isyarat, baik isyarat mata, tangan, kaki dan lain-lainnya. Batasannya adalah semua hal yang bisa dipahami sebagai bentuk kekurangan seorang muslim, maka meng-ghibahnya adalah haram.[6]

 

Hukum Ghibah

Ibnu Katsir berkata, “Ghibah hukumnya haram  dengan kesepakatan ulama. Tidak ada pengecualian dalam masalah ini kecuali ada maslahat yang kuat di dalamnya, seperti dalam masalah jarh, ta’dil dan nasihat. Sebagaimana sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam ketika memperbolehkan hal itu terhadap seorang yang jahat, “Biarkan, dia sejelek-jelek sanak kerabat.” [Sahih Bukhari No. 3132 dari hadist ‘Aisyah}.

Juga sabda beliau kepada Fatimah binti Qais ketika dipinang oleh Mu’awiyah dan Abul Jahm, “Mu’awiyah adalah orang yang lemah[7], adapun Abul Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya.” [Shahih Muslim No. 1480].

Demikian pula untuk tujuan yang semisalnya, maka ghibah diperbolehkan. Adapun selain tujuan yang syar’i maka hukumnya sangat diharamkan.  Sungguh telah ada celaan yang kuat atas perbuatan tersebut.

Oleh karenanya Allah Ta’ala menyerupakan ghibah dengan “memakan daging bangkai manusia”[8]. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Maka sebagaimana tabiat manusia yang jijik terhadap perbuatan memakan bangkai manusia, seharusnya secara syar’i manusia juga harus merasa jijik terhadap perbuatan ghibah, karena hukumannya sangat berat. Ayat ini mengandung adanya anjuran untuk menjauh dan waspada dari berbuat ghibah. [selesai kutipan Ibnu Katsir, lihat Tafsir al-Qur-an al-‘Adzim].

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam al-Minhaj :

Ghibah untuk tujuan yang syari’i diperbolehkan dalam 6 (enam) keadaan :

  1. Seorang yang dizalimi, dia diperbolehkan mengadu kepada penguasa atau hakim –pengadilan- untuk menjelaskan kezaliman orang yang menzaliminya.
  2. Meminta bantuan dalam rangka mengubah kemungkaran, mengembalikan orang yang durhaka kepada jalan yang benar.
  3. Meminta fatwa.
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan/ kejahatan seseorang.
  5. Kejelekan yang diperbuat secara terang-terangan.
  6. Dalam rangka menyebutkan cirri-ciri seseorang, bukan bermaksud menunjukkan kekurangannya, seperti : orang yang pincang, yang buta dan semisalnya.[9]

Setelah mengetahui aturan Islam mengenai bahaya dan dosa ghibah a.k.a gossip, maka seharusnya kita senantiasa waspada supaya bisa terhindar dari menceritakan keburukan orang lain. Jangan pula kita tertipu dengan “omong kosong” sebagian orang yang menyebutkan sisi positif dari gossip. Gosip hanya akan menambah dosa dan menjadikan hati kita semakin kotor, sehingga terhalang dari memahami firman Allah dan sabda Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perkataan yang paling benar adalah Kitabullah –al Quran- dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi…”[Musnad Abu Ya’la al-Mushiliy 5/172]

Allohu a’lam, wa alhamdu lillahi rabbi al-‘alamin.


[1] Kamus Besar  Bahasa Indonesia; KBBI offline versi 1.3

[2] Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridahinya- bahwa Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tahu apa ghibah itu?” Mereka –para shahabat- berkata, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Engkau membicarakan saudaramu dengan apa yang dia benci.” Ada yang bertanya, “Bagaimana apabila apa yang saya sebutkan tersebut memang ada pada saudara saya?” Beliau menjawab, “Apabila keadaannya sebagaimana yang engkau bicarakan berarti engkau telah meng-ghibahnya. Apabila hal itu tidak ada pada dirinya berarti engkau telah membuat kebohongan padanya.” [Shahih Muslim, bab Tahrim al-Ghibah 12/476; Sunan Abu Dawud, bab Fi al-Ghibah 13/18; Sunan at-Tirmidziy, Bab Ma Ja-a fi al-Ghibah 7/178, Musnad Ahmad Bab Musnad Abi Hurairah 14/390 – Maktabah Syamilah].

[3] Adz-Dzahabi berkata, “yaitu air laut tersebut akan tercampuri sehingga berubah rasa dan warnanya, disebabkan begitu busuk dan kotornya kalimat tersebut.”  Imam Nawawi berkata, “hadist ini adalah celaan yang paling berat terhadap ghibah, saya tidak mengetahui hadist yang lebih berat celaannya terhadap ghibah melebihi hadist ini.” [Faidh al-Qadir 5/525].

[4] Yaitu menirukan ucapan atau perbuatan seseorang dengan tujuan meremehkan/ menghina [lihat syarah hadist ini dalam ‘Aunu al-Ma’bud dan Tuhfatu al-Ahwadziy].

[5] Sunan Abu Dawud, Bab Fi al-Ghibah 13/19; Sunan at-Tirmidziy, No.2426.

[6] Tuhfatu al-Ahwadziy

[7] Yaitu tidak berharta.

[8] Paling mudah, jika terbersit keinginan untuk meng-gosip orang, bayangkanlah seorang yang bernama “sumanto” si pemakan daging mayat yang terkenal itu. Semoga Allah memberinya hidayah dan menerima taubatnya.

[9] Al-Minhaj, Syarah Shahih Muslim oleh an-Nanawi rahimahullah [Maktabah Syamilah].

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s