اَوّلها الصحيح وهو ما التصل     اِسناده ولم يٌشذّ اَ يُعلّ

”(macam) pertama adalah (hadist) shahih, yaitu hadist yang sanadnya bersambung serta tidak memiliki syadz dan ’illat

يرويه عدل ضابط عن مثله     معتمد في ضبطه و نقله

”yang diriwayatkan oleh orang yang adil dan kredibel dari semisalnya, yang kredibilitas dan penukilannya dapat dipercaya”

Penjelasan :

Al Hadist (اَلحديث) adalah : هو ما ورد عن النبيّ صلّي الله عليه و سلّم من قول او فعل او تقرير او صفة خَلقيّة او خُلقيّة

”yaitu setiap yang datang dari Nabi shallallohu ’alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan sifat akhlak ataupun bentuk lahiriah beliau”.[1]

Hadist Shahih (الصحيح ) adalah :  هوالحديث اَلذي اتّصل سنده بنقل العدل الضابط عن مثله الي منتهاه من غيرشذوذ ولا علّة

”yaitu hadist yang sanadnya besambung melalui penukilan rawi yang adil dan kredibel dari orang yang semisalnya sampai rawi terakhirnya, tanpa adanya syadz dan ’illat.[2]

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa sebuah hadist dapat dikatakan sebagai hadist shahih apabila memenuhi 5 (lima) persyaratan, yaitu :

  1. Sanadnya bersambung / al Ittishal (الاتصال)
  2. Para perawinya ’adil (العدل)
  3. Para perawinya kredibel/ dhabt (الضبط)
  4. Tidak terdapat syadz (الشذوذ)
  5. Tidak terdapat ’illat (العلّة)

Contoh :

Al Imam al Bukhari rahimahullah berkata di dalam kitab Shahih beliau (no. 4854) :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قال أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ اِبن شهاب عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قراَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ

“’Abdullah ibn Yusuf telah bercerita kepada kami, dia berkata : Malik telah mengabarkan kepada kami, dari Ibn Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya[3], dia berkata[4] : saya mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam membaca surat “at Thur” di waktu shalat Maghrib”

Derajat hadist di atas shahih karena semua persyaratan hadist shahih pada sanadnya telah terpenuhi : para perawi tsiqah, sanad bersambung, serta tidak adanya syadz dan ‘illat.

Definisi al Ittishal (الاتصال) :

هو سماع كل راوٍِ من الراوي الذي يليه

“yaitu penyimakan/ pendengaran setiap rawi dari rawi sebelumnya”[5]

Namun pengertian di atas masih kurang sempurna karena penggunaan lafadz sama’ (pendengaran) bukanlah syarat bersambungnya sanad. Ada beberapa bentuk lafadz yang dapat dipakai selain sama’, seperti haddatsana (حَدَّثَنَا), akhbarana (أَخْبَرَنَا) sebagaimana tertera pada contoh hadist sebelumnya. Oleh karenanya, definisi di atas dapat dikoreksi menjadi :

أن كل راوٍِ من رواة الاسناد قد تحمّل الحديث متنا و سندا من شيخه الذي فوقه في السند

“bahwa setiap rawi harus membawakan hadist lengkap matan berikut sanadnya dari gurunya yang memiliki posisi sanad di atasnya”

Definisi al Isnad (الإسناد) :

هو سلسلة الرواة الموصلة لِنصّ الحديث  [وإن كان منقطعا]

“silsilah para perawi yang menyambung kepada nash / teks hadist (meskipun ada keterputusan)”[6]

Adapun al hafidz Ibnu Hajar rahimahullah, beliau mendefinisikan sebagai berikut :

الإسنادُ: حكايةُ طريقِ المتن

isnadsanad adalah jalan cerita sebuah matan[7]

Definisi syadz (الشذوذ)

هو رواية الراوي المقبول مخالفا من هو أولي منه إمّا عددا أَو توثيقا

“yaitu riwayat dari seorang perawi yang maqbul (dapat diterima hadistnya) yang menyelisihi perawi yang lebih utama darinya, baik dari sisi jumlahnya atau dari sisi tsiqahnya[8]

Dapat pula didefinisikan sebagai :

ما رواه الثقة مخالفا من هو أوثق منه أو مخالفا جماعة فيه

“riwayat seorang perawi tsiqah yang menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya atau menyelisihi sekumpulan perawi tsiqah lainnya”

Definisi al ‘Illat /penyakit (العلّة)

هي سبب يَقدِح في صحّة حديثٍِ ظاهره الصحّة والخلوّ منها

“yaitu sesuatu yang dapat menyebabkan ternodainya sebuah hadist yang nampaknya shahih dan tidak terdapat ‘illat di dalamnya”[9]

‘Illat pada sebuah hadist hanyalah nampak bagi para ahlul hadist yang mereka benar-benar mendalam ilmunya.

Hadist yang terlepas dari ‘illat dapat pula didefinisikan sebagai :

ان يكون الحديث سالما مِن أيّ نوع مِن انواع الخطأ الواقع مِن قِبل الثقة عن غير قصدٍِ

“hadist yang selamat dari satu macam dari berbagai macam kesalahan yang timbul dari seorang perawi tsiqah tanpa disengaja”

Definisi Adil (العدل) :

هوالراوي الذي يحمل صفاتٍِ تحمل صاحبَها علي التقوي واجتناب الادناس وما يُخِلّ بالمروءة عند الناس

“yaitu rawi yang memiliki sifat-sifat tertentu yang mengantarkan pada ketakwaan, menjauhi hal yang kotor dan yang dapat menurunkan kewibawaan di antara manusia”[10]

mengantarkan pada ketakwaan” maksudnya adalah senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala.

menjauhi hal yang kotor” maksudnya adalah menjauhi maksiat.

Berkenaan dengan ta’rif adilal hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam Nuzhatun Nadzar :

مَنْ له مَلَكَةٌ تَحْمِلُه على مُلازَمة التقوى والمروءة

“orang yang memiliki tabiat yang membawanya pada ketakwaan dan muru’ah[11]

Yang dimaksud dengan muru’ah adalah :

  1. Berperilaku sebagaimana orang-orang, sesuai dengan tempat dan waktunya. Demikian menurut jumhur ahli fiqh dari kalangan asy syafi’iyah.
  2. Menjauhi perkara yang kotor/ maksiat.
  3. Tidak melakukan suatu perbuatan di tempat yang sunyi yang mana pelakunya akan merasa malu bila melakukannya di hadapan orang lain.[12]

Syarat-syarat seorang perawi adil :

  1. muslim
  2. mumayyizmukallaf
  3. menjauhi kefasikan (seperti : mengaku mendengar sebuah hadist yang sebenarnya tidak pernah ia dengar, berdusta atas Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam)
  4. menjauhi hal-hal yang menurunkan kewibawaan/ muru’ah
  5. tidak lalai

Definisi adh dhabt/ kredibel (الضبط)

هوقوّة الحافَظة والوعي الدقيق وحسن الإدراك في تصريف الأمور والثباتُ علي الحفظ وصيانة ما كتب منذ التحمّل والسماع إلي حين التبليغ والأداء

“yaitu kuatnya penjagaan, perhatian, ketelitian, baiknya pemahaman, kokohnya hafalan, serta apa yang ditulis senantiasa terjaga semenjak dia dapatkan dan dengarkan sampai saatnya menyampaikan”[13]

Dhabt terbagi menjadi dua :

  1. Dhabt ash Shadr (ضبط الصدر)

هوأن يحفظ الراوي ما سمعه حفظا يمنكنه مِن استحضاره متي شاء

“Hafalan seorang rawi atas apa yang dia dengar yang memungkinkan bagi dirinya untuk menyampaikannya kapan saja”[14]

  1. Dhabt al Kitab (ضبط الكتاب)

هو أن يصون كتابه الذي كتب منذ سمع فيه و صحّحه إلي أن يؤدّي منه ولا يدفعه إلي من لا يصونه ويمكن أن يغيّر فيه أو يبدّل

“penjagaan seorang rawi terhadap kitab yang ditulisnya semenjak mendengarnya dan membetulkannya, sampai saat menyampaikannya dari kitab tersebut; dan dia tidak menyerahkannya kepada orang yang tidak bisa menjaganya sehingga memungkinkan orang tersebut merubah atau mengganti isinya”[15]


[1] Pembahasan yang lebih luas silakan lihat di “Tadribur Rawi” (1/62) oleh al Hafidz as Suyuthi rahimahullah dan “Qawa’idut Tahdits” (hal. 61) oleh al Qasimi rahimahullah [catatan kaki di dalam Ta’liqatul Atsariyah oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy]

[2] Lihat “at Tadrib” (1/62), “al Ba’itsul Hatsits” (1/99) oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dan ”Qawa’idut Tahdits” (hal. 79) [idem]

[3] Jubair ibn Muth’im mendengarkan bacaan surat Ath Thur ini semasa masih kafir. Dia berkata, “itulah awal mula bersemainya iman di dalam hatiku.” [Tadrib ar Rawiy (2/4)]

[4] Demikian sanad yang tercantum di at Ta’liqat al Atsariyah oleh Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah. Sepertinya sanad tersebut tercampur di antara dua buah matan hadist yang berurutan, yaitu hadist no. 4853 dengan 4854, sebagaimana yang tercantum pada kitab Sahih Bukhari (3/199-200) cet. Darul Fikr, juga pada cet. Dar Qut an Najah, tahqiq Muhammad Zuhair bin Nashir an Nashir, versi microsoft word. Sanad yang benar adalah : “Al Humaidiy telah menyampaikan kepada kami, Sufyan telah menyampaikan kepada kami, dia berkata : mereka telah menyampaikan kepadaku dari az Zuhriy dari Muhammad ibn Jubair ibn Muth’im dari bapaknya, dia berkata : saya mendengar Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam…”

[5] At Ta’liqat al Atsariyah, hal. 21

[6] Idem, hal. 21

[7] Nuzhatun Nadzar (نزهة النظر في توضيح نخبة الفكر في مصطلح أهل الأثر) (1/37)

[8] At Ta’liqat al Atsariyah, hal. 21

[9] Idem.

[10] Idem.

[11] Nuzhatun Nadzar (1/69). Kemudian al Hafidz menjelaskan makna takwa dengan “meninggalkan berbagai perbuatan tercela, seperti syirik, kefasikan dan bid’ah”

[12] Ta’liq Nuzhatun Nadzar (1/69) oleh Abdullah bin Dhaifullah ar Ruhailiy

[13] At Ta’liqat al Atsariyah, hal. 21

[14] idem

[15] Idem, hal. 22

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

2 responses »

  1. […] ”yaitu setiap yang datang dari Nabi shallallohu ’alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan sifat akhlak ataupun bentuk lahiriah beliau”.[1] […]

  2. Nina mengatakan:

    Makasih infonya ustad..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s