مُسَلسَل قُلْ ما علي وَصْفٍِ أتَي       مِثلُ أمَا واللهِ أنبَاَنِي الفَتَي

al musalsal yaitu hadist yang datang dengan suatu bentuk tertentu, seperti perkataan : ‘demi Allah, seorang pemuda telah membawa berita kepadaku…”

كذاك قدْ حَدّثنِيْه قائما       أوْبَعْدَ أنْ حَدّثنِي تبَسّمَا

“demikian pula perkataan ‘sungguh dia telah menceritakan hal itu kepadaku dalam keadaan berdiri’ atau perkataan ‘dia pun tersenyum setelah menceritakannya”.

Penjelasan :

Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata[1] :

 

Al musalsal yaitu : hadist yang setiap perawinya saling mengikuti di dalam suatu sifat tertentu, baik dalam bentuk ucapan -seperti bersumpah dengan nama Allah- atau dalam bentuk keadaan -seperti meriwayatkan hadist dalam keadaan berdiri- atau dalam bentuk perbuatan -seperti tersenyum selepas meriwayatkan hadist-.

Hukumnya : maqbul (diterima) bila terpenuhi persyaratannya.

Ibnu Sholah berkata di dalam ‘ulumul hadist’ [hal. 249] : “Sedikit sekali musalsal yang selamat dari kelemahan, yakni lemah pada bentuk tasalsul-nya, bukan pada matan-nya.

Contoh :

Abdullah telah menceritakan kepadaku: ayahku telah bercerita kepadaku: al Muqriy menceritakan kepadaku: Haywah bercerita kepadaku, dia berkata: aku mendengar ‘Uqbah bin Muslim at Tujibiy berkata:  Abu Abdirrohman al Hubuliy menceritakan kepadaku: dari ash Shunabihiy dari Mu’adz bin Jabal radhiyallohu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari memegang tangannya lantas bersabda :

يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ قَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“wahai Mu’adz, sungguh aku mencintaimu” Muadz pun berkata kepada beliau, “dengan tebusan ayah dan ibuku wahai Rasulullah, aku pun mencintaimu”. Beliau bersabda, “wahai Mu’adz, aku wasiatkan kepadamu : janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat untuk berdoa : Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu dan beribadah dengan baik kepadaMu”.

Kemudian Mu’adz pun mewasiatkan hal itu kepada ash Shunabihiyash Shunabihiy kepada Abu AbdirrohmanAbu Abdirrohman kepada Uqbah bin Muslim.[2]

Syaikh Ali al Halabiy berkata : Syaikh Abul Faidh al Fadaniy berkata kepadaku : sungguh aku mencintaimu. Kemudian beliau berkata : “beberapa orang syaikh telah menceritakan kepadaku : Umar bin Hamdan, Muhammad bin Abdul Baqiy al Laknawiy dan….mereka semua mengatakan : sungguh aku mencintaimu”. Demikianlah, setiap perawi mengatakan “Fulan telah menceritakan kepadaku dan berkata kepadaku : sungguh aku mencintaimu, maka katakan….”sampai akhir riwayat.

Beberapa Faidah[3] :

  1. Hadists Tasalsul memiliki beberapa bentuk, yaitu : perkataan, perbuatan, perkataan + perbuatan, sifat tahammul (cara mendapatkan sebuah hadist, seperti “saya mendengar”, “telah mengabarkan kepada kami” dll), waktu periwayatan (seperti : meriwayatkan pada hari ‘ied), tempat periwayatan.
  2. Tasalsul tidak memberikan konsekuensi akan bersambungnya (muttashil) riwayat tersebut.

Allohu a’lam.


[1] At Ta’liqat al Atsariyah [26]

[2] Musnad Ahmad [45/96], Maktabah Syamilah.

[3] Dari catatan pelajaran.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

One response »

  1. […] Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata[1] : […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s