وما أتي مُدلَّسا نوعان

Mudallas ada dua macam…”

Penjelasan :

Al-Mudallas yaitu : hadist yang memiliki cacat yang disembunyikan di dalam sanadnya supaya nampak sebagai hadist yang baik.

Secara bahasa : “tadlis dalam jual beli” maknanya menyembunyikan cacat barang dagangan dari pembeli.[1]

الأوّلُ الإسْقاطُ لِلشيخ وأَنْ يَنقُل عَمّنْ فَوْقه بِعَنْ وأَنْ

والثاني لا يُسقِطه لكن يَصِفْ إسنادَه بما به لا يَنعرِف

“macam pertama yaitu menggugurkan syaikhnya dengan cara menukilnya dari perawi di atas syaikhnya dengan memakai lafadz “’an” dan “an”.

Macam kedua yaitu tidak dengan menggugurkannya, tetapi menyifati –perawi di dalam- sanadnya dengan sesuatu yang tidak dikenali.”

Penjelasan :

Macam-macam Tadlis : Tadlis terbagi menjadi tiga macam, tidak seperti yang disebutkan oleh nadzim di atas, yaitu :

1. Tadlis at-Taswiyah [2]: yaitu menghilangkan seorang perawi dha’if di antara dua orang perawi tsiqat yang keduanya saling berjumpa.

Orang yang paling terkenal melakukan tadlis semacam ini adalah Baqiyyah bin al-Walid.[3]

Contoh :

Ibnu Abi Hatim[4] berkata : saya mendengar ayahku (kemudian dia menyebutkan hadist yang diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih dari Baqiyyah : Abu Wahb al-Asadiy telah menceritakan kepadaku, dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, hadist : “Janganlah kalian memuji keislaman seseorang sehingga kalian mengetahui akidahnya”.

Ayahku berkata (yaitu : Abu Hatim) : hadist ini memiliki sesuatu yang sedikit orang yang memahaminya. Hadist ini diriwayatkan oleh ‘Ubaidullah bin ‘Amr –seorang tsiqat– dari Ishaq bin Abi Farwah –seorang yang dha’if– dari Nafi’ –seorang tsiqat– dari Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam. ‘Ubaid bin ‘Amr memiliki kunyah : Abu Wahb, dia dari suku Asad. Kemudian Baqiyyah menyebutkannya dengan kunyahnya dan menyandarkannya kepada bani Asad, supaya tidak dipahami sebagai dirinya. Sehingga ketika Ishaq bin Abi Farwah ditinggalkan maka tidak diarahkan kepadanya.[5]

2. Tadlis al-Isnad [6]: yaitu seorang perawi meriwayatkan dari gurunya suatu riwayat yang dia tidak mendengar dari gurunya tersebut, tanpa menyebutkan sima’nya secara jelas, yang mana dia membawakan riwayat tersebut dengan lafadz yang meragukan, sepeti ‘an (dari), an (bahwa), qala (dia berkata).

Contoh :

Hadist yang diriwayatkan oleh an-Nasa-iy dalam “’amal al-yaum wa al-lailah [hal. 431] dengan sanadnya dari dua jalur : dari Abu Zubair dari Jabir, dia berkata : Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam setiap malamnya tidak akan tidur sebelum membaca “tanzil” as-sajdah dan “tabaroka al-ladzi bi-yadihi al-mulk”.

Kemudian beliau meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Zuhair bin Mu’awiyah, bahwasannya dia berkata : saya berkata kepada Abu Zubair, “apakah engkau mendengar Jabir menyebutkan bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidak tidur sebelum membaca “alif-laam-miim” tanzil dan “tabarok”? Dia menjawab, “Bukan Jabir yang menceritakannya kepadaku, akan tetapi Shofwan atau Abu Shofwan yang menceritakannya!”

Saya -Syaik Ali Hasan- katakan : pada contoh di atas Abu Zubair telah men-tadlis dengan menggugurkan perantara penyimakan hadistnya dari Jabir.

3. Tadlis asy-Syuyukh [7]: yaitu seorang perawi meriwayatkan sebuah hadist yang dia dengar dari gurunya, namun dia sebutkan nama gurunya tersebut dengan nama atau kunyah atau sifat yang dia –gurunya- tidak dikenal dengan nama tersebut, dengan tujuan supaya gurunya tersebut tidak dikenali atau supaya tidak dianggap sebagai dirinya.

Contoh :

Perkataan Abu Bakr bin Mujahid –salah seorang imam qurra’- Abdullah bin Abu Abdillah telah menceritakan kepadaku (yang dia maksudkan sebenarnya adalah Abu Bakr bin Abu Dawud as-Sijistaniy). Dengan cara seperti ini beliau telah menyulitkan orang yang mendengarkan riwayatnya.[8]

Ibnu Hajar rahimahullah memiliki kitab yang sarat faidah dalam permasalahan ini, namanya “ta’rifu ahli at-taqdis bi-marotibi al-maushufin bi-at-tadlis”.


[1] Lisanu al-‘Arob [6/86].

[2] At-Tadrib [1/224], Taudhihu al-Afkar [1/373].

[3] Biografinya, silakan lihat : Tahdzibu at-Tahdzib [1/447], al-Jarh wa at-Ta’dil [2/434].

[4] ‘Ilalu al-Hadist [2/155].

[5] Lihat : at-Taqyiid wa al-Idhah [78], at-Tadrib [1/225].

[6] Lihat : al-Ba’its [1/172], at-Tadrib [1/186]

[7] Lihat : Mahasinu al-Ishthilah [167], Jami’u at-Tahshil [110], Fathu al-Mughits [1/169]

[8] Lihat : Thabaqat al-Mudallisin [155] oleh Dr. ’Ashim al-Qoryuti.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s