HADIST MURSAL DAN GHARIB

ومُرْسَلٌ مِنْه الصحابيُ سَقطْ       و قُلْ غَريْبٌ ما رَوَي رَاوٍِ فقط

mursal yaitu hadist yang tidak terdapat nama sahabat (dalam sanadnya), gharib yaitu hadist yang hanya diriwayatkan dari seorang perawi.”

 

Penjelasan :

Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata[1] :

Syaikh Abdus Sattar memberikan koreksi :

ومُرْسَلٌ مِنْ فَوْقِ تابعٍ سَقطْ       و قُلْ غَريْبٌ ما رَوَي رَاوٍِ فقط

mursal yaitu hadist yang tidak terdapat perawi di atas tabi’ingharib yaitu hadist yang hanya diriwayatkan dari seorang perawi.”

Mursal : yaitu hadist yang diangkat/ di-marfu’-kan oleh seorang tabi’in kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan perawi yang menjadi perantaranya, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in semisalnya..

Contoh :

Abu Dawud meriwayatkan di dalam “al Marasil” dari az Zuhriy, “Sesungguhnya Nabi memberikan bantuan kepada orang-orang yahudi pada perang Khaibar, maka Nabi memberikan bagian mereka.”

Zuhriy adalah seorang imam dari kalangan tabi’in, beliau meriwayatkan hadist di atas langsung kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan perantaranya.

 

Faidah :

Mursal Sahabiy : yaitu hadist yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mana dia tidak mendengar atau menyaksikan langsung perkataan atau perbuatan Nabi tersebut. Sebabnya bisa karena masih kecil, atau masuk Islam belakangan atau karena sedang tidak berada di tempat. Banyak hadist-hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat “kecil” seperti Ibnu ‘Abbas, Ibnu Zubair dan lain-lainnya. Mursal dari mereka masih bisa diterima karena semua sahabat adalah ‘adil.

Adapun mursal dari tabi’in adalah lemah, tidak bisa diterima.

Gharib : hadist yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja di tiap tingkatan sanadnya.

Disebut dengan gharib (asing) karena seolah-olah tidak ada orang lain selainnya, atau karena jauhnya dari martabat masyhur apalagi mutawatir.

Contoh :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu hanya tergantung pada niatnya dan bagi setiap orang hanyalah apa yang dia niatkan…”[2]

Para perawi hadist di atas hanya ada satu orang di setiap thabaqat sanadnya, yaitu dari Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Khattab, kepada ‘Alqamah, kepada Muhammad bin Ibrahim at Taimiy, kepada Yahya bin Sa’id al Anshariy. Kemudian setelahnya menjadi masyhur.

Allohu a’lam.


[1] At Ta’liqat al Atsariyah [32-33]

[2] Sahih Bukhari, hadist no. 1

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

One response »

  1. […] Syaikh Ali bin Hasan al Halabiy hafidzahullah berkata[1] : […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s