AL QAWA’ID AL FIQHIYYAH (القواعد الفقهيّة)

Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir As Sa’diy rahimahullah

 

إعلمْ هُديت أنّ أفضل المِنَن       عِلم يُزيل عنك الشكّ والدَرَن

Ketahuilah -semoga engkau diberi petunjuk- sesungguhnya anugerah yang paling utama adalah ilmu yang dapat menghilangkan keraguan dan kotoran dari dirimu.

ويَكشف الحقّ لِذي القلوب       ويُوصل العبدَ إلي المطلوب

Dan (ilmu yang dapat) menyingkap kebenaran bagi pemilik hati, serta (ilmu yang mampu) mengantarkan seorang hamba kepada cita-citanya.

Penjelasan[1] :

Sesungguhnya karunia dari Allah Ta’ala amatlah banyak, dan sebaik-baik karunia bagi seorang hamba adalah ilmu yang bermanfaat. Adapun ciri-ciri ilmu yang bermanfaat sebagaimana dalam bait di atas : ilmu yang mampu menghilangkan dua hal bagi pemiliknya, syubhat dan syahwat.

Adapun syubhat itu akan mewariskan keraguan pada pemiliknya. Sedangkan syahwat akan menjadikan hati pemiliknya kotor dan keras serta menghalangi anggota badan untuk melakukan ketaatan.

Sebaliknya, ilmu yang bermanfaat akan mendatangkan dua hal kepada pemiliknya, yaitu keyakinan -sebagai lawan dari keraguan- dan keimanan yang sempurna -sebagai lawan dari syahwat– yang akan menghantarkan seorang hamba kepada setiap cita dan membuahkan amal yang baik.

Setiap kali ilmu yang bermanfaat bertambah pada seorang hamba maka semakin bertambah pula kesempurnaan keyakinan dan kemauan, dan tidak akan lengkap kebahagiaan seorang hamba kecuali lengkap terkumpul padanya dua hal ini. Dengan keduanya pula seorang hamba akan mendapatkan kepemimpinan dalam agama.

Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar[2], dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami. [as Sajdah : 24]

Derajat Yakin

Derajat yakin ada tiga : ‘ilmu al yaqin‘ainu al yaqin dan haqqu al yaqin

1. ‘ilmu al yaqin , seperti pengetahuan kita sekarang ini tentang surga dan neraka

2. ‘ainu al yaqin, seperti ketika seorang hamba mendapati hari kiamat telah tiba, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ () وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ

“Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa,

Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang- orang yang sesat” [Asy Syu’ara : 90-91]

Maka masing-masing melihatnya sebelum memasukinya.

3. ‘haqqu al yaqin, seperti ketika seorang hamba telah memasuki surga atau neraka

Kesimpulannya, sesungguhnya ilmu bagaikan pohon yang berbuah perkataan terpuji dan amalan yang shalih. Sedangkan kebodohan bagaikan pohon yang berbuah perkataan dan perbuatan kotor.

Bila demikian halnya keadaan ilmu, maka seyogyanya bagi setiap insan untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh meraihnya serta meminta pertolongan kepada AllahTa’ala dalam usahanya tersebut. Pun hendaknya ia mendahulukan apa-apa yang paling penting dan bermanfaat buat dirinya.

Di antara hal yang paling penting bagi seorang hamba adalah mengetahui dasar-dasar serta kaidah-kaidah dari berbagai permasalahan yang bercabang darinya, sebagaimana diungkapkan oleh bait berikutnya.

فاحرِصْ علي فهْمِك لِلقواعِد       جامِعةِ المسائلِ الشوارِد

Maka bersemangatlah untuk memahami kaidah-kaidah yang mengumpulkan berbagai permasalahan yang beraneka ragam

لِترتقِي في العِلم خيرَ مُرتقي       وتقتفِي سُبْلَ الذي قدْ وُفِّقا

Sehingga engkau menjadi sebaik-baik orang yang terpelajar, dan meraih jalan kemuliaan orang yang mendapat petunjuk.

وهٰذه قواعِدٌُ نَظمْتُها       مِنْ كُتْبِ أهلِ العِلْمِ قَدْ حَصًّلْتُها

Inilah nadzam –nadzam (bait) yang memuat kaidah-kaidah yang saya ambil dari kitab-kitab para ulama.

جَزاهُم المَوْلٰى عَظِيْمَ الأجْر       والعَفوَ مَعْ غُفرانِه وَالبِرّ

Semoga Allah membalas mereka dengan pahala yang agung, ampunan serta kebaikan dariNya.

Penjelasan :

Demikianlah, sesungguhnya pengetahuan tentang kaidah-kaidah adalah termasuk sebab yang paling kuat untuk memudahkan ilmu, memahaminya dan menghapalnya. Karena kaidah itu mengumpulkan berbagai permasalahan yang bermacam-macam dalam satu kalimat yang ringkas.


[1] Penjelasan diambil dari syarah Syaikh as Sa’diy sendiri.

[2] yang dimaksud dengan sabar ialah sabar dalam menegakkan kebenaran

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

3 responses »

  1. samsuddin mengatakan:

    untuk kaidah ke 8 dan seterusnya kok tidak ada ya…..

    • Abu Abdirrohman mengatakan:

      iya, ngajinya tidak diteruskan karena ustadznya berhalangan. Saya sendiri belum sempat melanjutkan lagi terjemahannya. Semoga Allah mudahkan di kemudian hari untuk melanjutkannya.

  2. samsuddin mengatakan:

    untuk kaidah ke 8 dan seterusnya kok tidak ada ya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s