Al Qawa’idAl Fiqhiyyah (القواعد الفقهيّة)

Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir As Sa’diy rahimahullah

الدِيْنُ مَبْنِيٌُّ علٰي المَصَالِح       في جَلبِها والدّرْءِ لِلقبائِح

Agama (Islam) dibangun di atas kaidah : meraih kemaslahatan dan mencegah kejelekan.

Penjelasan[1] :

Inilah pokok yang agung dan kaidah yang menyeluruh, mencakup keseluruhan permasalahan agama. Semua ajaran Islam berporos pada meraih kemaslahatan agama, dunia dan akhirat; serta mencegah kerusakan agama, dunia dan akhirat.

Tidaklah Allah Ta’ala memerintahkan sesuatu melainkan di dalamnya terdapat kemaslahatan yang tak terhitung banyaknya. Demikian pula sebaliknya, tidaklah Allah Ta’ala melarang dari sesuatu melainkan di dalamnya terdapat kerusakan yang tak terhitung banyaknya.

Termasuk perintah Allah Ta’ala yang paling agung adalah : tauhid, yaitu meng-esakan Allah Ta’ala dalam peribadahan. Tercakup di dalamnya baiknya hati, kelapangan hati, cahaya hati, hilangnya kotoran hati, juga kemaslahatan badan, dunia dan akhirat.

Larangan Allah Ta’ala yang paling besar adalah : syirik dalam beribadah kepadaNya. Di dalamnya terkandung kerusakan dan bahaya bagi hati, badan, dunia dan akhirat.

Setiap kebaikan di dunia dan akhirat merupakan buah dari tauhid, dan setiap kejelekan di dunia dan akhirat merupakan buah dari kesyirikan.

Beberapa perintah Allah Ta’ala yang lain adalah : shalat, zakat, puasa dan haji yang semua itu bisa mendatangkan kelapangan dan cahaya hati, menghilangkan kecemasan dan  kesedihan, menjadikan badan sigap dan tangkas, mendatangkan cahaya pada wajah, kelapangan rizki dan kecintaan terhadap sesama muslim.

Di dalam zakat, shadaqah dan berbagai kebajikan lainnya terdapat : zakatnya jiwa dan pensucian baginya, menghilangkan kotoran, membantu keperluan saudara muslim dan mendapatkan tambahan berkah dan berkembangnya harta.

Di samping itu, semua amalan kebaikan tersebut akan mendatangkan balasan pahala yang besar dari Allah Ta’ala yang tidak bisa dihitung dan dibayangkan. Juga keridhoan dariNya dan jauh dari kemurkaanNya yang merupakan sebesar-besar kenikmatan.

Demikian pula Allah Ta’ala memerintahkan pada hamba-hambaNya untuk berkumpul dalam rangka beribadah, seperti : shalat lima waktu, shalat jumat, shalat hari raya, syi’ar-syi’ar haji, berkumpul dalam rangka berdzikir kepada Allah Ta’ala dan menuntut ilmu syar’i, di mana dalam perkumpulan tersebut manusia bisa saling beramah-tamah, berkomunikasi, menhilangkan sengketa dan dendam, menghinakan setan yang tidak suka dengan perkumpulan di atas kebaikan, mewujudkan persaingan dalam amal kebajikan, saling mengambil teladan, saling belajar dan mengajarkan, mendapatkan pahala yang agung dan banyak yang tidak bisa diraih apabila dikerjakan sendirian dan hikmah-hikmah lainnya.

Allah Ta’ala telah menghalalkan jual beli dan akad yang mubah, yang mana di dalamnya terdapat keadilan dan kebutuhan manusia terhadapnya. Sebaliknya Allah Ta’ala telah mengharamkan riba dan beberapa akad yang rusak, yang mana di dalamnya terdapat kedzaliman dan kerusakan serta tidak butuhnya manusia terhadapnya.

Allah Ta’ala menghalalkan hal-hal yang baik dari berbagai macam makanan, minuman, pakaian, pernikahan, yang mana di dalamnya terdapat kemaslahatan bagi makhluk, kebutuhan manusia terhadapnya dan ketiadaan mafsadat di dalamnya. Dan Allah Ta’ala mengaharamkan hal-hal yang kotor dari berbagai macam makanan, minuman, pakaian, pernikahan, yang mana di dalamnya terdapat kejelekan dan bahaya, cepat atau lambat datangnya. Maka pengharaman itu adalah sebagai penjagaan dan perlindungan bagi hamba-hambaNya, bukan karena kebakhilan. Bahkan hal itu adalah kasih sayang dariNya. Maka sebagaimana pemberianNya adalah rahmat, begitu pula larangan dariNya adalah rahmat.

Sebagai contoh, turunnya hujan sesuai kadar yang dibutuhkan oleh manusia merupakan rahmat dari Allah Ta’ala. Apabila kadarnya bertambah sehingga malah merugikan manusia, maka tidak ditambahnya kadar air hujan tersebut merupakan rahmat dariNya.

Secara umum dapat kita katakan, semua perintah Allah Ta’ala adalah makanan dan nutrisi bagi hati, sedangkan larangan-laranganNya adalah obat dan penawar hati.

Demikian pula pewarisan, wakaf, wasiat dan lainnya, semua mengandung kemaslahatan dan kebaikan yang tak terhingga. Karenanya tidak mungkin menyebutkan semua hikmah dan kebaikan yang ada di dalam satu bab.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “apabila Anda renungkan hikmah yang berkilau di dalam agama (Islam) yang lurus ini, agama hanifiyah dan syari’at muhammadiyah yang tidak dapat diungkapkan betapa sempurnanya dan tidak mampu disifati betapa baiknya, sampai pun apabila akal-akal orang yang paling cerdas berkumpul untuk merekomendasikan sesuatu yang bisa mengunggulinya, dan sebatas akal yang sempurna dan utama yang dapat menggapai kebaikannya dan bersaksi baginya. Sesungguhnya tidak terdapat sebuah syariat pun di alam ini yang lebih sempurna, lebih agung dan lebih mulia darinya. Maka di dalam syariat Islam itu terdapat saksi dan yang dipersaksikan, hujjah dan yang diperhujjahkan, dalil dan bukti, andai tidak ada seorang Rasul yang datang membawa bukti atasnya niscaya syariat Islam sudah mencukupi sebagai bukti dan saksi bahwa ia datangnya dari sisi Allah Ta’ala.

Semuanya itu sebagai saksi bagi Allah dengan kesempurnaan ilmuNya, kesempurnaan hikmahNya, keluasan rahmat dan kebaikanNya, meliputi yang ghaib dan yang nampak, yang dahulu dan yang akan datang, dan sesungguhnya syari’at Islam adalah nikmat Allah yang paling agung yang diberikan kepada hamba-hambaNya. Tidak ada nikmat yang lebih mulia daripada ditunjukkannya Islam kepada mereka, dijadikan sebagai ahlinya, dan sebagai orang-orang yang dibuat ridho kepada Islam dan Allah ridho Islam buat mereka. Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. [Ali ‘Imran : 164]”.

Allohu a’lam.


[1] Penjelasan diambil dari syarah Syaikh as Sa’diy sendiri.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s