Al Qawa’idAl Fiqhiyyah (القواعد الفقهيّة)

Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir As Sa’diy rahimahullah

 

وَالنِيّة شَرْطٌُ لِسائِرِالعَمَل       بِها الصَلاحُ والفَسادُ لِلْعَمَل

Niat adalah syarat bagi seluruh amalan. Baik atau rusaknya sebuah amalan tergantung pada niatnya.

Penjelasan[1] :

Inilah kaidah yang paling agung dan paling bermanfaat dan dipakai di seluruh bab ilmu. Sesungguhnya baiknya amalan, apakah itu amal badan, harta, hati atau anggota badan maka semuanya tergantung pada niatnya.  Demikian pula rusaknya amalan disebabkan oleh rusaknya niat. Apabila niatnya baik, tentu perkataan dan perbuatan akan baik. Demikian sebaliknya. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sungguh amal-amal itu tiada lain tergantung pada niatnya. Dan hanyasannya bagi setiap orang apa yang dia niatkan”.[2]

Kedudukan Niat

Niat memiliki dua kedudukan :

1. Pertama, untuk membedakan antara adat atau kebiasaan dengan ibadah.

Contohnya ibadah puasa, didefinisikan sebagai “perbuatan meninggalkan makan, minum dan yang semisalnya”. Kadangkala seseorang tidak makan dan minum karena kebiasaan saja, tidak bermaksud untuk menjadikannya sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka wajib adanya niat untuk membedakan antara keduanya.

2. Kedua, untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya.

Contohnya sholat, adakalanya hukumnya fardhu ‘ain, fardhu kifayah, rawatib, witir, sunnah mutlak dan lain sebagainya. Maka wajib adanya niat untuk membedakan.

Termasuk hal penting yang tidak boleh diabaikan sehubungan dengan niat adalah “ikhlash”, yaitu seorang hamba harus menjadikan amalnya tersebut semata untuk mengharapkan wajah Allah, bukan selainNya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa niat bukan hanya dalam masalah ibadah, namun masuk pula dalam amalan yang hukumnya mubah, yaitu apabila seseorang meniatkanya sebagai sarana menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala. Misalnya : makan, minum, tidur, mencari nafkah, menikah dan lain-lainya.

Satu hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan amalan seorang hamba, yaitu antara amal yang diperintahkan untuk menunaikan dan amal yang diperintahkan untuk meninggalkannya. Adapun amalan yang harus ditunaikan, maka harus ada niat di dalamnya, yang mana niat itu menjadi syarat sahnya amalan tersebut. Contoh : sholat, puasa dan lain-lain.

Adapun amalan yang harus ditinggalkan, maka tidak diharuskan adanya niat di dalamnya. Contoh : menghilangkan najis, membayar hutang dan lain-lain.

Allohu a’lam.


[1] Penjelasan diambil dari syarah Syaikh as Sa’diy sendiri.

[2] Shahih Bukhari [1] dan Shahih Muslim [1907].

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s