Al Qawa’idAl Fiqhiyyah (القواعد الفقهيّة)

Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir As Sa’diy rahimahullah

 

فإن تزاحَمْ عَدَدُ المَصالِح       يُقدّمُ الأعلَي مِن المَصالِح

Bila sejumlah kemaslahatan berbenturan maka diutamakan yang paling besar maslahatnya.

Penjelasan[1] :

Apabila terjadi dua pilihan, antara mengerjakan sebuah kebaikan dan meninggalkan kebaikan lainnya, sedangkan keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan keduanya, maka kebaikan yang paling besar maslahatnya yang dikerjakan.

Apabila salah satunya adalah sebuah kewajiban dan lainnya hukumnya sunnah, maka yang wajib didahulukan atas yang sunnah.

Contoh : Jika iqamat shalat fardhu sudah dikumandangkan maka tidak boleh memulai shalat sunnah. Demikian pula jika waktunya sempit. Tidak boleh mengerjakan puasa sunnah, hajji sunnah dan umrah jika dia masih punya tanggungan yang yang wajib.

Apabila dua kebaikan itu hukumnya sama-sama wajib, maka didahulukan yang paling wajib. Maka shalat fardhu lima waktu lebih didahulukan ketimbang shalat nadzar, nafkah rutin untuk keluarga lebih didahulukan ketimbang untuk kerabat dan lain-lain.

Apabila dua maslahat tersebut hukumnya sunnah, maka :

Didahulukan yang paling afdhal. Maka shalat sunnah yang rutin lebih didahulukan ketimbang shalat sunnah, dan shalat sunnah didahulukan ketimbang shalat mutlak.

Didahulukan yang lebih bermanfaat buat orang lain, seperti mengajar, menjenguk orang sakit, mengiring jenazah. Semua itu didahulukan dari amalan yang manfaatnya terbatas, seperti shalat sunnah dan dzikir.

Didahulukannya sedekah dan kebaikan buat kerabat dibandingkan orang lainnya.

Didahulukannya memerdekakan budak yang lebih mahal harganya.

Perhatian !!!

Terkadang amalan yang kurang utama malah lebih didahulukan daripada amalan yang lebih utama karena beberapa alasan :

  1. Amalan yang kurang utama memiliki sebab yang khusus, seperti : dzikir-dzikir di dalam shalat dan sesudah shalat. Pada keadaan tersebut membaca dzikir yang telah ditentukan itu lebih didahulukan ketimbang membaca Al Quran, meskipun secara umum membaca Al Quran lebih afdhal daripada berdzikir.
  2. Amalan yang kurang utama memiliki maslahat yang tidak dimiliki oleh amalan yang lebih utama, seperti : lebih bermanfaat buat orang lain, atau dapat mencegah kerusakan yang mungkin timbul apabila melakukan amalan yang lebih utama.
  3. Amalan yang kurang utama memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap hati. Imam Ahmad rahimahullah berkata ketika ditanya tentang beberapa amalan, “Perhatikan mana yang lebih baik buat hatimu, kemudian kerjakan !”

Allohu a’lam.


[1] Penjelasan diambil dari syarah Syaikh as Sa’diy sendiri.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s