Al Qawa’idAl Fiqhiyyah (القواعد الفقهيّة)

Penulis : Syaikh ‘Abdurrahman Ibn Nashir As Sa’diy rahimahullah

وليس واجبٌُ بِلا اقْتِدارٍٍ       وَلا مُحرَّمٌُ مَع اضْطِرارٍِ

Dan tidak ada kewajiban tanpa kemampuan, begitu pun tidak ada keharaman dalam keadaan darurat.

Penjelasan[1] :

Dua kaidah di atas adalah kaidah yang agung, disebutkan oleh Syaikhul Islam dan selain beliau, para ulama pun telah bersepakat atasnya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan beberapa kewajiban dan mengharamkan beberapa keharaman kepada hambaNya. Apabila ada hal-hal yang membuat para hamba menjadi lemah dan tidak memiliki kemampuan di dalam melaksanakannya maka gugurlah kewajiban tersebut ke atasnya. Bersaman dengan itu, apabila kewajiban tersebut adalah amalan rutin yang biasa dilakukan sebelumnya, maka si hamba akan tetap mendapatkan pahala sebagai bentuk anugerah dari Allah Ta’ala.

Begitu pun Allah Ta’ala mengharamkan ke atas para hamba beberapa hal sebagai bentuk penjagaan dan perlindungan bagi mereka, dan menjadikan hal-hal yang mubah sebagai bentuk kelonggaran dari yang haram. Apabila seorang hamba menemui kondisi darurat yang menyebabkan dia harus melakukan perbuatan haram, maka diperbolehkan.

الضرُوْراتُ تُبِيْح المَحْظورَات

“keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang”

Contoh : memakan bangkai dan meminum air najis di saat darurat. Juga diperbolehkan melakukan beberapa keharaman dalam ibadah haji dalam kondisi darurat. Akan tetapi semua itu dilakukan sebatas untuk menghilangkan kondisi darurat tersebut, tidak boleh berlebihan.

Syaikh rahimahullah meneruskan nadzamnya :

KAIDAH KE-7 : KONDISI DARURAT MEMBOLEHKAN HAL-HAL YANG DILARANG SESUAI KADARNYA

وَكُلّ مَحْظوْرٍِ مَع الضرُورَة       بِقَدْرِ ما تَحْتاجُه الضَرُوْرَة

“Dan setiap hal yang dilarang dibarengi dengan kondisi darurat sesuai dengan kebutuhannya”

Maksudnya tidak boleh menambahkan melebihi batas darurat yaitu apabila keadaan darurat hilang, wajib meninggalkan sisanya. Maka kebolehan memakan bangkai -misalnya- itu sebatas untuk menghilangkan kondisi daruratnya.

 

Allohu a’lam.


[1] Penjelasan diambil dari syarah Syaikh as Sa’diy sendiri.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s