Syarat Pertama :

Mengetahui bahwa apa yang dia perintahkan adalah hal yang ma’ruf (baik), juga mengetahui apa yang dia larang adalah betul hal yang tercela.

Allah Ta’ala berfirman :

ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا

[Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya][Al-Israa’ : 36]

Penghalalan dan pengharaman bukanlah atas dasar perasaan. Seandainya berdasarkan perasaan dan keinginan tentu akan kita dapati ada orang yang membenci apa saja yang dia anggap aneh meskipun bermanfaat bagi manusia. Sebaliknya ada orang yang menggampangkan, memandang apa saja sebagai hal yang ma’ruf/ baik. Sedangkan kebaikan dan kemungkaran harusnya dikembalikan kepada pembuat syari’at, bukan kembali kepada perasaan atau pemikiran masing-masing orang.

Lantas bagaiman cara mengetahuinya?

Jawabnya adalah : dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, atau ijma’ atau qiyas yang shahih, yang mana ijma’ dan qiyas tersebut harus disandarkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Syarat kedua :

Mengetahui (dengan pasti, -pent) terjadinya kemungkaran atau ditinggalkannya kebaikan. Jika tidak, maka tidak boleh menduga-duga hal yang tidak diketahuinya. Contohnya : apabila ada seseorang masuk ke dalam masjid kemudian langsung duduk tanpa sholat-tahiyyatu al-masjid– maka yang sesuai dengan hikmah adalah dengan bertanya kepadanya, mengapa dia langsung duduk dan tidak melakukan shalat ?  Dia tidak boleh untuk langsung dilarang dan dicela.

Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam pernah pada saat berkhutbah di hari Jum’at, tiba-tiba masuklah seseorang ke dalam masjid dan langsung duduk. Beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah shalat?” Dia menjawab, “belum”. Beliau bersabda, “Bangun dan shalatlah dua raka’at.” Beliau tidak mencelanya karena mungkin saja orang itu sudah shalat tapi Nabi tidak mengetahuinya.

Begitu pula apabila ada seseorang yang sedang makan ketika siang hari bulan Ramdhan, tidak boleh langsung mencelanya. Akan tetapi harus ditanya terlebih dulu, karena boleh jadi dia sedang punya udzur.

Syarat ketiga :

Tidak boleh mencegah kemungkaran yang berakibat kepada kemungkaran yang lebih besar.

Misalnya, apabila kita melihat ada seseorang sedang merokok, sedangkan tidak ragu lagi bahwa hukum merokok adalah haram, akan tetapi boleh jadi apabila diingkari dia malah beralih kepada minuman keras. Maka dalam keadaan seperti ini kita tidak perlu mengingkari perbuatannya –merokok- karena kemungkaran rokok lebih ringan dibanding kemungkaran minuman keras. Mengerjakan salah satu dari dua mafsadat (kerusakan) yang paling ringan adalah wajib dengan syarat mafsadat yang lebih besar juga tidak bisa ditinggalkan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” [Al-An’am : 108]

Mencela sesembahan orang-orang musyrik termasuk yang diperintahkan oleh syari’at. Wajib atas kita untuk mencela tuhan-tuhannya musyrikin, mencela hari raya mereka, meperingatkan darinya, tidak ridha dengannya, dan memberitahukan kepada saudara-saudara kita yang bodoh bahwasannya tidak boleh bergabung dengan mereka di dalam hari raya mereka, karena keridhaan terhadap kekufuran dikuatirkan orang tersebut akan terjatuh ke dalam kekufuran –semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut-.

Ibnu al-Qoyyim, murid syaikh al-islam Ibnu Taimiyyah rahimahumallah berkata, “sesungguhnya orang-orang yang bergabung bersama orang-orang musyrik di dalam hari raya mereka dan memberi ucapan selamat dengannya, meskipun seandainya mereka tidak melakukan kekufuran, tidak ragu lagi mereka telah melakukan perbuatan haram.”

Oleh karena itu, wajib atas kita untuk memperingatkan saudara-saudara kita kaum muslimin supaya tidak bergabung dalam perayaan orang-orang kafir, karena kebersamaan tersebut atau ucapan selamat terhadap hari raya tersebut, seperti ucapan “selamat hari raya” dan yang semisalnya, tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut termasuk bentuk keridhaan terhadap kekufuran mereka –semoga Allah melindungi kita dari hal itu-.

Sesungguhnya mencela tuhannya orang-orang musyrik dan juga hari raya mereka adalah sesuatu yang diperintahkan oleh syari’at. Namun jikalau pencelaan tersebut akan mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar maka tidak boleh dilakukan, sebagaimana firman Allah Ta’ala di atas.

Maksud ayat tersebut, seandainya kalian mencela tuhannya mereka maka kemudian mereka membalas mencela Allah ‘Azza wa Jalla dengan tanpa ilmu sebagai bentuk permusuhan mereka. Adapun ketika kalian mencela tuhannya orang-orang musyrik maka hal itu berdasarkan keadilan dan ilmu. Jadi dari ayat yang mulia di atas kita mengambil pelajaran, bahwa apabila mencegah kemungkaran akan mengakibatkan timbulnya kemungkaran yang lebih besar maka kewajiban kita adalah mendiamkan kemungkaran tersebut. Kita diamkan sampai datang waktu yang tepat untuk mengingkari kemungkaran tersebut sehingga beralih menjadi kebaikan.

Dikisahkan bahwa Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika sedang bersama sahabatnya pernah melewati sekelompok orang dari kaum Tartar yang sebagian mereka sedang meminum minuman memabukkan. Beliau diam saja tidak melarang mereka minum khamr. Sahabat beliau bertanya, “Mengapa Anda tidak mencegah kemungkaran tersebut?” Beliau berkata, “Sekiranya kita cegah mereka dari perbuatan tadi, maka mereka akan berbuat kerusakan dengan menzinai wanita kaum muslimin, mengambil harta mereka bahkan bisa jadi akan membunuhi mereka. Meminum khamr itu lebih ringan dosanya.”[1]

Selain ketiga syarat di atas, ada adab-adab yang mesti diperhatikan dalam ber amar ma’ruf nahi mungkar. Di antaranya yaitu hendaknya dia terlebih dahulu mengamalkan kebaikan yang dia perintahkan serta menjauhi kemungkaran yang dia larang.

Allah Ta’ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [Ash-Shaff : 2-3].

Di dalam sebuah hadist yang shahih[2] disebutkan tentang seseorang yang didatangkan kemudian dilempar ke dalam nereka sehingga terburai isi perutnya, yakni ususnya. Dia pun berputar-putar di tempatnya seperti keledai yang mengitari penggilingan. Penduduk neraka pun berkumpul di situ, mereka bertanya, “apa yang terjadi denganmu wahai fulan? Bukankah engkau dahulu memerintahkan kebaikan kepada kami dan juga mencegah kami dari berbuat kemungkaran?” Dia berkata, “Dahulu aku memerintahkan kebaikan tapi aku sendiri tidak melakukannya, juga aku larang kalian dari kemungkaran tapi aku malah melakukannnya.” Jadi dia mengatakan apa yang tidak dia kerjakan. Semoga Allah melindungi kita dari hal seperti itu.

Diceritakan bahwa Ibnu al-Jauziy, seorang pemberi nasihat yang terkenal, beliau memiliki majelis di hari Jum’at untuk memberikan nasihat yang dihadiri oleh ratusan ribu orang, sehingga di antara yang hadir ada yang pingsan bahkan sampai meninggal. Pada suatu hari beliau kedatangan seorang budak papa yang mengadu, “wahai tuanku, sesungguhnya majikan saya memberatkan saya dan membuat saya lelah. Dia menyuruh saya mengerjakan sesuatu yang tidak mampu saya tunaikan. Saya harap Anda mau memberikan wejangan dan menganjurkan kepada orang-orang supaya mau membebaskan budak sehingga majikan saya juga mau memerdekakan saya.” Ibnu al-Jauziy menjawab, “Baiklah, akan aku penuhi.” Kemudian berlalu satu kali Jum’at atau dua kali atau lebih, tetapi beliau sama sekali tidak menyinggung perihal memerdekakan budak. Sampai pada suatu hari beliau membicarakannya. Nasihat beliau begitu membekas ke dalam jiwa-jiwa manusia sehingga budak itu pun dibebaskan oleh majikannya. Budak itu datang lagi kepada Ibnu al-Jauziy dan berkata, “wahai tuanku, sudah semenjak lama saya meminta Anda untuk membicarakan tentang memerdekakan budak, namun mengapa baru sekarang Anda melaksanakannya?” Beliau menjawab, “Benar, karena waktu itu saya tidak memiliki budak untuk saya merdekakan, padahal saya tidak suka menasihati orang lain untuk memerdekakan budak sedangkan saya sendiri tidak melakukannya. Subhanallah, ketika Allah mengaruniakan kepada saya seorang budak yang lantas saya bebaskan, maka saya punya alasan untuk membicarakan masalah pembebasan budak.”

—————

Allohu a’lam, diringkas dari Syarah Riyadhu ash-Shalihin oleh Syaikh Utsaimin, hadist no. 173, I’dad : Mauqi’ Ruh al-Islam.


[1] Seorang ustadz pernah mengisahkan sebuah kejadian yang sangat patut dijadikan ibrah. Beliau bercerita bahwa sekelompok orang yang bersemangat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar pernah mengobrak-abrik sebuah kawasan yang dijadikan sebagai tempat prostitusi “ilegal”. Mereka dibantu oleh RW setempat. Besoknya, para wanita pelacur yang marah karena tempat mencari nafkahnya dirusak, mereka berdemo ke rumah sang RW menuntut disediakan tempat kerja bagi mereka. Masalahnya, mereka berdemo sambil telanjang! Tentu saja ini termasuk mengubah kemungkaran kepada kemungkaran yang lebih besar.

[2] Sahih Muslim  [5305] ; Musnad Ahmad [20801]

Iklan

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s