Dari acara Nuur ‘ala ad-Darbi, kaset no. 9

Pertanyaan :

Apakah ada ‘uzdur bagi orang yang tidak tahu tentang permasalahan tauhid yang menjadi tulang punggung agama?  Dan apa hukum takfir mu’ayyan (penghukuman kafir terhadap individu) terhadap orang yang terjatuh kepada kesyirikan akibat ketidaktahuannya?

Jawab :

Tidak ada ‘udzur dalam permasalahan tauhid selagi berada di di kalangan kaum muslimin. Adapun orang yang jauh dari kaum muslimin dan dia tidah tahu maka hukumnya dikembalikan kepada Allah.  Hukumnya sama dengan hukum ahlu fatrah nanti ketika diuji pada hari kiamat.

Sedangkan orang yang tinggal di tengah kaum muslimin, dia mendengar “Allah berfirman…” dan “Rasulullah bersabda…” kemudian dia tidak peduli dan tidak menaruh perhatian terhadapnya, lantas dia menyembah kubur atau istighatsah dengannya atau dia mencela agama maka orang ini kafir, kafir mu’ayyan, seperti perkataanmu “si fulan kafir”. Menjadi kewajiban pemerintah kaum muslimin supaya memintanya bertaubat. Jika bertaubat –maka diterima- jika tidak mau maka dibunuh sebagai orang kafir.

Begitu pula orang yang mengolok-olok agama, atau menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, seperti perkataan “zina halal” atau “khamr halal” atau “berhukum dengan undang-undang buatan adalah halal” atau “berhukum dengan selain hukum Allah adalah halal” atau “hukum itu lebih baik dari hukum Allah”; semua itu mengeluarkan dari Islam na’udzu billah min dzalik.

Maka wajib atas setiap pemerintah Islam untuk berhukum dengan syari’at Allah, dan untuk meminta taubat kepada orang yang kedapatan melakukan pembatal keislamannya. Jika dia bertaubat –maka diterima- dan jika tidak mau bertaubat maka wajib membunuhnya, berdasarkan sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam :

من بدل دينه فاقتلوه

“Siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah”

[(Sahih Bukhari : 2854), (Sunan at-Tirmidziy : 1458), (Sunan an-Nasa’iy : 4060), (Sunan Abu Dawud : 4351) dll]

Dan di dalam shahihain, dari Mu’adz bin Jabal radhiyallohu ‘anhu bahwasannya dia memerintahkan para penguasa untuk membunuh orang yang murtad kalau tidak mau bertaubat, dan dia berkata “itu adalah ketentuan Allah dan RasulNya” [(Shahih Bukhari : 4086), (Sunan an-Nasa’iy : 4066) dll]

Kewajiban ini semua adalah dengan perantara pemerintah melalui pengadilan syari’ah, sehingga hukum Allah dilaksanakan di atas ilmu dan bashirah dengan perantaraan pemerintah. Semoga Allah memperbaiki keadaan semuanya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

——-

Maraji’ : Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Juz 9, halaman 79 melalui perantaraan Mauqi’ Ruh al-Islam.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s