Ketika sedang googling mencari sebuah gambar, saya malah ketemu dengan  sebuah “cerita fiksi”?? yang amat menarik buat saya. Berikut kutipannya :

——————–

“Zarwan, pembeda sejati seorang manusia di mata manusia lainnya adalah tulus amalnya..”, itulah kata-kata yang mengawali ocehan misterius Pak Tua Jenkins senja ini.

“Ngaku kau dapat nilai sembilan di hitungan, jadi biar kujelaskan amal-amal kebaikan seperti sekumpulan bilangan positif yang terakumulasi. Dan sebaliknya, amal-amal kejahatan manusia seperti sekumpulan bilangan negatif yang terakumulasi..”, kata Pak Tua Jenkins, Zarwan hanya tertawa kecil.

“Meskipun memang, tidak semua orang mau mengenakan kacamata yang objektif ini, dan memang hal itulah, yang membuat justifikasi pribadi manusia, secara berjamaah sekalipun, memiliki cacat permanen..”, Zarwan menimpali. Menjadi bagian dari keedanan tidak ada salahnya, pikir Zarwan.

Pak Tua Jenkins tersenyum, dan lanjut bicara, “Namun ingat Zarwan, selain amal, Tuhan memiliki tambahan pembeda atas seorang manusia.”

“Iman, Zarwan. Iman.”, kata Pak Tua Jenkins.

Tiba-tiba Zarwan menimpali dengan raut wajah kecewa, “Aku merasa betapa Tuhan tidak adil. Penggiat kemanusiaan yang kafir, harus merasakan keabadian api neraka, namun raja koruptor muslim, sekalipun dibakar di neraka dulu, pada akhirnya bisa leha-leha di surga..”

“Haha. Ngaji di mana kamu, Zarwan, sampai boleh bicara seperti itu?”, tukas Pak Tua Jenkins. Zarwan tersentak. Dan tawa yang di awal itu, jangan sangka itu adalah sebuah tawa yang renyah.

“Apalagi Zarwan, kau tak pernah sama sekali mengecap rasanya neraka barang sedetik saja. Dan akhirat, kau kira seberapa bandingannya dengan sekejap gurauan kita ini di dunia? Hm?”, lanjut Pak Tua Jenkins.

“Pahamilah Zarwan, seperti seorang bujang hendak mengulurkan seikat bunga kepada gadis bernama Ratna, wajarkah jika Ratna menampik bunga itu kala ia mendapati secarik kertas bertuliskan ‘to: Ningsih’, terselip antara rekah bunganya?”, lanjut Pak Tua Jenkins. Zarwan menghirup dalam-dalam oksigen yang dikibaskan ranting mahoni, lalu tersenyum mafhum.

Mengetahui Zarwan puas dengan jawaban yang ia berikan, Pak Tua Jenkins kemudian berujar, “Pembeda ini Zarwan, iman, seperti sistem biner, keberadaannya adalah angka satu, dan ketiadaannya adalah angka nol.”

“Yang mebuatnya istimewa adalah, bagi Tuhan, pembeda ini memiliki fungsi pengali atas pembeda satunya, yaitu amal.”, kata Pak Tua Jenkins.

“Dan kalau aku boleh menyempurnakan, Pak, dalam proses kalkulasinya, perkalian itu dilakukan melalui pembobotan tiap unsur yang dikalkulasikan..”, kata Zarwan sambil tersenyum. Dan Pak Tua Jenkins membalas senyumannya. Lantas dengan hati lega Zarwan pun berlari meninggalkan taman.

————selesai kutipan

cerita selengkapnya: http://uchiha-reza.blogspot.com/2011/06/potret-taman-dan-timbangan.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s