Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تبدءوا اليهود و النصارى بالسلام و إذا لقيتم أحدهم في طريق ، فاضطروهم إلى أضيقه

“Janganlah kalian memulai salam kepada orang yahudi dan nasrani. Jika ada di antara kalian yang bertemu mereka di jalan maka desaklah mereka ke bagian sempitnya.”

Takhrij :

Dikeluarkan oleh Muslim, Bukhari (al-Adab al-Mufrod), Ahmad dan selainnya dari hadist Abu Hurairah secara marfu’.

Hukum :

1. Memulai salam kepada orang kafir hukumnya adalah tidak diperbolehkan secara mutlak, baik ketika berjumpa di jalan maupun di tempat lain.

Alasan :

  1. Karena bentuk kalimatnya adalah “’athfu al-jumlah ‘ala al-jumlah”, yaitu adanya makna eksplisit supaya tidak memuliakan orang kafir disebabkan kekufuran mereka.
  2. Adanya beberapa riwayat penguat :

–          Pertama, perkataan perawi hadist Suhail bin Abi Shalih, “Aku pergi bersama ayahku menuju Syam. Ternyata penduduk Syam mengucap salam kepada para rahib ketika bertemu mereka. Aku mendengar ayahku berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda…” Beliau menyebutkan hadist tersebut. [Ahmad :2/346; Abu Dawud dengan sanad shahih sesuai persyaratan Muslim]

Nama Abu Shalih adalah Dzakwan, seorang tabi’iy tsiqah. Perawi hadist lebih mengetahui tentang apa yang diriwayatkan dibanding selainnya.

–          Kedua, dari Abu ‘Utsman an-Nahdiy berkata, “Abu Musa menulis kepada Rahban dengan ucapan salam di dalamnya. Dia ditanya, “Apakah engkau memberi salam kepadanya padahal dia kafir?” Dia menjawab, “dia (Rahban) menulis kepadaku dan mengucap salam maka aku pun membalas salamnya.” [Bukhari dalam al-Adab :1101 dengan sanad Jayyid].

–          Ketiga, ketika Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam menulis surat untuk Heraklius raja Rum yang saat itu berada di Syam, beliau tidak memulai suratnya dengan ucapan salam. Beliau hanya menuliskan : Bismillahir-Rohmanir-Rohiim, dari Muhammad hamba Allah dan RasulNya kepada Heraklius pembesar Rum : Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk. [Bukhari dan Muslim, Adabu al-Mufrad 1109].

–          Keempat, bahwasannya ketika Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang anak yahudi, beliau bersabda kepadanya, “Islam-lah kamu!”, beliau tidak memulai ucapan salam kepadanya. [Bukhari ].

–          Kelima, di saat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi Abu Thalib paman beliau ketika sakit menjelang kematiannya, beliau juga tidak mengucapkan salam kepadanya. Yang beliau ucapkan, “Wahai paman, katakan Laa Ilaha Illa Allah!” [Bukhari dan Muslim]

2. Bagaimana bila memulai dengan selain ucapan salam, seperti ucapan “apa kabar?”

Saya (al-Albani) jawab : yang Nampak oleh saya Allohu a’lam diperbolehkan. Karena larangan yang ada pada hadist adalah salam islami yang di dalamnya terdapat penyebutan nama Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “as-Salam adalah satu nama dari nama-nama Allah yang Dia tempatkan di bumi. Maka sebarkanlah salam di antara mereka”. [Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad : 989]

Hal ini dikuatkan pula dengan apa yang disebutkan oleh ‘Alqamah : ‘Abdullah –ibnu Mas’ud- memberi salam kepada orang-orang Dahaq –yaitu penduduk kota dan petaninya- dengan isyarat [Bukhari : 1104 di mana beliau menjelaskan dengan “orang yang mengucap salam kepada kafir dzimmiy dengan berisyarat”, sanadnya shahih]. Dalam riwayat ini Ibnu Mas’ud memperbolehkan memulai salam kepada mereka dengan isyarat, karena hal itu bukan salam yang khusus diperuntukkan kepada oran Islam.

Adapun “dalil” yang disebutkan pada sebagian kitab madzhab Hanbaliy bahwa haram hukumnya mendahului menyapa mereka dengan ucapan seperti “apa kabar?”, saya tidak mengetahuinya dalilnya dari as-sunnah. Justru dijelaskan dalam syarah “Manar as-Sabil” bahwasannya hal tersebut dikiaskan dengan salam. Saya katakana, sudah terang bahwa ini adalah qiyas ma’al fariq, karena di dalam ucapan salam Islami terdapat fadhilah yang tidak dimiliki oleh selainnya. Allohu a’lam.

3. Bolehkah menjawab salamnya orang kafir dengan ucapan “wa’alaikumus-salam”?

Jawab : boleh, dengan syarat salam mereka diucapkan dengan jelas dan fashih. Bukan seperti salamnya orang yahudi yang pernah mengucap salam kepada Nabi dan para sahabat beliau : as-samu ‘alaikum (kematian bagi kalian). Maka Nabi memerintahkan supaya menjawab salam tersebut cukup dengan “wa’alaikum” [Bukhari, Muslim dan lainnya dari hadist ‘Aisyah]. Jawaban ini dikuatkan dengan :

a. Sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya yahudi apabila mengucap salam kepada kalian dia mengatakan as-samu ‘alaik, maka jawablah dengan wa’alaik [Bukhari dan Muslim, juga dalam al-Adab al-Mufrad : 1106]. Di sini Nabi memberikan alasannya, yaitu isi ucapan salam orang yahudi.

b. Keumuman firman Allah Ta’ala :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) [An-Nisa’ : 86].

Ayat di atas bermakna umum mencakup kaum muslimin dan selainnya.

c. Menguatkan ayat di atas, hadist yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad : 1107, juga oleh Ibnu Jarir ath-Thabariy dalam tafsirnya : 10039 dari dua jalan : dari Simak dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas berkata : “jawablah salam dari orang yahudi atau nasrani atau majusi, karena Allah berfirman : wa idza huyyitum bi tahiyyah…al-ayah.

Sanadnya shahih, hanya saja riwayat dari Simak dari ‘Ikrimah idhthirab –guncang- kalau dianggap marfu’. Sedangkan riwayat ini adalah mauquf.

d. Ayat di atas dikuatkan pula dengan riwayat Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas berkata “Seandainya fir’aun berkata kepadaku : baarokallohu fik maka akan aku jawab : wa fik. Namun fir’aun sudah mati”.[Bukhari dalam al-Adab : 113, sanadnya shahih sesuai persyaratan Muslim.

e. Terakhir, adalah firman Allah Ta’ala :

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. [Al-Mumtahanah : 8].

Ayat ini secara jelas memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang kafir satu negeri yang mereka memberi salam kepada kaum muslimin dan mereka tidak menyakiti kaum muslimin dan berlaku adil. Seandainya ada di antara mereka yang mengucap salam dengan jelas “as-salamu ‘alaikum” kemudian kita jawab hanya dengan “wa ‘alaik” ini tidaklah adil dan jelas sebuah kedzaliman. Allohu a’lam.

——-

Disarikan dari as-Silsilah ash-Shahihah : hadits no. 704.

 

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s