أخلو به فأعف عنه تكرما  خوف الديانة لست من عشاقه

كالماء في يد صائم يلتذ به  ظمأ فيصبر عن لذيذ مذاقه

Aku berdua dengannya, kujaga kehormatan untuk memuliakannya…

Karena takut kerendahan hingga aku tercampakkan dari cintanya…

Bagaikan air di tangan orang yang berpuasa untuk mencairkan dahaga…

Lalu ia bersabar tuk nikmati kesegarannya….

[lihat  dalamكتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي /Jawabul Kaafi li-man Sa-a-la ‘anid-dawaa`i asy-Syaafi/, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah : 157 ]

KOMENTAR :

  1. serpih hati di sela hari mengatakan:

    Syair yang tidak saja indah, tetapi juga penuh hikmah.
    Kenapa?

    1. Diksi nya padat.

    Tidak ada 1 diksi yang dapat dihilangkan atau ditambahkan.

    1 bait yang utuh, karena tiap larik melengkapi larik lainnya.
    2.Ada banyak asonansi /a/ di semua larik syair..
    Asonansi merupakan gabungan/komposisi huruf vokal, yang berfungsi memperlancar bunyi. Jadi ketika puisi dibaca, akan terdengar bunyi yang lancar dan efonis (merdu).

    /A/ku berdu/a/ deng/a/nny/a/, kuj/a/g/a/ kehormat/a/n untuk memuli/a/k/a/nny/a/…

    Karen/a/ t/a/kut kerend/a/h/a/n hingg/a/ /a/ku terc/a/mp/a/kk/a/n d/a/ri cint/a /ny/a/…

    B/a/gaik/a/n /a/ir di t/a/ng/a/n or/a/ng yang berpu/a/s/a/ untuk menc/a/irk/a/n d/a/h/a/g/a/…

    L/a/lu i/a/ bers/a/b/a/r tuk nikm/a/ti keseg/a/r/a/nny/a/….

    3. Ada banyak aliterasi di semua larik. 
    Aliterasi merupakan komposisi huruf vokal dan huruf konsonan.
    4. Ada banyak rima akhir
    misalnya terdapat diksi:
    memuliakannya , cintanya, dahaga, kesegarannya.

    Aku berdua dengannya, kujaga kehormatan untuk memuliakannya…

    Karena takut kerendahan hingga aku tercampakkan dari cintanya…

    Bagaikan air di tangan orang yang berpuasa untuk mencairkan dahaga…

    Lalu ia bersabar tuk nikmati kesegarannya…

  2. serpih hati di sela hari mengatakan:

    aduh..terpotong (padahal blum diedit..)
    5.Syair di atas memiliki banyak kelebihan dari segi stilistika, yang menjadikannya efonis ketika diapresiasi, pun jika hanya dibaca saja.
    Dari segi pemilihan diksi yang menunjukkan keindahan bahasa ketika dirangkaikan (yang ditunjukkan dengan banyaknya asonansi, aliterasi,dan adanya metafora dlm 1 bait), puisi ini mampu memberikan sentuhan emotif dan ekspresif bagi pembacanya. Yang tak kalah penting, adanya pelajaran moral yang berharga,baik bagi penulis sendiri maupun pembacanya.
    terimakasih.

  3. @ Serpih Hati

    Sepertinya, Anda menganalisisnya dengan teori yang diserap sastrawan Indonesia dari profesor Belanda, A. Teeuw (yang sebagian ahli sastra Indonesia yang ghuluw menyebutnya sebagai Nabi-nya Sastra Indonesia, sebagaimana yang diceritakan sendiri salah satu murid Teeuw pada saya).

    Namun, itu belum menyentuh keindahan stilistika dan retorika yang sesungguhnya, yaitu dari kajian balaghah. Namun satu hal yang perlu dicatat, sebagaian ahli menyamakan balaghah dengan isitilah stilistika, adapula yang memadankannya dengan retorika. Padahal, balaghah lebih luas daripada itu.

    Anda menganalisisnya dari bunyi-bunyi “terjemahan”. Jika Anda bisa merasaknnya dari bunyi arab sendiri, lebih dahsyat lagi. Padahal, dalam syair arab, keindahan bunyi dapat diketahui dari ilmu ‘arudh (prosodi dan lisensia). Tiap syair itu, ada rumus bacanya, yang diistilahkan dengan bahr. Jadi, nanti ketika membacanya itu seperti terdengar irama lagu yang teratur.

    Kalau Anda mendengar orang baca syair, namun dengan bacaan biasa seperti khutbah atau orang Indonesia baca puisi, itu berarti orang yang baca syair itu tidak membacanya dengan ‘arudh. Karena, bca syair itu ada irama lagunya, dan pola-pola irama tersebut dapat diketahui dari ilmu arudh. inilah yang membedakan puisi Arab dengan puisi Indonesia/barat.

    >> saya bicara gini, bukan berarti saya bisa baca dengan arudh. Saya belum pernah belajar ini sama sekali.

  4. serpih hati di sela hari mengatakan:

    saya memang baru belajar.
    ilmu balaghah, ilmu arudh, sya belum mengetahuinya.
    mungkin pembaca yang lain bisa mengapresiasi dari aplikasi ilmu2 yang anda kemukakan.
    ini membuka kesempatan adanya lebih banyak apresiasi dari sudut pandang yang berbeda-beda bukan?
    dan menurut saya, mau pakai teorinya teew, plato, dll..sah2saja, karna apresiasi memang terserah pembacanya yang dikaruniai Alloh cakrawala berpikir yang beragam.

  5. Oh ya tambahan lagi….

    Pronomina persona (dhamir/kata ganti) dalam syair di atas adalah ه (bukan ها), artinya, yang lebih pantas baca syair itu adalah wanita karena nya dalam bait di atas merujuk pada ism mudzakkar (yaitu laki-laki).

    Kalau pembaca yang sedikit saja tahu bahasa Arab, akan tahu ini.

    Jadi, syair di atas saya kutip:

    sebenarnya untuk menyindir sebagian muslimah pengguna facebook yang banyak buat notes2 cengeng, isinya cuma keluh kesah, rasa sakit hati karena batal ta’aruf, atau karena merasa dikecewakan laki-laki. Terkadang, kita yang tidak add perempuan pun bisa kena notes ini karena banyaak juga kawan muslim yang share. Ah… malu sebenarnya diri ini kalau baca notes “sebagian”mereka. Apa tidak ada yang lain yang bisa ditulis selain kekecewaan hati? Apa isi hati “sebagian” wanita itu cuma masalah cinta doang ya… Wallahu a’lam.

    Karena saya tidak punya teman Fb perempuan, rasa kesal ini saya tulis di blog saja, sebagai curahan hati. Sebenarnya ingin bilang pada mereka, “Mbok ya sabar gitu… ” TApi, sya kan tidak punya Fb lawan jenis. Jadi, saya tulis di sini saja..

  6. @ Serpih Hati alias El-Ardivia alias mbak Sekar Alit

    Alhamdulillah saya tidak tertarik baca teorinya Teeuw/Plato/filsuf yang lain.
    Buang-buang waktu bagi saya.
    Membaca kalamullah, pesan nabinya, dan untaian kata salaf lebih menyejukkan hati saya.
    Apalagi, toh… teorinya Teeuw tidak akan ditanyakan di alam kubur… ^__^

  7. sekaralit mengatakan:

    kak, apresiasi bukankah hal yang wajar, meski memang memakai teori barat?.
    dan bukan berarti sang penulis (kakak) harus membaca teori para filsuf itu bukan?.
    sya lebih kagum dg para salafus shalih yang emang lebih puitis tuturannya. kok bisaaa gitu.. subhanalloh.
    oiya, Untuk notes cengeng sebagian teman2 cewek, memang kadang terasa risih dan “apa pentingnya”?..tp jd teringat bahwa permepuan memang lebih mengedepankan perasaan (dramatisasi) daripada rasionalitas (yaa..tergantung situasi). tapi sya percaya yang mereka keluhkan gak hanya cinta..dan bisa saja sesuatu yang membebani mereka sedikit terkurangi ketika ditulis.nah, tapi yang proporsional lah ya.
    (eit, tp terkadang juga ada yang mengeluh soal ruhani, tp dengan bahasa yang manja..hmm,) wallahu’alam.

  8. sekaralit mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  9. ‘ala kulli haal. Jazakillah khair atas apresiasi puisinya…
    Yang saya permasalahkan sebenarnya adalah Anda baru apresiasi dari terjemahan. Itu saja Anda sudah mengatakan demikian, apalagi kalau dari fon-fon Arabnya, wah…. dahsyat lho….
    Akan tetapi, telaah Anda itu sudah bagus sekali.
    Saya tidak mahir kok kalau menelaahnya dari sisi diksi dan stilistika, seperti yang dituliskan di atas.

    Dan lebih bagus lagi kalau analisis Anda dipertajam melalui prosodi dan lisensia poetika Arab (yaitu Arudh).

    Atau ada pembaca lain yang mau beri kajian dari sisi arudh… ?

  10. sekaralit mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  11. najw mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  12. Dullu, Nabi Ya’qub ketika tertimpa duka, hanya berujar..

    Innama asyku batstsi wa huzni ilallaah…

  13. mampir se’ mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  14. @ Mampir se’

    Maaf, komentar Anda satunya terhapus. Sebelumnya masuk spam, tetapi tidak sengaja terdelete, saya hanya baca sekilas (kalau Anda berkenan, komentar Anda yang satunya dituliskan lagi).
    Namun, dari sekilas yang kami baca, kami ucapkan Jazakillah khair atas peringatannya. Semoga Allah memperbaiki akhlak kami yang buruk ini.

    إِلَهِي لاَ تُعَذِّبْنِي فَإِنِّي .. مُقِرٌ بِالَّذِي قَدْ كاَنَ مِنِّي

    Ya Allah, janganlah Engkau siksa diriku
    Aku mengakui kesalahanku yang telah lalu

    Saya tidak tahu kalau sampai ada pembaca yang terkena begitu dalam dari syair yang saya kutip. Saya hanya melihat secara umum saja (bukan satu, dua, tiga orang, tetapi saya tidak mengatakan semua akhwat). Makanya, saya tulis “sebagian” mereka. Saya tidak kenal banyak akhwat ukh… Cuma heran saja kok di facebook ada notes-notes cengeng, juga di sebagian blog (tidak cuma satu ukh), itupun saya tidak mengenal mereka, bahkan lupa di URL-mana saja. Kalau Anda sampai sedalam itu, saya mohon maaf. Sebenarnya saya tidak tujukan kepada semua wanita.

    Mungkin, yang namanya wanita memang perasa (mungkin mampir se’ ini juga wanita). Saya tidak memungkiri kalau mungkin mereka lebih mendahulukan hati daripada akal. Wallahu a’lam. Namun, sebenarnya yang lebih baik adalah curahan hati itu tidak serta merta disampaikan di teman-teman akhwat. Alangkah lebih baik jika ia mengisi waktunya dengan melakukan hal-hal yang manfaat dibanding hanya curhat-kan isi hatinya kepada teman-teman akhwatnya yang lain mungkin justru mereka akan menyebarkan aibnya itu pada orang lain, tanpa mereka sadari.

    Kami katakan, Seandainya para muslimah itu mengikuti bagaimana para shahabiah dan wanita salaf dalam menjaga diri mereka, insya Allah lebih baik


    إذا أعجبت خصال امرئ … فكنه يكن ما يعجبك

    Jika ‘kau terkagum kagum pada perilaku seseorang…
    Pelajarilah perilaku itu hingga ‘kau berhasil menirunya…

    Sesungguhnya di mata kami, wanita yang tegas dan tidak lembek itu justru lebih baik. Sebagaimana dikatakan bahwa wanita mulia akan berkata kepada laki-laki…

    اخسئوا لأني مولة بالحق لست
    إلى سواه أنحو و لا في نصره أئنّ
    دعهم يعضوا على صمم الحصى
    كمدا من مات من غيظه منهم له كفن؟

    Menjauhlah kalian karena aku tergila-gila kepada kebenaran…
    Aku tidak mengikuti selain kebenaran…
    Dan aku tidak merintih dalam memperjuangkannya…

    Biarkanlah mereka (para laki-laki itu) menggigit ujung tongkat karena patah hati…
    Siapa yang mati di antara mereka karena amarahnya…
    Ia ‘kan disediakan kain kafan…

    Namun, kami beri catatan penting juga. Saat ini, dunia ini seperti terbalik. Terkadang, ada orang ingin memuliakan wanita, tetapi malah dianggap menghinakannya. Di tempat kami, beberapa shahabat muslim ada yang memiliki sikap tegas terhadap wanita, tidak sedikit yang menutup rapat-rapat pintu bagi yang bukan mahramnya. Namun, terkadang mereka ini malah dikatakan kaku dan kasar.

    Di kota kami tinggal saat ini (Yogya), tidak sedikit pula muslimah yang punya sifat tegas. Tidak sedikit di antara teman-teman di sini yang diberi peringatan dari muslimah sendiri untuk tidak bermudah-mudahn dalam berkomunikasi, meski dengan dalih ngurus kajian, atau kegiatan kampus seperti KKN atau sejenisnya.
    Kami (saya dan teman-teman ikhwan di sini) kira muslimah seperti itu yang lebih kami hormati daripada muslimah cengeng.

    Tidak sedikit teman-teman yang ditegur muslimah di sini (Yogya) dalam hal yang dianggap sepele oleh kemumuman anak muda, seperti sms di atas jam 8 malam, meski dengan dalih urusan mendesak. Kami justru bersyukur jika muslimah bisa bersikap seperti itu. Dan saya kira, kami (saya dan teman-teman penuntut ilmu yang lain) lebih menghormati muslimah yang tegas daripada muslimah yang lembek.

    Aneh memang, tetapi kenyataan demikian. Kami punya kawan yang “menyenangkan” diajak bicara dan ngaji bersama, tetapi sangat keras pada lawan jenis. Saya tidak tahu, namun barangkali frame teman2 muslimah kampusnya akan melihat dia keras pada wanita. Padahal, kawan kami tersbut adlah orang yang paling menyenangkan dan memang punya prinsip tidak akan memberikan bagian pada wanita di hatiya selain istrinya. Seolah-olah dia seperti yang disinggung Ibnul Qayyim (dalam Jawabul Kafi , hal 511)

    “Apa yang kamu perbuat sekiranya kamu mendapatkan pujaan hatimu?” Ia menjawab


    كنت أمتع طرفي بوجهه وأروح قلبي بذكره وحديثه واستر منه مالا أحب كشفه ولا أصير بقبح الفعل الى ما ينقض عهده ثم أنشد,

    “Aku akan menyenangkan mataku dengan memandangnya serta menenteramkan hatiku dengan menyebut-nyebut namanya dan berbincang-bincang dengannya. Aku akan menutupi bagian dirinya yang tidak ingin dia singkap dan aku tidak akan melakukan tindakan buruk sehingga menyebabkan keretakan hubungan.”

    Kawan-kawan kami tersebut itu pun, akhirnya memang dikenal sebagai orang yang kaku di hadapan teman kampusnya yang “tidak mengerti”.
    Saya ingin memberikan tambaan catatan pada Anda bahwa:

    “Mungkin di tempat Anda, akan Anda temui banyak ikhwan yang menyatakan siap berta’aruf. Akan tetapi, belum tentu di antara mereka, siap untuk menikah.

    Kalau yang diinginkan wanita agar laki-laki bersikap lembut adalah dengan bermudah-mudahan dalam bercengkerama dengan wanita di kantin-kantin, kafe, setia sebagai pendengar yang baik, atau tempat curahan hati di facebook, maka silakan wanita tersebut mencarinya di berbagai tempat di dunia ini. Insya Allah tersebar luas. Namun, barangkali mereka tidak mengerti masalah yang “serius” sama sekali.

    Sekitar setengah tahun yang lalu, Saya pernah bertanya kepada saudara muslim yang di wall FB-nya hanya berisi masalah wanita, istri, cinta dan sejenisnya. Namun ketika ditanya apa perbedaan anntara nafkah tamkiin dan nafkah tamliik, tidak bisa menjawab sama sekali… Padahal ini maslah yang sangat sederhana.
    Ada juga ditanya tentang masalah Hadits Ummu Zar’. Tidak tahu sama sekali, padahal mau nikah.
    Padahal, sebenarnya aib bagi seorang laki-laki muslim tidak tahu apa itu isi hadits Ummu Zar’ (saya harap Anda pun juga tahu karena juga berkaitan dengan wanita).

    Ini hanya beberapa contoh saja.
    Berapa banyak orang bicara cinta, nikah, kesetiaan, tetapi ia tidak tahu sama sekali “isinya” atau fiqh tentangnya.

    Makanya, kami lebih suka membicarakan wanita dalam majelis-majelis fiqh. Maka, teman-teman saya di sini pun yang dibilang telat nikah, malah ada yang sudah menguasai hal-hal khusus wanita seperti masalah darah wanita, hukum2 seputar wanita, dll. ini karena yang mereka pelajari bukan bagaimana bisa berta’aruf dengan akhwat, tetapi bagaimana mempelajari akhawat. Dan cukuplah petunjuk NAbi dan bimbingan salafushhalih dalam kitab-kitab mereka sebagi rujukan.

    Kawan-kawan kami yang seperti itu, dalam pandangan saya (menurut dzahir yang lihat, dan saya tidak menganggap suci seorang pun di hadapan Allah) adalah kawan-kawan yang memiliki akhlak yang baik, dan banyak memberi faidah ilmu dalam persahabat saya dengan mereka.

    Artikel-artikel yang dituangkan dalam blog ini pun sebenarnya banyak terinspirasi dari teman-teman.

    Maka, saran saya jika Anda pernah dikecewakan laki-laki, katakan saja:

    Menjauhlah kalian karena aku tergila-gila kepada kebenaran…
    Aku tidak mengikuti selain kebenaran…
    Dan aku tidak merintih dalam memperjuangkannya…
    Biarkanlah mereka menggigit ujung tongkat karena patah hati…

    Jadilah wanita yang tegas terhadap laki-laki ajnabi. Buatlah mereka patah hati! Jangan Anda yang dibuat patah hati!

    Harga diri Anda terlalu mulia jika Anda menjadi sengsara hanya karena laki-laki…
    Kalau tidak ingin dipermainkan dan ditipudaya laki-laki….
    Buatlah diri Anda mulia dan terhormat di hadapan mereka…
    Hingga mereka pun akan berkata

    تعلقت في دار الرباحي خريده … يذل لها من حسن منظرها البدر
    لها في بنات الروم حسن ومنظر … اذا افتخرت بالحسن عانقها الفخر


    Diriku tertambat di kediaman seorang wanita nan jelita…
    Purnama pun jadi hina karena keindahan parasnya..

    Di tengah-tengah wanita romawi kecantikannya tidak kalah…
    Jika ia berbangga, niscaya kebanggaan pun takut kepadanya…

  15. @ Mampir Se’

    Ketahuilah pula bahwa

    سيبقى لكم في مضمر القلب والحشا … سريرة حب يوم تبلى السرائر
    Rahasia cinta akan tetap langgeng di relung hati pemiliknya…
    Hingga hari ditampakkannya segala macam rahasia…

    [ كتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي karya Ibnul Qayyim hal 170]

    Maka, yang harus dicatat bahwa jangan sampai kesibukan hati terhadap lawan jenis sampai memalingkan hati Anda (dan juga kita semua) dari Allah yang lebih harus kita cintai. Jika cinta kepada Allah kita jadikan cinta yang pertama dan kita pegang teguh di hati kita, insya ketika hari ditampakan segala rahasia itu tiba, kita akan dicatat sebagai orang yang mencintai Allah. Wallahu a’lam.

  16. sekaralit mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  17. Susah memang kalau bicara dengan wanita. Terkadang, hal yang dianggap remeh dalam pembicaraan laki-laki, bisa besar menurut mereka. Cukuplah pesan Nabi bahwa kalian itu memang kaca yang mudah pecah. Mudah “muthung”-an.

    ارفق بقوارير

    ‘Lembutlah kamu kepada kaca-kaca

    Dalam kitab Fathul bari(X/545), dijelaskan bahwa

    wanita disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho, dan karena tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran), sebagaimana kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan.

    Tidak salah jika Syaikh Utsaimin (dalam Syarhul Mumti’, XII/385) menyifati mereka

    Sebuah kata yang Engkau ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang Engkau ucapkan, bisa menjadikannya dekat di sisimu.

  18. sekaralit mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  19. sekaralit mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  20. mampir se’ mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  21. kalau saudari, ibu, tante, adik, tante, dan wanita dalam keluarga saya bagaimana mungkin harus bersikap kasar pada mereka? kalau warga umum, yang ibu-ibu tua dan nenek-nenek masak mau dikasari juga?

    Atau anak muda yang tidak ngerti agama sama sekali, apa mau ditegasi juga?
    Faidah: Rasulullah bersikap lembut dengan pembesar Quraisy, bukan berarti Rasulullah memulikan mereka. Sebagaimana Rasulullah bersikap keras pada Usamah bin Zaid yang dalam perang membunuh musuh yang mengucapkan la ilaaha illallah, apakah ini menunjukkan Rasulullah membenci Usamah bin Zaid?

    CAmkan ini, keras terhadap seseorang belum tentu karena ia tidak memuliakannya. Bahkan, mungkin justru karena kecintaannya padanya

    Sebagaiamana kemarahan Rasulullah pada Usaman bin Zaid, padahal ia termasuk orang yang paling dicintainya…

    Dan sebagaimana teguran keras Nabi pada Aisyah yang mencela Shofiyyah (istri Nabi yang lain).

    Apakah sikap keras Nabi kepada Aisyah dan pembelaannya kepada Shofiyyah menunjukkan kebencian beliau kepadanya? Bahkan, kenyataannya kita pun tahu bahwa yang paling dicintai Nabi dari istri-istri beliau tetaplah Aisyah…

    Nah, Kalau kerasnya kami-kami sama Anda mungkin YA!!!

    Kalau calon istri…? maah… saya malah bilang pada Suami akhwat di tempat kami,

    “Kalau ada wanita akan menikah dengan saya, hal yang pertama kali saya ajukan adalah apakah Anda mau dipoligami? Saya tidak kan menikah dengan orang yang menolak poligami” Silakan disebarluaskan ^_^

    Dan tentu -kalau menyinggung calon istri- saya juga akan katakan,

    “Kamu tidak akan bebas seperti dulu lagi”
    “Kalau dulu bisa bebas lihat udara dan indahnya matahari…
    ‘kau kan lihat panci , piring, kamar mandi, lantai, dan tembok!

    Hmmm… Ngeri kan?

    Eits… Namun, saya tidak ingin ini dirahasiakan kok…
    Silakan disebar pada seluruh wanita di dunia ini kalau pemilik blog ini memang seperti di atas….
    Kalaupun Anda punya kenalan akhwat di kota kami (jogja), boleh juga diberitahukan pada mereka ^__^

    Calon istri beda dengaan istri mbak!
    Kalau sama istri, yang saya katakan

    خليلي إن الحب فيه لذاذة … وفيه شقاء دائم وكروب
    على ذاك ما عيش يطيب بغيره … ولا عيش إلا بالحبيب يطيب
    ولا خير في الدنيا بغير صبابة … ولا في نعيم ليس فيه حبيب

    Kekasihku, Sesungguhnya dalam cinta….
    Terdapat kelezatan, iringan kesengsaraan, dan juga kesusahan..
    Karena itu…
    Tidaklah hidup terasa nikmat dengan selainnya…
    Dan tidak ada kehidupan yang baik tanpa kekasih tercinta…
    Tidak ada kebaikan bagi dunia tanpa cinta…
    Dan tiada kenikmatan tanpa ada yang dicinta…

    Itu sama istri mbak!! Namun, sama calon istri (baca: wanita asing bukan mahram), Masak akan lembut-lembutan dengannya? Mungkin ikhwan lain bisa sih, tetapi TIDAK bagi saya (dan mungkin sebagian shahabat saya)!!!!

    ==========
    Sedang ada kajian di sini mbak. itu saja ya…!

    Namun, sebagai khotimah, saya hadiahkan puisi untuk Anda


    فما في الأرض أشقى من محب … وإن وجد الهوى حلو المذاق
    تراه باكيا في كل حين … مخافة فرقة أو لإشتياق
    فيبكي إن ناؤا شوقا إليهم … ويبكي إن دنو خوف الفراق
    فتسخن عينه عند الفراق … وتسخن عينه عند التلاق والعشق وإن استلذ به صاحبه فهو من أعظم عذاب القلب


    Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
    Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
    Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
    Karena takut berpisah atau karena rindu…

    Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
    Namun, bila kekasihnya dekat…
    Ia menangis karena takut berpisah…

    Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
    Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
    Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
    Namun, sebenarnya…
    Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…

    [ lihat dalam: كتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي , karya Ibnul Qayyim, hal. 151 ]

  22. HambaNya mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  23. SSS mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  24. SSS mengatakan:

    (Deleted by reevy)

  25. arput mengatakan:

    Menurut anda bagaimana cara belajar ilmu balaghah yang tepat? Agar bisa mudah memahami teori-teorinya dan menerapkannya pada analisis suatu naskah?
    Jazakumullahukhairan

  26. Wallahu a’lam.
    Saya pernah belajar balaghah, tetapi belum menguasainya hingga sekarang.
    Untuk menguasai balaghah, diharuskan mempunyai spektrum bacaan teks sastra Arab yang luas, sedangkan telaah saya terhadap teks2 sastra masih kurang.

  27. nuraini mengatakan:

    “Saling berwasiatlah kalian tentang wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka nasehatilah para wanita dengan baik.” (HR. Al-Bukhari)
    jazakallahu khairan atas nasehat yang sangat berharga ini, sebuah tamparan keras namun insya Allah meneguhkan hati…

  28. ummu zahra mengatakan:

    bismillah
    afwan, saya izin copas terutama di kolom komentar di atas, sebuah tamparan keras namun menyembuhkan insya ALLAH sangat bermanfaat bagi akhwat2 lainnya. jazakallahu khairan.

  29. penanya mengatakan:

    Bagaimana hukum belajar ilmu ‘arudh wa qawafi?
    Bukankah dalam ilmu tersebut, syair juga dilagukan tapi bukan seperti musik, lalu bagaimana bentuknya?

    Jazakumullahukhairan

  30. @ Penanya
    Sangat boleh belajar itu. Membaca syair Arab yg benar itu justru dg arudh dan qawafi. Jadi, memang ada iramanya ketika membaca syair.

    ——-

    dikopi dari : http://alashree.wordpress.com/2010/01/16/hubb-ibn-qayyim/

    Buat yang pengin tahu urutan komentar selengkapnya silakan langsung menuju ke TKP.

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s