Oleh
Syaikh Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad
http://almanhaj.or.id/content/3271/slash/0

Mengangkat kedua tangan dalam berdo’a kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, termasuk adab yang agung. Demikian terdapat di banyak hadits
yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian
ulama menggolongkannya ke dalam hadits mutawatir secara makna.

Di dalam Tadribur Rawi Syarh Taqrib Imam Nawawi, ketika mencontohkan
hadits-hadits yang mutawatir secara maknawi, Imam Suyuthi rahimahullah
berkata : ”Diriwayatkan dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sekitar seratus hadits berisi tentang do’a dengan mengangkat tangan.
Saya mengumpulkannya dalam satu juz tersendiri, namun dengan masalah
yang beragam. Memang dalam setiap masalah tersebut, haditsnya tidak
mutawatir. Namun bila dikumpulkan, maka menjadi mutawatir”. (2/180).

Di dalam kitab Shahih-nya, Imam Bukhari rahimahullah membuat bab
tentang mengangkat tangan dalam berdo’a. Dia membawakan beberapa
hadits, yaitu dari Abu Musa Al Asy’ari, dia berkata :

دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثمُ َّرَفَعَ
يَدَيْهِ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, kemudian mengangkat kedua
tangannya, sehingga aku melihat putih kedua ketiak Beliau. [1].

Hadits Ibnu Umar, dia berkata:

رَفَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ وَقَالَ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lantas
berdo’a, ”Wahai, Allah. Aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang
diperbuat Khalid (bin Walid).” [2]

Hadits Anas bin Malik, dari Nabi:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ
حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ

Bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya,
sehingga aku melihat putih kedua ketiaknya. [3]. .

Di dalam Syarah Bukhari (Fatthul Bari), Al Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah mengisyaratkan, bahwa hadits yang semakna dengan
hadits-hadits ini banyak sekali. Lalu ia menyebutkan sebagiannya,
diantaranya tentang hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

قَدِمَ الطُفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ دَوْسًا عَصَتْ
فَادْعُ اللهَ عَلَيْهَا فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ
فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا

Thufail bin ‘Amr Ad Dausi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam lalu berkata,”Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kabilah Daus
telah durhaka. Berdo’alah kepada Allah agar melaknat mereka,” maka
Beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, ”Wahai, Allah.
Berilah petunjuk kepada kabilah Daus.” (Hadits ini dikeluarkan Imam
Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dan termaktub pula dalam Shahihain
tanpa kalimat “mengangkat kedua tangannya”.[4].

Hadits Jabir bin Abdillah, bahwa Thuafil bin ‘Amr, hijrah lalu
mengisahkan laki-laki yang berhijrah bersamanya disebutkan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Wahai, Allah. Karena perbuatan
kedua tangannya, maka ampunilah dia,” lalu beliau mengangkat kedua
tangannya. Al Hafizh berkata: ”Sanadnya shahih.” Dikeluarkan juga oleh
Muslim.[5]

Hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia melihat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya: “Wahai,
Allah. Aku hanyalah manusia biasa …”.[6] Al Hafizh berkata,”Sanadnya
shahih.”

Selanjutnya, Al Hafizh berkata,”Diantara hadits-hadits shahih dalam
masalah ini, yaitu hadits yang dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam kitab
Juz Rof’ul Yadain: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengangkat kedua tangannya mendo’akan Utsman”[7]. Dikeluarkan pula
oleh Muslim dari hadits Abdurrahman bin Samurah dalam kisah gerhana:
“Aku (Abdurrahman) sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sedangkan Beliau berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya.”[8]

Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dalam kisah gerhana, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya.[9] Dari
‘Aisyah pula, ketika Rasulullah mendo’akan para sahabat yang dikubur
di Baqi, ”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua
tangannya tiga kali.”[10]

Dari hadits Abu Hurairah yang panjang dalam peristiwa fathu Makkah
disebutkan,”Beliau mengangkat kedua tangannya, kemudian mulai
berdo’a.”[11]

Hadits Abu Humaid dalam kisah Ibnu Lubtiyyah,”Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam lantas mengangkat kedua tangannya sampai kulihat
putih kedua ketiaknya, Beliau berucap,’Wahai, Allah. Bukankah aku
telah menyampaikan (risalah Mu)’.”[12]

Hadits Abdullah bin Amr: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyebutkan ucapan Nabi Ibrahim dan Nabi Isa, lantas mengangkat kedua
tangannya, (sembari) berucap: ‘Wahai, Allah. Umatku’.” [13]

Dalam hadits Umar Radhiyallahu anhu, disebutkan bahwa “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika turun wahyu kepadanya akan
terdengar dari dekat wajah Beliau seperti suara dengungan tawon. Suatu
hari wahyu turun kepada Beliau, kemudian rasa berat menerima wahyu
tersebut lenyap dari Beliau, lantas (Beliau) menghadap kiblat dan
berdo’a”. [14]

Hadits Usamah, ia berkata: ”Aku membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam di Arafah, lalu (Beliau) berdo`a dengan mengangkat kedua
tangannya. Untanya bergeser sehingga tali kekangnya terlepas, lalu
Beliau mengambil tali kekang itu dengan satu tangan, sedangkan tangan
yang lain tetap diangkat”[15].

Hadits Qois bin Sa’d, ia berkata: ”Kemudian Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sllam mengangkat kedua tangannya dan berdo’a,’Wahai, Allah.
Tumpahkanlah berkah dan rahmatMu kepada keluarga Sa’d bin
Ubadah’.[16]”

“Dan hadits dalam masalah ini sangat banyak,” demikian kata Al Hafizh
Ibnu Hajar. (Fathul Bari, 11/142). Al Hafizh telah meneliti secara
mendalam hadits-hadits yang memuat do`a dengan mengangkat tangan.
Diantara hadits yang shahih dalam masalah ini adalah hadits Salman Al
Farisi, Nabi bersabda :

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِّيٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا
رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهَا صُفْرًا

“Sesungguhnya Robb kalian itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, Dia merasa
malu kepada hamba Nya ketika hamba mengangkat tangannya kepadanya Dia
mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)”.[17]

Hadits-hadits ini beserta maknanya, menunjukkan bahwa mengangkat
tangan ketika berdo’a, termasuk adab berdo’a kepada Allah yang sangat
agung. Ini termasuk sebab-sebab dikabulkannya do’a. Sunnah Nabi juga
menunjukkan, bahwa mengangkat tangan dalam berdo’a memiliki tiga cara
yang berkaitan dengan isi do’a tersebut. Pertama, jika do’a tersebut
berupa permintaan yang benar-benar sangat dibutuhkan, memiliki cara
berdo’a tersendiri. Kedua, ketika do’a itu berisi permintaan, maka ada
caranya tersendiri. Ketiga, jika do’a itu berupa permintaan ampunan,
pentauhidan dan pujian, ini juga memiliki cara angkat tersendiri pula.

Ketiga cara mengangkat tangan ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas
secara marfu’ dan mauquf, yaitu : ”Jika berupa permohonan, maka
angkatlah tanganmu sejajar pundak atau serupa dengan itu. Jika
permohonan ampunan, hendaknya berisyarat dengan jari telunjuk saja.
Jika berupa permohonan mendesak, maka angkat kedua tangan”. Pada
redaksi lain (disebutkan): “Jika berupa pentauhidan, maka hendakanya
berisyarat dengan jari telunjuk. Jika berupa do’a (permintaan),
mengangkat tangan setinggi pundak. Dan jika berupa permohonan
mendesak, hendaknya mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi”.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya dan Ath Thabrani dalam
kitab Do`a, dan selain keduanya.[18]

Berkenaan dengan hadits ini, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid
berkata: Telah ada beberapa hadits dari perbuatan Nabi menjelaskan
kedudukan masing-masing dari tiga cara berdo’a ini. Cara do’a ini
bukan ikhtilaf tanawu’ (perbedaan cara yang masing-masing boleh
dilakukan karena tidak saling bertentangan, Pen). Penjelasaannya
sebagai berikut.

Pertama : Do’a Umum.
Dinamakan do’a permohonan, dan juga disebut do’a. Yaitu dengan
mengangkat kedua tangan setinggi pundak, atau sejajar dengannya. Kedua
telapak tangan dirapatkan. Bagian dalam telapak tangan dibentangkan ke
arah langit, dan punggung telapak tangan ke arah tanah. Jika ingin,
boleh juga menghadapkan kedua tangan ke arah wajah, sedangkan punggung
telapak tangan diarahkan ke kiblat. Inilah cara umum mengangkat tangan
ketika berdo’a secara mutlak; baik dalam do’a qunut, witir, meminta
hujan atau pada enam tempat ketika haji, yaitu di Arafah, Masy`ar
Haram, usai melempar Jumrah Sughra dan Wustha, ketika di atas bukit
Shofa dan Marwah, dan waktu-waktu lain.

Kedua : Do’a Memohon Ampunan.
Disebut pula do`a ikhlas, yaitu dengan mengangkat jari telunjuk tangan
kanan. Cara ini khusus ketika dzikir, do’a dalam khutbah di atas
mimbar, ketika tasyahud dalam shalat, ketika berdzikir, memuji dan
membaca la ilaha illallah di luar shalat.

Ketiga : Do’a Ibtihal.
Yaitu merendahkan diri kepada Allah dan permohonan yang sangat.
Disebut juga sebagai do’a rahb (permohonan). Caranya dengan mengangkat
kedua tangan ke arah langit sampai terlihat ketiaknya. Digambarkan
sampai kedua lengan atas terlihat karena mengangkat kedua tangan
tinggi-tinggi. Cara ini lebih khusus dibandingkan dengan dua cara di
muka. Cara ini juga dikhususukan ketika keadaan susah, permohonan yang
sangat –misalnya- ketika kekeringan, adanya musibah, dikuasai oleh
musuh dan keadaan susah lainnya.[19]

CARA MENGANGKAT TANGAN
Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik, Beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي الاِسْتِسْقَاءِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berdo’a dengan
mengangkat tangan, kecuali dalam isitisqa` (meminta hujan).[20]

Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama berpendapat bahwa mengangkat
tangan ketika berdo’a tidak disyari`atkan, kecuali hanya dalam do’a
istisqa’, do’a selainnya tidak disyari’atkan angkat tangan. Tetapi
hadits ini bertentangan dengan banyak hadits yang menunjukkan
disyari`atkannya mengangkat tangan selain isitisqa’. Oleh karena itu,
Syaikhul Islam berkata,”Yang benar adalah mengangkat tangan secara
mutlak. Cara ini telah disebutkan secara mutawatir dalam hadits-hadits
yang shahih, seperti: Thufail Ad Dausi mendatangi Nabi, lalu
berkata,’Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kabilah Daus telah durhaka,
laknatlah mereka.’ Maka Beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua
tangannya, ’Wahai, Allah. Berilah petunjuk kepada kabilah Daus, dan
datangkan mereka kepadaku’.”[21]

Dimuat dalam Shahih, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mendo’akan Abu `Amir, Beliau mengangkat kedua tangannya.[22]
Disebutkan dalam hadits ‘Aisyah: ”Ketika mendo’akan sahabat yang
dikuburkan di Baqi`, Beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali”.
[Diriwayatkan Muslim].[23]

Dalam hadits tersebut dikatakan, Beliau mengangkat kedua tangannya
lalu berdo’a, ”Umatku, umatku,” di akhir hadits: ”Allah berfirman
(artinya), Aku akan menjadikan umatmu ridha kepadamu dan Kami tidak
akan membuat kamu sedih”.[24]

Pada perang Badr, ketika melihat orang-orang musyrik, Beliau
Shallallahi ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dan mulai
memohon kepada Rabb-nya. Beliau terus-menerus memohon, sampai-sampai
selendangnya terjatuh dari pundak[25].

Dalam hadits Qois bin Sa’d dituturkan: Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengangkat kedua tangannya, lantas berdo’a,

الَّلهُمَّ اجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ

Wahai, Allah. Berikan berkah dan rahmatMu kepada keluarga Sa’d bin Ubadah.[26]

Ketika mengirimkan pasukan, dan Ali ikut serta, Beliau berdo’a,”Wahai,
Allah. Jangan matikan aku hingga aku melihat Ali.”[27] Di dalam hadits
qunut, Beliau juga mengangkat kedua tangannya [28].

Syaikhul Islam lantas menyebutkan hadits Anas di muka, bahwa Nabi
tidak pernah berdo’a dengan mengangkat tangan selain di dalam shalat
istisqa, kemudian berkata:

Pengkompromian antara hadits Anas ini dengan banyak hadits, (telah)
diutarakan oleh sebagian ulama, bahwa Anas menyebutkan angkat tangan
tinggi-tinggi sehingga ketiak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
terlihat dan badan Beliau membungkuk. Cara inilah, yang oleh Ibnu
Abbas dinamakan ibtihal (permohonan yang sangat). Ibnu Abbas merinci
cara berdo’a ini menjadi tiga macam. Pertama, isyarat dengan telunjuk,
seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
khutbah di atas mimbar. Kedua, do’a permohonan. Dengan mengangkat
kedua tangan sejajar pundak. Demikian ini termuat dalam banyak hadits.
Ketiga, ibtihal. Yaitu seperti yang dituturkan Anas. Oleh karena itu
Anas berkata,”Beliau mengangkat kedua tangannya sehingga nampak
ketiaknya.” [29] Cara do’a ini dengan mengangkat kedua tangan
tinggi-tinggi, menghadapkan bagian dalam telapak tangan mengarah ke
wajah dan tanah, sedangkan punggung tangan mengarah ke langit.
Penafsiran ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dalam
Kitab Marasilnya, dari hadits Abu Ayub Sulaiman bin Musa Ad Dimasqi
rahimahullah, dia berkata,”Tidak tercatat dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bila Beliau mengangkat kedua tangan, kecuali pada
tiga keadaan saja. (Yaitu) ketika meminta hujan (istisqa’), meminta
pertolongan, sore hari di Arafah. Selain (dari waktu-waktu) itu,
kadang kala mengangkat tangan, kadang kala tidak”[30]. Mungkin yang
dimaksud oleh Anas adalah ketika Beliau berkhutbah pada hari Jum`at,
seperti disebutkan di dalam Muslim dan selainnya: ”Beliau tidak
mengangkat tangan, kecuali jari telunjuk”[31]. Dalam masalah ini
didapati dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad. Pertama, disunnahkan.
Ini pendapat Ibnu Aqil. Kedua, tidak disunnahkan, bahkan makruh.
Pendapat ini lebih benar. [32] Demikian keterangan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, penyelarasan antara
hadits Anas dengan hadits-hadits lainnya yang menetapkan adanya
mengangkat tangan beserta maknanya. Bahwa yang dinafikan adalah cara
mengangkat tangan yang khusus, bukan cara mengangkat tangan itu
sendiri. Sebab, mengangkat tangan ketika do’a istisqa, berbeda dengan
do’a selainnya, seperti tangan diangkat tinggi sejajar wajah. Dan
ketika do’a permintaan (cara kedua, pen.), yaitu (dengan cara) tangan
diangkat sejajar pundak. Komproni ini jangan dipertentangkan dengan
kedua hadits tersebut, bahwa Beliau mengangkat tangan sehingga
terlihat putih ketiaknya. Namun bisa dikompromikan, bahwa terlihatnya
putih ketiak Beliau ketika do`a istisqa itu menandakan, bila
mengangkat tangan ketika istisqa lebih tinggi ketimbang mengangkat
tangan ketika berdo’a pada selainnya. Hal ini dikarenakan ketika
istisqa, kedua telapak tangan mengarah ke tanah, dan ketika berdo’a
dihadapkan ke langit. Al Mundziri berkata: ”Misalkan kompromi ini
tidak mungkin dilakukan, namun adanya mengangkat tangan dalam do’a ini
lebih rajih (kuat)”. Saya (Ibnu Hajar), mengatakan: ”Apalagi hadits
yang menetapkan adanya mengangkat tangan ini sangat banyak”. [Fathul
Bari, 11/142]

Dari uraian di muka, jelaslah bahwa mengangkat tangan dalam berdo’a
disyari`atkan, baik dalam istisqa, atau selainnya. Bahkan mengangkat
tangan termasuk sebab-sebab terkabulnya do’a, sebagaimana disebutkan
dalam hadits “Sesungguhnya Rabb kalian itu Maha Pemalu dan Maha Mulia.
Dia merasa malu kepada hambaNya, ketika hamba mengangkat tangannya
kepadaNya, Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak
dikabulkan).

Hanya saja, mengangkat tangan ketika istisqa itu lebih tinggi, karena
dalam keadaan susah dan merupakan permohonan yang sangat. Adapun
mengangkat tangan pada do’a selainnya, hanya setinggi pundak atau
sejajar dengannya, sebagaimana pengamalan dari hadits-hadits yang
telah disebutkan di awal.

Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik yang lain: ”Bahwa Nabi
melakukan do’a istisqa dan mengarahkan punggung telapak tangannya ke
langit”[33]. Dalam hadits ini terdapat isyarat adanya mengangkat
tangan tinggi-tinggi ketika paceklik dan ketika istisqa. Karena itu,
Syaikhul Islam berkata: ”Hal itu dikarenakan tangan diangkat
tinggi-tinggi, maka bagian dalam telapak tangannya mengarah ke bumi;
bukannya di sengaja, sebab ada riwayat yang menginformasikan bahwa
Beliau mengangkat kedua tangannya sejajar wajah”.

Syaikh Ibnu Utsamin rahimahullah berkata: Mengangkat tangan dalam
berdo`a ada tiga macam.

Pertama : Jika ada dalil untuk mengangkat tangan, maka disunnahkan
mengangkat tangan, seperti (halnya) do;a istisqa, do’a di Shafa dan
Marwah, di Arafah.

Kedua : Ada dalil, namun tidak menunjukkan (adanya) mengangkat tangan,
(maka tidak disyari`atkan mengangkat tangan, pen), seperti do’a di
dalam sholat, tasyahud akhir.

Ketiga : Tidak ada dalil yang menerangkan mengangkat tangan, atau
tidak mengangkat tangan, maka pada asalnya, hendaknya mengangkat
tangan; sebab (hal) itu termasuk adab berdo’a.[34]

Selain itu, mengangkat tangan ketika berdo’a mengandung sikap
ketundukkan, merendahkan diri, kepasrahan, ketenangan serta penampakan
sikap membutuhkan dan memerlukan kepada Rabb Yang Maha Mulia. Semua
ini menjadi sebab terkabulnya do’a.

As Safarini rahimahullah berkata : Ulama mengatakan, disyari’atkannya
mengangkat tangan ketika berdo’a hanyalah untuk menambah sikap
ketundukkan. Maka terkumpullah pada diri manusia suasana tunduk kala
beribadah. Selain itu, seringkali seorang hamba tidak kuasa untuk
menggugah hatinya dari kelalaian, sedangkan dia memiliki kekuatan
untuk menggerakkan tangan dan lisan. (Maka mengangkat tangan itu),
menjadi sarana menuju kekhusyu`an hati. Ulama mengatakan, gerakan
anggota badan menyebabkan kebahagiaan batin. Kondisi ini sebagaimana
mengangkat telunjuk ketika tasyahud dalam shalat. Dia mengumpulkan
hati, lisannya menerjemahkan dan gerakan badan mensucikannya.[35]

KESALAHAN MENGANGKAT TANGAN DALAM BERDO’A
Wajib bagi setiap muslim untuk bersemangat mengetahui petunjuk Nabi,
mengikuti langkahnya, menapaki manhajnya dan menjauhi cara-cara baru
yang dilakukan manusia dalam mengangkat tangan dan gerakan tangan
ketika berdo’a, yaitu cara-cara yang tidak berasal dari generasi
terbaik dan manusia paling sempurna do’a dan ketaatannya kepada Allah
dan RasulNya. Telah shahih datang dari Nabi, bahwa Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَأَلْتمُ ُاللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِبُطُوْنِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ
تَسْأَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا

Jika kalian memohon kepada Allah, maka mintalah dengan menghadapkan
telapak tangan bagian dalam kepadaNya, jangan menghadapkan punggung
telapak tangan.[36]

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan hadits-hadits Nabi
yang shahih dan komitmen dengannya. Sebab, petunjuk Beliau merupakan
petunjuk terbaik. Hindarilah sikap berlebih-lebihan dalam mengangkat
tangan ketika berdoa. Para salaf sangat menghindari menempatkan
cara-cara do’a tidak pada tempatnya; seperti mengangkat kedua tangan
ketika khutbah pada hari Jum’at, padahal bukan do’a istisqa.
Mengangkat kedua tangan dalam berdo’a disyari’atkan pada waktu
lainnya.

Muslim meriwayatkan dari ‘Umarah bin Ru’aibah, dia melihat Bisyr bin
Marwan mengangkat kedua tangannya ketika di atas mimbar. Maka ‘Umarah
berkata: ”Semoga Allah menjelekkan kedua tangan itu. Sungguh aku
pernah melihat Rasulullah tidak lebih dari sekedar mengangkat
tangannya begini,” lalu ia mengisyaratkan dengan jari telunjuk”[37].

Lalu bagaimanakah jadinya dengan orang yang membuat cara baru dalam
mengangkat tangan, atau gerakan yang tidak ada dasarnya? Siapa saja
yang mencermati keadaan orang-orang yang berdo’a, niscaya akan melihat
cara mereka yang aneh-aneh [38].

Diantara keanehan itu, ada sebagian orang yang menurunkan tangannya di
bawah pusar atau sejajar pusar, dengan direnggangkan atau dirapatkan.
Jelas, ini merupakan bukti dari ketidakpedulian dan sedikitnya
perhatian terhadap masalah ini. Sebagian lain mengangkat tangan dengan
direnggangkan. Ujung jari-jari mengarah kiblat, tapi kedua ibu jari
mengarah ke langit. Ini jelas menyelisihi petunjuk Nabi pada hadits di
muka: Jika kalian memohon kepada Allah, maka mintalah dengan
menghadapkan telapak tangan bagian dalam kepadaNya. Yang lain,
mengangkat kedua tangannya dengan membalikkannya ke berbagai arah,
atau berdiri dengan menggerakkannya dengan gerakan yang
bermacam-macam. Sementara yang lain, jika berdo’a atau sebelum berdo’a
mengusapkan satu tangan ke tangan yang lain, atau mengibaskan
tangannya atau gerakan serupa lainnya. Lainnya lagi, usai mengangkat
tangan lantas menciumnya; yang demikian ini tidak ada asalnya.

Kesalahan lain, usai berdo’a mengusapkan kedua tangan ke wajahnya.
Sifat ini memang terdapat dalam sebagian hadits, hanya saja tidak
shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Banyak
sekali hadits shahih yang menginformasikan bahwa Nabi mengangkat
tangan ketika berdo’a. Namun mengusap wajah usai berdo’a tidak
diriwayatkan dari Beliau, kecuali hanya ada satu atau dua hadits,
tetapi tidak bisa dijadikan hujjah”[39]. Cara baru lainnya, yaitu
mencium dua ibu jari, lantas diletakkan pada dua mata ketika muadzin
menyebut nama Nabi atau di waktu lain. Cara ini memang terdapat dalam
hadits, namun batil, tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
, dengan redaksi ”Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan
‘Selamat datang, wahai kecintaanku dan penyejuk kedua mataku, Muhammad
bin Abdillah,’ lantas, mencium ibu jarinya, lalu meletakkannya pada
matanya, maka mata itu selamanya tidak akan buta dan tidak sakit”.
Banyak ulama yang menyatakan hadits ini batil, tidak sah berasal dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [40].

Dan termasuk khayalan orang-orang sufi, sebagian mereka menyandarkan
ucapan hadits batil ini kepada Khidhir Alaihissallam [41]. Termasuk
bid’ah pula, yaitu sebagian orang merapatkan jari-jari tangan
kanannya, lantas diletakkan pada mata kanannya dan tangan kirinya pada
mata kiri dengan diiringi bacaan (Al Qur’an, pen) atau do’a.

Cara lain lagi yang tidak shahih, sebagian orang berdo’a dengan
meletakkan tangan di kepala usai salam. Sandaran mereka ialah hadits
Anas, dia berkata: ”Adalah Nabi, usai menunaikan shalat Beliau
mengusap jidatnya dengan tangan kanan, lalu berdo’a :

بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ
اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْغَمَّ وَالْحَزَنَ

Dengan menyebut nama Allah yang tiada ilah yang berhak disembah,
kecuali Dia, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya, Allah. Hilangkan
kegundahan dan kesedihanku”. [Diriwayatkan Thabrani di kitab Al Ausath
dan Al Bazzar, namun tidak shahih] .[42]

Kesalahan dalam berdo’a, sebagian orang yang shalat kadang-kadang
mengisyaratkan kedua jari telunjuknya ketika tasyahud. Diriwayatkan
dalam hadits shahih:

أَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ عَلَى إِنْسَانٍ يَدْعُوْ وَهُوَ يُشِسْرُ
بأُصْبُعَيْهِ السَّبَابَتَيْنِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحِّدْ أَحِّدْ

Nabi melewati seseorang yang berdo’a, dia berisyarat dengan kedua jari
telunjuknya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata,”Satu saja, satu saja!” [Diriwayatkan Tirmidzi] [43].

Penyimpangan lain, sebagian orang berdo’a mengangkat tangan pada waktu
tertentu tanpa didasari dalil syar’i, seperti mengangkat tangan
setelah iqomat untuk shalat, (yang dilakukan) sebelum takbiratul ihram
atau setelah salam dari shalat wajib secara bersama-sama atau
sendiri-sendiri.

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahulah berkata:
”Sejauh pengetahuan saya, hadits yang menyebutkan Nabi berdo’a dengan
mengangkat tangan usai shalat wajib, tidaklah shahih; tidak shahih
pula dari para sahabat Nabi. Adapun yang dilakukan sebagian orang itu
adalah bid’ah, tidak ada dasarnya”[44]. Kesalahan lain, yaitu
mengangkat tangan dalam berdo’a usai sujud tilawah, ketika melihat
bulan dan waktu lainnya.

Kesimpulannya, waktu-waktu yang ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam masih hidup, namun Beliau tidak mengangkat tangan dalam berdo’a
ketika itu, maka tidak dibolehkan untuk mengangkat tangan. Sebab,
perbuatan Beliau adalah sunnah, amalan yang ditinggalkan juga sunnah
(untuk ditinggalkan). Beliau adalah tauladan yang baik dalam amalan
yang akan datang dan yang telah lalu. Wajib mendasarkan amalan kepada
apa-apa yang dibawa Nabi, dan meninggalkan yang Beliau tinggalkan.

(Dinukil dari Fiqhul Ad`iyyah Wal Adzkar, Syaikh Dr. Abdur Razzaq bin
Abdul Muhsin Al Abbad, 2/172-197, oleh Abu Nu`aim Al Atsari)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Bukhari 7/198, secara mua’laq.
[2]. Bukhari 7/198, secara mua’laq.
[3]. Bukhari, no. 6.341.
[4]. Adabul Mufrad, no. 611. Lihat Shahih Bukhari, no. 2.937.
[5]. Adabul Mufrad, no. 614; Muslim, no. 116 tanpa kalimat “mengangkat
kedua tangan”.
[6]. Adabul Mufrad, no. 613.
[7]. Adabul Mufrad, no. 157.
[8]. Adabul Mufrad, no. 913.
[9]. Muslim, 901.
[10]. Muslim, 974.
[11]. Muslim, 1.780.
[12]. Bukhari, 2.597; Muslim, 1.832.
[13]. Muslim, 202.
[14]. Tirmidzi, 3.173 dan ini lafadznya; Nasa`i dalam Sunan Kubra,
1.439; Al Hakim dalam Mustadrak, 2/392. Nasa’i berkata,”Ini hadits
mungkar. Aku tidak mengetahui ada yang meriwayatkannya selain Yunus
bin Sulaim. Dan Yunus ini, aku tidak mengetahui siapa dia. Allahu
a’lam.”
[15]. Nasa’i dalam Sunan Kubra, 4.007 dan Sughra, 5/254 dengan sanad jayyid.
[16]. Abu Dawud, 5.185, dengan sanad jayyid. Al Albani menyebutkannya
dalam Dha’if Sunan Abu Dawud, no. 1.111.
[17]. Abu Dawud, 1.488; Tirmidzi, 3.556, dishahihkan Al Albani dalam
Shahih Jami’, no. 1.753.
[18]. Abu Dawud, 1.489, 1.490; At Thabrani, 208. Dishahihkan oleh Al
Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1.321, 1.322, 1.324, baik
secara mauquf ataupun marfu`.
[19]. Tashihud Du’a, hlm. 116-117.
[20]. Shahih Bukhari, no. 1.031; Muslim, 895.
[21]. Adabul Mufrad, no. 611. Disebutkan pula dalam Shahih Bukhari,
2.937 tanpa kalimat “mengangkat kedua tangan”.
[22]. Bukhari, no. 4.323; Muslim, 2.498.
[23]. Muslim, no. 974.
[24]. Muslim, no. 202.
[25]. Muslim, no. 1.763.
[26]. Abu Dawud, no. 5.185. Al Albani menyebutkannya dalam Dha’if
Sunan Abu Dawud, no. 1.111.
[27]. Tirmidzi, 3.737. Al Albani menyebutkan dalam Dha’if Sunan
Tirmidzi, no. 781.
[28]. Musnad, 3/137; Baihaqi dalam Sunan Kubra, 2/211 dari Anas bin Malik.
[29]. Bukhari, no. 1.030 dan 1.031.
[30]. Al Marasil, no. 148.
[31]. Lihat Muslim, no. 874.
[32]. Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad, oleh As Safarini 1/653-654.
[33]. Muslim, no. 896.
[34]. Liqo’, Bab Maftuh, hlm. 17-18, secara ringkas.
[35]. Lihat Syarah Tsulatsiyat Musnad, 1/655-656.
[36]. Abu Dawud, no. 1486. Dishahihkan Al Albani di dalam Shahihah, no. 595.
[37]. Muslim, 874.
[38]. Lihat Tashihud Du’a, Syaikh Bakr Abu Zaid, hlm. 126-129.
[49]. Fatawa, 22/519. Lihat Bab Mengusap Wajah Usai Berdo’a, karya
Syaikh Bakr Abu Zaid.
[40]. Lihat Al Fawa’id Al Majmu’ah Fil Ahaditsil Maudhu’ah, hlm. 20.
[41]. Lihat Lasyful Khafa, oleh Al Ajluni, 2/270.
[42]. Mu’jam Ausath, no. 2.499.
[43]. Tirmidzi, no. 3.557. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan
Tirmidzi no. 282.
[44]. Majmu Fatawa, 11/184

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s