DSCF8365Oleh :

SURYANA,  Widyaiswara
Program Studi Survey dan Pemetaan, Departemen Bangunan, PPPPTK BOE Malang

 

Abstrak

Pengukuran dan pematokan (setting out/stake out) gedung sistem koordinat adalah salah satu sistem yang dapat dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan gedung,  pada pelaksanaan pengukuran dan pematokan dengan menerapkan sistem ini harus berdasarkan data ukuran panjang dan lebar yang akurat sesuai dengan  dokumen gambar kerja (gambar rencana, gambar denah ruang dan gambar denah pondasi). 

Pengukuran dan pematokan sistem koordinat hanya dapat diterapkan pada bangunan gedung, bloking dan kavling perumahan dengan bentuk ruang siku-siku. Untuk  menerapkan sistem koordinat, alat ukur ruang yang digunakan  adalah teodolit manual, teodolit digital atau teodolit total station (TS) dengan ketelitian bacaan sudut satuan detik, pada pelaksanaan sistem ini juru ukur dapat melakukan pekerjaan pengukuran dan pematokan titik-titik as gedung sesuai dengan ukuran yang ada pada gambar kerja.

Tahap awal sistem pengukuran dan pematokan ini adalah menghitung terlebih dahulu jarak miring dan sudut datarnya setiap titik as gedung, untuk menghasilkan data hitungan yang akurat setiap titik as dihitung minimal 2 kali dan setiap titik as harus diberi notasi sesuai gambar kerja dan sajikan hasil hitungan dalam tabel  dengan benar, hasil hitungan dan penyajian data pada tabel yang salah akan mengakibatkan kesalahan pada hasil pengukuran titik as gedung di lapangan, dengan sekali berdiri teodolit pada patok tetap (Bench Mark) sebagai referensi dapat melaksanakan pengkuran dan pematokan semua titik as gedung yang direncanakan disesuaikan dengan kemampuan jarak bidik minimum dan maksimum teodolit serta panjang maksimum roll meter/pita ukur digunakan.

Hasil pengukuran dan pematokan panjang, lebar dan kesikuan gedung dengan  sistem koordinat dapat dicek kebenaranya dengan cara mengukur panjang sisi diagonal, jika ukuran panjang sisi diagonalnya sudah sama maka hasil pengukuran dan pematokan sudah benar.

Kata kunci : Pematokan, Gedung, Sistem Koordinat

 

A.    Pendahuluan

Pengukuran dan pematokan (setting out/stake out) adalah pekerjaan tahap awal dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi,  sebelum malaksanakan pengukuran dan pematokan juru ukur perlu menyiapkan dokumen gambar kerja (gambar rencana, gambar denah ruang dan gambar denah pondasi). Pada pengukuran dan pematokan bangunan gedung serta bloking dan kavling perumahan dengan bentuk ruang siku siku dapat dipergunakan 2 (dua) cara yaitu dengan cara menerapkan rumus  Phytagoras untuk menghitung  panjang sisi segitiga. Pada umumnya untuk membuat kesikuan gedung di lapangan menggunakan perbandingan sisi segitiga dengan ukuran  sisi segitiga 60 cm: 80 cm : 100 cm,  3 m: 4 m : 5 m, 6 m: 8 m : 10 m dsb, pada cara ini menggunakan alat ukur jarak datar  pita ukur baja panjang 30 m atau 50 m dengan ketelitian bacaan mm. Selain cara sederhana pada pengukuran dan pematokan dapat juga menerapkan  sistem koordinat, alat yang digunakan pada cara ini adalah teodolit manual, teodolit digital atau teodolit total station (TS) dengan ketelitian bacaan sudut satuan detik, pada pelaksanaan sistem ini juru ukur dapat melakukan  pekerjaan pengukuran dan pematokan titik-titik as sesuai data ukuran yang ada pada gambar denah ruang yang sudah dihitung jarak dan sudut datarnya, dengan sekali berdiri teodolit pada patok tetap sebagai referensi dapat melaksanakan pengukuran dan pematokan semua titik as gedung sesuai kemampuan  jarak bidik minimum dan maksimum teodolit.

 

  1. Garis Sempadan (Rooi)

Pada pekerjaan pengukuran dan pematokan garis sempadan (Rooi) bangunan dan titk tetap (benchmark)harus sesuai persyaratan  yang ditentukan dan  bekerjasamadengan instansi yang terkait, pada awal pekerjaan pengukuran dan pematokan.

 

  1. Datum Utama Dan Sekunder.
  2. Sebagai ketinggian (level) referensi, patok tetap yang ada di lapangan digunakan sebagaireferensi atau pedoman. Patok permanen dibuat dari beton dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi sesuai dengan persyaratan, ditempatkan pada daerah aman serta diikat dan ditandai dengan teliti, Patoktetap referensi harus dijaga sampai akhir pelaksanaan pekerjaan pembangunan. Patoktetap referensi inimerupakan referensi semua pengukuran dan pematokan gedung (jarak dan sudut datar serta koordinat).
  3. Pengukuran titik dan level lainnya dikerjakan secara teliti menggunakan alatsipat datar (Waterpass) dan theodolite yang telah dikalibrasi.
  4. Kontraktor harus memberitahu pengawas secara tertulis setiapketidaksesuaian antara gambar dan kondisi site dan jika menemui keraguan atas data patoktetap referensi.
  5. Kontraktor bertanggung-jawab atas semua hasil pengukuran. Pengawasan olehpengawas resmi tidak melepaskan tanggung jawab kontraktor.

 

  1. Papan Referensi Elevasi
  2. Papan referensi bangunan dibuat dari kayu dan dipasang dengan kokoh dan akurat pada posisinya.
  3. Tanda referensi bangunan dibuat dari kayu dengan ukuran lebarminimum 150 mm dan tebal 20 mm.
  4. Referensi elevasi bangunan sama dengan datum utama, kecuali ditentukanlain.
  5. Setelah selesai pemasangan referensi bangunan, kontraktor harusmelaporkan kepada pengawas untuk inspeksi dan persetujuan.
  6. Semua tanda yang menunjukan as dan elevasi harus dibuat dari cat terangdan tahan cuaca, menggunakan simbol standard yang disetujui pengawas.

 

  1. Pengukuran Site
  2. Kontraktor harus memulai pekerjaan berpedoman pada as utama dan asreferensi seperti yang terlihat pada rencana tapak dan bertanggung jawab penuh atashasil pengukuran.
  3. Kontraktor harus menyediakan material, alat dan tenaga kerja, termasuk juruukur yang berpengalaman, dan setiap saat diperlukan harus siap mengadakanpengukuran ulang.
  4. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk melindungi dan memeliharapatok tetap utama selama pekerjaan pembangunan. Kontraktor bertanggung jawabuntuk memelihara patok sekunder dilapangan dengan jumlah dan posisi sesuaipengarahan pengawas.

 

  1. Tahapan-tahapan Pematokan dan Pengukuran

Tahapan-tahapan pengukuran dan pengukuran yang harus dilakukan oleh juru ukur dalam menerapkan sistem ini adalah sebagai berikut:

  1. Meginterpretasi data dan informasi yang disajikan pada gambar kerja (gambar site plan, denah ruang dan pondasi).
  2. Menghitung jarak datar dan sudut datar setiap as gedung sesuai gambar kerja.
  3. Menyajikan hasil hitungan dalam bentuk tabel.
  4. Menentukan garis sempadan ( Rooi ) bangunan sesuai gambar rencana (site plan)
  5. Menentukan basis ukur sebagai pedoman pengukuran jarak dan sudut datar .
  6. Menentukan setiap as bangunan gedung sesuai jarak dan sudut datar yang telah dihitung.
  7. Mengontrol kesikuan dan jarak datar sesuai data ukuran yang tersedia pada gambar denah ruang dan pondasi
  8. Menghitung kebutuhan bahan konstruksi bowplank.
  9. Memasang patok bowplank menerus sesuai bentuk dan ukuran gedung
  10. Menentukan peil lantai ( ± 0.00 )
  11. Memindah as ukuran gedung pada konstruksi bowplank
  12. Mengontrol kesikuan dan jarak sesuai denah ruang dan pondasi

 

  1. Perhitungan Jarak dan Sudut  Datar As Gedung

Pada pelaksanaan   pengukuran dan pematokan  sistem koordinat, perhitungan jarak dan besaran sudut datar sisi miring setiap as gedung berdasarkan data dan informasi yang disajikan pada  gambar denah ruang dan pondasi harus dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan kalkulator atau komputer  dengan aplikasi exel proses perhitungan harus dilaksanakan minimum dua kali agar menghasilkan data ukuran jarak dan sudut datar yang akurat, hasil hitungan jarak dan sudut datar disajikan mulai besaran sudut datar terkecil sampai dengan besaran sudut datar terbesar sesuai putaran teodolit searah jarum jam dalam bentuk tabel agar memudahkan  dalam pelaksanaan   pengukuran dan pematokan. jika hasil hitungan dan penyajian jarak dan sudut datar pada tabel salah maka akan mengakibatkan kesalahan juga pada hasil pelaksanaan pengukuran dan pematokan, pada setiap titik as gedung diberi  notasi angka susuai gambar denah ruang dan pondasi dan buatlah  garis ukur dari titik tempat berdiri teodolit ke setiap titik as gedung. Tulislah data dan spesifikasi kalkulator atau komputer yang dipergunakan pada tabel dan lakukan pengontrolan hasil perhitungan akhir sebelum data hitungan dipergunakan pada pekerjaan pematokan.

 

  1. Alat dan Bahan :
  2. Alat
  • Kalkulator/komputer1 buah
  • Gambar denah ruang dan pondasi     1 exp
  • Alat tulis1 buah
  1. Bahan
  • Kertas A4                        3 lembar

 

  1. Langkah Kerja :
  2. Menyiapkan gambar denah ruang dan pondasi
  3. Menyiapkan peralatan dan bahan
  4. Menyiapkan tabel hitung
  5. Menentukan garis ukur dan garis sempadan
  6. Menghitung jarak dan sudut datar setiap titik as gedung
  7. Menyajikan hasil hitungan dalam bentuk tabulasi.

 

  1. Cara Kerja
  2. Buatlah arah garis ukur dari titik tempatberdiri teodolit ( PT ) ke setiap titik as gedung  1,2,3…dst, lihat gambar di bawah
  3. Berilah notasi angka pada setiap tiik as gedung sesuai putaran besaran sudut pada gambar denah ruang dan pondasi lihat gambar 1 di bawah

 

Gambar 1

 

  1. Dengan cara yang sama, hitunglah jarak dan besaran sudut datar semua titik as gedung sesuai gambar denah pondasi dan ruang.
  2. Sajikan hasil hitungan jarak dan besaran sudut datar semua titik as gedung sesuai gambar denah pondasi dan ruang dalam bentuk tabel lihat contoh tabel di bawah.

 

Tabel Perhitungan Titik As Gedung

Nama                                     :

Nama Proyek                                    :

No. Kalkulator/Komputer    :

No.Teodolit                            :

No.PPD                                 :

No. Tempat Pesawat No. Target Besaran  Sudut       datar  (b) Jarak

Sisi Miring 

(m)

Keterangan

TP T 0° 0´0   Garis Ukur Referensi
1 15° 15´18.43″ 11,401 Patok Bowplank
2 ……………. ……………. As Gedung
5 ……………. ……………. Patok Bowplank
3 ……………. ……………. As Gedung
6 ……………. ……………. As Gedung
dst ……………. ……………. dst

 

  1. A. Pengukuran dan Pematokan As Gedung

Pengukuran dan pematokan as gedung dilaksanakan  sesudah data hasil hitungan jarak dan besaran sudut datar selesai, berdasarkan data dan informasi pada gambar rencana, gambar denah ruang, gambar pondasi dan tabulasi data hasil hitungan yang sudah benar. Alat dan bahan, keselamatan kerja, cara kerja dan langkah kerja diuraikan sebagai berikut:

 

  1. Alat dan Bahan :
  2. Alat
  • Teodolit (Manual, Digital, Total Station)1 buah
  • Statif                    1 buah
  • Rol meter ( 30 m )                     1 buah
  • Yalon                      2 buah
  • Trifoot                                1 buah
  • Nivo Kotak                    1 buah
  • Meteran Lipat1 buah
  • Alas tulis1 buah
  • Palu besi 1 kg1 buah
  • Payung1 buah
  1. Bahan
  • Gambar kerja
  • Tabel data hasil hitungan
  • Kayu 2 x 3 x 30 cmsesuai jumlah titik as gedung
  • Paku payung sesuai jumlah titik as gedung

 

  1. Langkah Kerja :
  2. Menyiapkan gambar kerja
  3. Menyiapkan peralatan dan bahan
  4. Menyiapkan tabel hasil hitungan
  5. Menentukan sempadan bangunan
  6. Menentukan setiap as gedung

 

  1. Cara Kerja :
  2. Tentukangaris sempadan (lihat gambar dibawah) sesuai ukuran pada gambar kerja (gambar site plan, denah ruang, denah pondasi)

        Gambar 2

  1. Tentukangaris ukur  (garis referensi ) sesuai dengan jarak yang direncanakan.
  2. Setel Teodolit di atas titik tetap( PT ) sehingga siap dioperasikan
  3. Setel besaran sudut datar pada posisi 0° 0 0″ kemudian arahkan teropong teodolitketitik tetap target (T ).
  4. Putar teodolit searah jarum jam dan setel besaran sudut titik as no.1 sesuai hasil hitungan, serta kunci teodolit jika bacaan bearan sudut datar sudah benar.
  5. Ukur jarak datar sisi miring dari titik tetap PT ke titik as no.1 sesuai hasil hitungan dan arah teropong teodolit.
  6. Rubah obyek titik as sesuaiisyarat yang diberikan oleh si pengukur sudut , jika ukuran sudut dan jarak belum tepat.
  7. Tancapkan patok dengan kokoh jika ukuran sudut dan jarak sudah tepat
  8. Pasang paku di atas patok , jika ukuran sudut dan jarak sudah tepat
  9. Berilah notasi angka dengan warna merah pada patok sesuai tabel data
  10. Dengan cara yang sama , kerjakan semua titik as gedung sesuai gambar denah pondasi dan ruang yang sudah dihitung.
  11. Kontrol jarak dan kesikuan jika sudah membentuk ruang.

 

  1. Pemasangan Bowplank

Pekerjaan pemasangan bowplank biasanya dilakukan bersamaan atau setelah pekerjaan pengukurandilakukan. Pemasangan Bouwplank (Pematokan) dilaksanakan bersama-sama olehPihak Proyek, Perencana Pengawas, Pelaksana dan dibuat Berita AcaraPematokan.

Bowplank terbuat dari kayu papan yang bagian atasnya rata dan dipakukan pada patok kayu persegi ukuran 5/7cm yang tertanam di dalam tanah dengan  kuat dan tegak. Untuk menentukan ketinggian papanbouwplank agar datar(Level) bagian atasnya, papan bowplank harus diukur menggunakan alat sipat datar (waterpass), sedangkan untuk mengukur dari titik As ke As antar ruangan digunakan meteran.Setiap titik pengukuran ditandai dengan paku dan dicat dengan cat merah dan ditulisukuran pada papan bouwplank agar mudah di cek kembali. Pemasangan papan bowplankdilaksanakan pada jarak 1,5 m dari As  gedung dan dipasang sekeliling  bangunan dan dipakukan pada patok (Konstruksi bowplank menerus),sesuai bentuk dan ukuran gedung.

 

  1. Alat dan Bahan
  2. Alat :
  • Teodolit TL – 6DE1 buah
  • Statif           1 buah
  • Rol meter ( 30 m )1 buah
  • Levelling1 buah
  • Baak Ukur1 buah
  • Nivo Kotak1 buah
  • Meteran Lipat1 buah
  • Alas tulis1 buah
  • Palu besi 1 kg1 buah
  • Palu besi 5 kg1 buah
  • Payung            1 buah
  1. Bahan :
  • Gambar kerja
  • Tabel data hasil hitungan
  • Kayu 2 x 3 x 3 cmsesuai jumlah titik as gedung
  • Paku usuk            sesuai jumlah titik as gedung
  • Benang snur            1 rol
  • Kapur tulis warna merah

 

  1. Langkah Kerja :
  2. Menyiapkan gambar kerja
  3. Menyiapkan peralatan dan bahan
  4. Menyiapkan tabel hasil hitungan
  5. Menentukan sempadan bangunan
  6. Menentukan setiap as gedung
  7. Menentukan Konstruksi bowplank

 

  1. Cara Kerja :
  2. Tancapkan patok dengan kokoh dan tegak setiap panjang 2 m atau disesuaikan dengan panjang papan lihat gambar 3 di bawah.

 

Gambar 3

b  Tentukan peil lantai ± 0,000  pada setiap patok bowplank dengan menggunakan AlatSipat Datar (Waterpass) lihat gambar 4 di bawah..

Gambar 4

  1. Pasang papan bowplank pada patok bowplank yang sudah ditandai (marking).
  2. Dengan cara yang sama pasang bowplank secara menerus,lihat gambar 5di bawah

 

 

 

Gambar 5

  1. Pidahkan setiap as gedung keatas papan bowplank dengan menggunakan teodolit.
  2. Pasanglah paku dan dan tanda paring warna merah di bawah paku pada setiap as gedung lihat gambar 6 di bawah.           .

Gambar 6

  1. Tarik benang dari as ke as yang ada di atas patok bowplank.
  2. Kontrol ukuran dan kesikuan ruang yang sudah dipindah di atas bowplank.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Markus Gerig, Vermesungskunde und Feldmessen Fur das Baugewerbe, SKBU Zurich, 1984.
  2. Soetomo Wongsotjitro, Ilmu Ukur Tanah, Kanisius, Yogyakarta, 1980.
  3. W. Schofield, Engineering Surveying 2, Second Edition, London, 1984.
  4. Ir. M. Yusuf Gayo dkk , Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan, PT Pradinya Paramita, Jakarta, 1994.
  5. Ir. Indra Simarga, M. Surv. Sc, Pengukuran dan Pemetaan Pekerjaan Konstruksi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1997.
  6. Russel Brinker, Paul Wolf, Djoko Walijatun, Dasar-dasar Pengukuran Tanah ( Surveying ), Erlangga, Jakarta, 1993
  7. S G Brighty, Setting Out A Gide For Site Engineers, Granada, London, 1982

 

Disalin dari : http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/departemen-bangunan-30/888-setting-out

About Abu Abdirrohman

Abu Abdirrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s